Konten dari Pengguna

Ekonomi Perhatian di Era Algoritma : Budaya FOMO dan Doomscrolling

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Prasthama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Budaya Fomo & Doomscrolling ilustrasi generated By AI
zoom-in-whitePerbesar
Budaya Fomo & Doomscrolling ilustrasi generated By AI

Ketika Media Sosial Tidak Lagi Menjadi Saluran Komunikasi, tetapi Arena Perebutan Atensi Publik

Setiap pagi, jutaan masyarakat Indonesia memulai hari dengan membuka media sosial. Instagram, TikTok, X, Facebook, hingga berbagai portal berita menjadi pintu pertama untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Dalam hitungan menit, pengguna disuguhi ratusan informasi, mulai dari kabar teman, promosi produk, isu politik, hiburan, hingga peristiwa global. Aktivitas tersebut tampak sederhana, tetapi sesungguhnya memperlihatkan perubahan besar dalam cara masyarakat berkomunikasi di era digital.

Media sosial kini tidak lagi berfungsi hanya sebagai media penyampai pesan. Platform digital telah berkembang menjadi ruang yang mengatur bagaimana informasi diproduksi, disebarkan, diprioritaskan, bahkan dikonsumsi oleh masyarakat. Dalam konteks ini, perhatian (attention) menjadi komoditas yang diperebutkan oleh berbagai aktor, mulai dari perusahaan teknologi, media massa, pemerintah, pelaku bisnis, hingga pembuat konten.

Laporan Digital 2026 Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 230 juta pengguna internet atau sekitar 80,5% dari total populasi, dengan sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial atau 62,9% dari populasi. Besarnya jumlah pengguna tersebut menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi infrastruktur komunikasi utama masyarakat Indonesia. Namun, tingginya intensitas penggunaan juga membawa konsekuensi terhadap cara masyarakat memproses informasi, membangun opini, dan mengambil keputusan.

Dari Komunikasi Menuju Ekonomi Perhatian

Dalam kajian komunikasi kontemporer, perhatian publik tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang muncul secara alami, melainkan sebagai sumber daya yang diperebutkan. Konsep Attention Economy yang diperkenalkan oleh Herbert A. Simon menjelaskan bahwa ketika informasi tersedia dalam jumlah melimpah, sumber daya yang justru menjadi langka adalah perhatian manusia.

Kondisi tersebut sangat terlihat pada media sosial. Setiap platform bersaing mempertahankan pengguna selama mungkin melalui sistem rekomendasi yang dirancang berdasarkan perilaku digital. Semakin lama seseorang bertahan di platform, semakin besar peluang munculnya iklan, peningkatan engagement, serta keuntungan ekonomi bagi perusahaan teknologi.

Dalam perspektif Ilmu Komunikasi, fenomena ini menunjukkan bahwa proses komunikasi tidak lagi sekadar melibatkan pengirim pesan (sender), pesan (message), dan penerima (receiver). Algoritma kini berperan sebagai aktor komunikasi yang menentukan pesan mana yang akan memperoleh perhatian publik.

Algoritma sebagai Gatekeeper Baru

Jika dahulu media massa memiliki editor yang menentukan berita mana yang layak dipublikasikan, kini fungsi tersebut banyak diambil alih oleh algoritma.

Algoritma media sosial bekerja dengan menganalisis berbagai jejak digital pengguna, seperti durasi menonton video, jumlah klik, komentar, hingga jenis konten yang sering dibagikan. Berdasarkan data tersebut, sistem secara otomatis memilih informasi yang dianggap paling mampu mempertahankan perhatian pengguna.

Fenomena ini menunjukkan transformasi konsep Gatekeeping Theory. Dalam media konvensional, proses penyaringan informasi dilakukan oleh wartawan dan redaktur. Di era media digital, proses tersebut semakin didominasi oleh sistem otomatis berbasis kecerdasan buatan.

Akibatnya, masyarakat tidak selalu memperoleh informasi yang paling penting, melainkan informasi yang paling berpotensi menghasilkan interaksi.

Mengapa Konten Negatif Lebih Mudah Viral?

Salah satu konsekuensi dari ekonomi perhatian adalah kecenderungan platform mengutamakan konten yang memunculkan respons emosional tinggi.

Penelitian komunikasi digital menunjukkan bahwa emosi seperti kemarahan, ketakutan, rasa penasaran, dan konflik memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh interaksi dibandingkan informasi yang bersifat netral. Inilah sebabnya berita mengenai konflik politik, kriminalitas, bencana, hingga kontroversi selebriti sering mendominasi lini masa.

Dalam konteks komunikasi massa, kondisi tersebut dapat dipahami melalui Agenda Setting Theory. Media tidak selalu menentukan apa yang harus dipikirkan masyarakat, tetapi mampu menentukan isu apa yang dianggap penting untuk dipikirkan.

Pada media sosial, proses agenda setting tidak lagi hanya dijalankan oleh organisasi media, melainkan juga oleh algoritma platform yang secara terus-menerus memilih isu dengan tingkat engagement tertinggi.

FOMO dan Doomscrolling sebagai Produk Sistem Komunikasi Digital

Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dan doomscrolling selama ini sering dijelaskan sebagai persoalan psikologis individu. Namun, dari perspektif komunikasi, keduanya juga dapat dipahami sebagai konsekuensi dari desain komunikasi platform digital.

FOMO muncul karena media sosial menciptakan persepsi bahwa selalu ada informasi baru yang penting untuk diketahui. Sementara itu, doomscrolling berkembang karena algoritma terus merekomendasikan berita yang mampu mempertahankan perhatian pengguna, terutama konten yang memicu emosi negatif.

Dengan demikian, perilaku pengguna bukan hanya dipengaruhi oleh kebutuhan pribadi, tetapi juga oleh struktur komunikasi digital yang sengaja dirancang agar interaksi berlangsung selama mungkin.

Ketika Algoritma Membentuk Realitas Sosial

Dalam perspektif Media Ecology Theory yang dikembangkan oleh Marshall McLuhan, media bukan sekadar alat penyampai pesan, melainkan lingkungan yang membentuk cara manusia berpikir dan berinteraksi.

Di era media sosial, realitas yang diterima masyarakat semakin dipersonalisasi. Dua orang yang berada di tempat yang sama dapat memperoleh informasi yang sangat berbeda karena algoritma menyusun lini masa berdasarkan riwayat aktivitas masing-masing.

Fenomena ini menghasilkan ruang komunikasi yang semakin terfragmentasi. Pengalaman sosial tidak lagi dibentuk oleh informasi yang sama, melainkan oleh realitas digital yang berbeda-beda pada setiap individu.

Tantangan Baru bagi Ilmu Komunikasi

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa tantangan Ilmu Komunikasi saat ini tidak lagi hanya membahas efektivitas penyampaian pesan. Yang lebih penting adalah memahami bagaimana teknologi komunikasi memengaruhi distribusi informasi, pembentukan opini publik, hingga perilaku masyarakat.

Pertanyaan penelitian pun berkembang, dari yang sebelumnya berfokus pada "bagaimana media digunakan", menjadi "bagaimana algoritma mengonstruksi pengalaman komunikasi masyarakat".

Kajian mengenai komunikasi algoritmik, ekonomi perhatian, gatekeeping digital, serta tata kelola platform menjadi semakin relevan untuk menjelaskan dinamika komunikasi di era digital.

Media sosial telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, membangun relasi sosial, dan memahami realitas. Dalam ekosistem digital saat ini, perhatian menjadi komoditas utama yang diperebutkan melalui desain algoritma yang semakin canggih.

Fenomena seperti FOMO, doomscrolling, dan kelelahan digital bukan sekadar persoalan individu, melainkan bagian dari struktur komunikasi digital yang dibentuk oleh logika ekonomi platform. Oleh karena itu, tantangan terbesar bukan hanya meningkatkan literasi digital masyarakat, tetapi juga mengembangkan kajian komunikasi yang mampu mengkritisi relasi antara teknologi, algoritma, kekuasaan, dan perilaku komunikasi.

Fenomena ini membuka ruang penelitian yang lebih luas, seperti komunikasi algoritmik, ekonomi politik media digital, tata kelola platform, komunikasi data, hingga etika kecerdasan buatan. Dengan demikian, Ilmu Komunikasi tidak hanya menjelaskan bagaimana pesan diproduksi dan diterima, tetapi juga mengungkap bagaimana infrastruktur digital membentuk perhatian, makna, dan kehidupan sosial masyarakat kontemporer.