Konten dari Pengguna

Finance Bukan Sekadar Angka, tapi Juga Seni Berkomunikasi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Prasthama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Generated By Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Generated By Gemini AI

Di tengah pesatnya transformasi digital, profesi finance mengalami perubahan yang sangat signifikan. Jika dahulu seorang profesional finance identik dengan aktivitas menghitung, mencatat transaksi, dan menyusun laporan keuangan, kini perannya berkembang menjadi mitra strategis yang mendukung pengambilan keputusan bisnis. Perubahan ini membawa satu konsekuensi penting: kemampuan mengolah angka saja tidak lagi cukup. Seorang profesional finance juga harus mampu mengkomunikasikan makna di balik angka tersebut.

Laporan keuangan pada dasarnya hanyalah kumpulan data. Nilai strategisnya baru muncul ketika informasi tersebut dapat dipahami oleh para pengambil keputusan. Dengan kata lain, keberhasilan divisi finance tidak hanya ditentukan oleh akurasi angka, tetapi juga oleh efektivitas komunikasi.

Angka Tidak Pernah Berbicara Sendiri

Dalam ilmu komunikasi, Model Komunikasi Shannon dan Weaver menjelaskan bahwa komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari pengirim kepada penerima melalui suatu saluran yang dapat terganggu oleh noise atau hambatan komunikasi.

Konsep ini sangat relevan dalam dunia finance. Laporan keuangan merupakan sebuah pesan (message), sementara manajemen, investor, maupun divisi lain adalah penerima pesan (receiver). Permasalahan muncul ketika pesan tersebut dipenuhi istilah teknis, disampaikan tanpa konteks, atau tidak mampu menjawab kebutuhan penerima informasi. Akibatnya, terjadi noise yang membuat makna laporan tidak tersampaikan secara utuh.

Misalnya, seorang finance hanya menyampaikan bahwa "operating expense meningkat 18 persen dibandingkan bulan sebelumnya." Informasi tersebut memang benar, tetapi belum tentu dipahami oleh manajer operasional. Akan jauh lebih efektif apabila dijelaskan bahwa kenaikan tersebut dipengaruhi oleh peningkatan biaya distribusi dan lembur produksi, sehingga apabila tidak dikendalikan, target efisiensi perusahaan pada kuartal berikutnya berpotensi tidak tercapai.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa komunikasi bukan sekadar menyampaikan data, melainkan membantu orang lain memahami makna data.

Ketika Data Menjadi Dasar Keputusan

Pakar komunikasi Harold D. Lasswell merumuskan komunikasi melalui pertanyaan sederhana: Who says What in Which Channel to Whom with What Effect?

Bagi seorang profesional finance, pertanyaan terakhir, yaitu "with what effect", menjadi bagian yang paling penting. Sebuah laporan keuangan tidak dibuat hanya untuk dibaca, tetapi untuk menghasilkan tindakan.

Artinya, laporan keuangan harus mampu mendorong keputusan, seperti pengendalian biaya, penyesuaian strategi bisnis, efisiensi operasional, atau pengelolaan risiko.

Di sinilah komunikasi berperan sebagai penghubung antara data dan tindakan. Angka yang akurat akan kehilangan nilainya apabila tidak mampu memengaruhi proses pengambilan keputusan.

Tantangan Menjelaskan Laporan kepada Non-Finance

Salah satu tantangan terbesar profesional finance adalah menjelaskan informasi kepada pihak yang tidak memiliki latar belakang akuntansi atau keuangan.

Banyak istilah seperti cash flow, accrual, gross margin, aging receivable, atau variance analysis yang sangat dipahami oleh divisi finance, tetapi belum tentu dipahami oleh divisi pemasaran, operasional, maupun sumber daya manusia.

Dalam perspektif Teori Difusi Inovasi dari Everett M. Rogers, suatu informasi akan lebih mudah diterima apabila disampaikan sesuai dengan karakteristik penerimanya. Prinsip ini juga berlaku dalam komunikasi organisasi.

Seorang finance yang mampu menerjemahkan istilah teknis menjadi bahasa bisnis yang sederhana akan lebih mudah membangun pemahaman lintas divisi. Misalnya, dibandingkan hanya mengatakan bahwa cash flow sedang negatif, penjelasan seperti "perusahaan perlu menunda beberapa pengeluaran agar operasional tetap berjalan lancar sampai penerimaan pelanggan masuk" jauh lebih mudah dipahami oleh seluruh pihak.

Kemampuan menyederhanakan informasi bukan berarti mengurangi kualitas analisis, melainkan meningkatkan efektivitas komunikasi.

Miskomunikasi Bisa Menjadi Kerugian Finansial

Banyak kerugian perusahaan justru berawal dari komunikasi yang kurang efektif, bukan karena kesalahan perhitungan.

Kesalahan nominal pembayaran, keterlambatan pelunasan vendor, duplikasi pembayaran, keterlambatan pengajuan anggaran, hingga kesalahan interpretasi kontrak sering kali disebabkan oleh informasi yang tidak tersampaikan dengan baik.

Dalam perspektif Komunikasi Organisasi menurut Karl Weick, organisasi membangun makna (sense making) melalui proses komunikasi yang berlangsung terus-menerus. Ketika informasi yang diterima setiap divisi berbeda atau tidak lengkap, keputusan yang dihasilkan pun dapat berbeda sehingga memunculkan risiko operasional maupun finansial.

Oleh karena itu, komunikasi menjadi bagian dari sistem pengendalian internal perusahaan, bukan sekadar aktivitas administratif.

Pelajaran dari Kasus Nyata

Transformasi digital membuat perusahaan semakin bergantung pada sistem Enterprise Resource Planning (ERP), dashboard keuangan, hingga teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI). Namun, teknologi secanggih apa pun tetap membutuhkan komunikasi manusia.

Sebagai contoh, dalam beberapa tahun terakhir banyak perusahaan melakukan efisiensi melalui digitalisasi proses keuangan. Tidak sedikit implementasi sistem baru mengalami kendala bukan karena teknologinya buruk, melainkan karena komunikasi perubahan kepada karyawan tidak berjalan efektif.

Ketika divisi finance tidak menjelaskan perubahan prosedur persetujuan pembayaran, jadwal penutupan buku (closing), atau alur pengajuan anggaran secara jelas, muncul kebingungan di berbagai unit kerja. Dampaknya dapat berupa keterlambatan pembayaran vendor, dokumen yang tertahan, hingga terganggunya operasional perusahaan.

Fenomena serupa juga terlihat pada maraknya kasus Business Email Compromise (BEC), yaitu penipuan melalui email yang menyamar sebagai pimpinan perusahaan atau mitra bisnis untuk meminta transfer dana ke rekening tertentu. Banyak organisasi menjadi korban bukan karena lemahnya kemampuan menghitung, tetapi karena kurangnya komunikasi internal mengenai prosedur verifikasi pembayaran dan keamanan informasi.

Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa risiko keuangan tidak hanya berasal dari kesalahan angka, tetapi juga dari kegagalan komunikasi.

Finance Masa Depan Membutuhkan Komunikator yang Andal

Laporan dari berbagai lembaga global menunjukkan bahwa otomatisasi dan AI akan mengambil alih banyak pekerjaan administratif di bidang keuangan. Namun, kemampuan yang sulit digantikan teknologi adalah kemampuan berpikir kritis, membangun hubungan, bernegosiasi, serta mengkomunikasikan informasi secara persuasif.

Karena itu, profesional finance masa depan tidak cukup hanya menguasai akuntansi, perpajakan, atau aplikasi keuangan. Mereka juga perlu memiliki kemampuan komunikasi interpersonal, presentasi, kolaborasi lintas divisi, hingga data storytelling agar mampu mengubah angka menjadi wawasan yang mudah dipahami.

Pada akhirnya, profesi finance bukan hanya tentang memastikan setiap angka tersusun dengan benar, tetapi juga memastikan setiap angka dipahami dengan benar.

Komunikasi menjadikan laporan keuangan tidak sekadar dokumen administratif, melainkan alat strategis yang membantu organisasi mengambil keputusan secara tepat.

Di era bisnis yang semakin kompleks, profesional finance dituntut menjadi penerjemah data, mitra strategis, sekaligus komunikator yang mampu membangun kepercayaan. Sebab, angka dapat menunjukkan kondisi perusahaan, tetapi komunikasi yang baik menentukan bagaimana perusahaan merespons kondisi tersebut.

Maka, ketika berbicara tentang masa depan profesi finance, pertanyaannya bukan lagi "seberapa mahir seseorang mengolah angka?", melainkan "seberapa baik ia mampu mengubah angka menjadi pemahaman, kolaborasi, dan keputusan yang bernilai bagi organisasi."