Gaji Besar Bukan Lagi Satu-Satunya Alasan Gen Z Bertahan di Perusahaan

I am a Bachelor of Communication Science graduate with a concentration in Broadcasting and a student of Magister Communication Science of Nasional University
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Prasthama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dulu, banyak orang menganggap gaji adalah alasan utama seseorang bertahan di sebuah perusahaan.
Namun, cara pandang terhadap pekerjaan mulai berubah.
Bagi banyak pekerja muda, khususnya Gen Z, pertanyaan tentang pekerjaan bukan lagi hanya:
“Berapa gajinya?”
Tetapi juga:
“Apakah saya bisa berkembang di sini?”
“Apakah pekerjaan ini membuat hidup saya lebih baik?”
“Apakah lingkungan kerjanya sehat?”
“Ke mana karier saya akan berkembang?”
Bukan Berarti Gaji Tidak Penting
Perlu diluruskan: Gen Z tetap membutuhkan gaji yang layak.
Bahkan, kondisi ekonomi saat ini membuat kompensasi dan keamanan kerja tetap menjadi faktor penting. PwC dalam Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 menemukan bahwa keamanan kerja dan kompensasi masih menjadi motivator utama pekerja. Di Indonesia, 49% responden melaporkan mengalami tekanan finansial, sementara 41% mengalami kelelahan kerja.
Artinya, persoalannya bukan “gaji tidak penting”.
Persoalannya adalah gaji saja tidak selalu cukup untuk membuat seseorang bertahan.
1. Work-Life Balance Mulai Menjadi Pertimbangan
Pekerjaan adalah bagian dari kehidupan, bukan seluruh kehidupan.
Gen Z cenderung melihat apakah pekerjaan memberikan ruang untuk keluarga, kesehatan, kehidupan sosial, maupun pengembangan diri.
Work-life balance bukan berarti ingin bekerja lebih sedikit.
Justru, yang dicari adalah bekerja secara produktif tanpa kehilangan kualitas hidup.
Jika seseorang mendapatkan gaji tinggi tetapi setiap hari mengalami tekanan, tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri, dan terus-menerus merasa burnout, maka muncul pertanyaan sederhana:
“Apakah gaji tersebut sepadan dengan kehidupan yang saya korbankan?”
2. Career Growth: Bukan Hanya Naik Gaji
Karyawan juga ingin tahu masa depan mereka.
Mereka ingin mengetahui:
Skill apa yang bisa dipelajari?
Apakah ada kesempatan promosi?
Apakah perusahaan menyediakan pelatihan?
Apakah atasan memberikan feedback?
Apakah ada jalur karier yang jelas?
PwC menemukan bahwa perusahaan perlu menciptakan skill pathways dan mobilitas karier yang lebih jelas agar pekerja dapat terus berkembang. Di Indonesia, 64% pekerja non-manajer mengatakan mereka memiliki akses terhadap sumber daya pembelajaran, tetapi akses tersebut masih lebih tinggi pada level manajerial.
Karena itu, perusahaan yang hanya berkata “kerja dulu, nanti juga berkembang” mungkin tidak lagi cukup.
Karyawan ingin melihat bagaimana mereka bisa berkembang.
3. Lingkungan Kerja Bisa Menentukan Seseorang Bertahan
Gaji bisa membuat seseorang menerima pekerjaan.
Tetapi lingkungan kerja sering kali menentukan apakah seseorang bertahan.
Atasan yang tidak komunikatif, budaya saling menyalahkan, micromanagement, kurangnya apresiasi, atau komunikasi yang buruk dapat membuat pekerjaan dengan gaji tinggi terasa tidak lagi menarik.
Sebaliknya, lingkungan yang memberikan kepercayaan, ruang berpendapat, dan kesempatan belajar dapat meningkatkan keterikatan karyawan.
Dalam survei PwC 2025, motivasi pekerja berkaitan erat dengan kepercayaan, pengembangan skill, makna pekerjaan, keselarasan dengan tujuan organisasi, dan psychological safety.
4. Makna Pekerjaan Juga Semakin Dipertanyakan
Gen Z tidak selalu mencari pekerjaan yang “sempurna”.
Namun mereka ingin memahami:
“Untuk apa saya melakukan pekerjaan ini?”
Ketika seseorang memahami kontribusinya terhadap perusahaan, pelanggan, atau masyarakat, pekerjaan dapat terasa lebih bermakna.
Ini berkaitan dengan konsep Job Characteristics Model dari Hackman dan Oldham.
Teori ini menjelaskan bahwa motivasi kerja dapat tumbuh ketika seseorang merasakan adanya:
skill variety, task identity, task significance, autonomy, dan feedback.
Sederhananya:
Orang akan lebih termotivasi ketika mereka merasa pekerjaannya berarti, memiliki ruang untuk berkontribusi, dan mendapatkan umpan balik atas pekerjaannya.
Studi Kasus Singkat
Bayangkan dua perusahaan menawarkan posisi yang sama.
Perusahaan A:
Gaji Rp8 juta, tetapi lembur tidak jelas, atasan sering melakukan micromanagement, dan tidak ada jalur pengembangan karier.
Perusahaan B:
Gaji Rp7 juta, tetapi memiliki jam kerja lebih teratur, atasan terbuka terhadap diskusi, tersedia pelatihan, serta memiliki jalur karier yang jelas.
Bagi sebagian pekerja, Perusahaan A mungkin terlihat lebih menarik di awal.
Namun setelah satu atau dua tahun, Perusahaan B bisa menjadi pilihan yang lebih kuat karena memberikan pertumbuhan, keseimbangan, dan lingkungan kerja yang sehat.
Inilah perubahan cara melihat pekerjaan.
Jadi, Apa yang Harus Dilakukan Perusahaan?
Perusahaan tidak harus memberikan gaji paling tinggi di pasar.
Tetapi perusahaan perlu memberikan total employee experience yang baik.
Mulai dari:
Gaji yang adil + lingkungan yang sehat + career growth + komunikasi yang terbuka + work-life balance + pekerjaan yang bermakna.
Deloitte dalam 2026 Gen Z and Millennial Survey juga menunjukkan bahwa tekanan finansial menjadi isu penting bagi generasi muda; lebih dari separuh Gen Z dan milenial yang disurvei mengatakan kondisi finansial membuat mereka menunda keputusan besar dalam hidup.
Karena itu, perusahaan juga perlu memahami bahwa kebutuhan karyawan tidak bisa disederhanakan menjadi:
“Gen Z tidak loyal.”
Bisa jadi mereka bukan tidak loyal.
Mereka hanya lebih berani bertanya:
“Apakah perusahaan ini juga memberikan alasan bagi saya untuk bertahan?”
Pada akhirnya, retensi karyawan bukan hanya tentang berapa besar perusahaan membayar seseorang, tetapi tentang seberapa besar perusahaan memberikan alasan untuk tetap tinggal.
Gaji membuat seseorang datang.
Tetapi budaya, pertumbuhan, keseimbangan, dan makna pekerjaanlah yang dapat membuat seseorang memilih untuk bertahan.
