Konten dari Pengguna

Healing atau Belanja? Ketika Self-Care Perempuan Berubah Menjadi Komoditas

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Prasthama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Healing yang Dijual Generated By AI
zoom-in-whitePerbesar
Healing yang Dijual Generated By AI

Di tengah tingginya tekanan hidup masyarakat urban, istilah healing menjadi salah satu kata yang paling sering muncul di media sosial Indonesia. Hampir setiap akhir pekan, lini masa Instagram, TikTok, hingga X dipenuhi unggahan tentang staycation, menikmati kopi di kafe estetik, berlibur ke destinasi wisata, menjalani perawatan kulit, spa, hingga menikmati gaya hidup mewah yang diberi label sebagai bentuk "self-care". Fenomena ini berkembang begitu cepat hingga menciptakan persepsi baru bahwa proses pemulihan diri harus diwujudkan melalui aktivitas konsumtif yang dapat dipamerkan kepada publik.

Bagi perempuan, narasi healing menjadi semakin dominan. Berbagai konten digital membangun citra bahwa perempuan yang mampu mencintai dirinya adalah perempuan yang rutin membeli skincare, mengunjungi tempat-tempat estetik, bepergian ke luar kota, atau menikmati pengalaman premium. Pertanyaannya, apakah healing masih merupakan kebutuhan psikologis untuk memulihkan kesehatan mental, atau telah berubah menjadi komoditas yang dikonstruksi oleh media sosial dan kapitalisme digital?

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena media sosial tidak lagi sekadar menjadi ruang komunikasi, melainkan arena produksi makna yang membentuk cara individu memahami kebahagiaan, identitas, bahkan kesehatan mental.

Healing dalam Budaya Digital: Dari Kebutuhan Menjadi Tren

Pada dasarnya, konsep healing berasal dari upaya memulihkan kondisi psikologis maupun emosional setelah mengalami tekanan hidup. Dalam kajian psikologi, proses penyembuhan tidak selalu membutuhkan biaya besar. Beristirahat, berbicara dengan keluarga, menikmati alam, membaca buku, beribadah, atau sekadar memiliki waktu untuk diri sendiri juga merupakan bentuk self-care.

Namun media sosial menghadirkan definisi yang berbeda. Algoritma platform lebih sering memperlihatkan konten visual yang menarik secara estetis. Akibatnya, publik lebih mudah mengasosiasikan healing dengan aktivitas yang memiliki nilai visual tinggi dan layak diunggah.

Di sinilah terjadi perubahan makna. Healing tidak lagi dipahami sebagai proses internal, melainkan sebagai pengalaman yang harus terlihat. Pengalaman emosional berubah menjadi pengalaman visual. Validasi sosial pun menjadi bagian dari proses penyembuhan itu sendiri.

Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana media digital tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga membentuk standar budaya baru mengenai bagaimana seseorang seharusnya "bahagia".

Ketika Healing Menjadi Simulasi: Perspektif Jean Baudrillard

Pemikiran Jean Baudrillard memberikan penjelasan yang sangat relevan terhadap fenomena ini. Baudrillard berpendapat bahwa masyarakat modern hidup dalam dunia simulasi (simulation) dan hyperreality, yaitu kondisi ketika tanda dan citra lebih penting daripada realitas itu sendiri.

Dalam konteks media sosial, seseorang tidak lagi membeli kopi karena membutuhkan kopi, tetapi membeli pengalaman estetik yang dapat dipublikasikan. Tidak hanya menginap di hotel, tetapi membeli citra bahwa dirinya sedang "menyembuhkan diri". Yang dikonsumsi bukan lagi barang, melainkan simbol.

Foto seseorang sedang menikmati matahari terbenam di Bali dengan secangkir kopi bukan sekadar dokumentasi perjalanan. Foto tersebut merepresentasikan simbol kebebasan, kesuksesan, ketenangan hidup, dan kemampuan finansial. Simbol inilah yang kemudian dikonsumsi oleh pengguna media sosial lainnya.

Akhirnya, healing menjadi sebuah simulasi. Yang dipertontonkan bukan proses pemulihan mental, melainkan representasi visual mengenai bagaimana seseorang seharusnya tampak ketika sedang "baik-baik saja".

Media sosial menciptakan hyperreality, yaitu realitas baru yang sering kali lebih dipercaya dibandingkan kehidupan sebenarnya. Publik kemudian menganggap bahwa seseorang yang sering bepergian pasti bahagia, padahal kondisi psikologis seseorang tidak pernah sesederhana yang ditampilkan melalui layar.

Konsumsi Emosi dalam Perspektif Eva Illouz

Fenomena tersebut juga dapat dibaca melalui teori Eva Illouz mengenai emotional capitalism. Illouz menjelaskan bahwa kapitalisme modern tidak hanya menjual produk, tetapi juga menjual emosi.

Saat ini, industri kecantikan, pariwisata, wellness, dan gaya hidup tidak lagi sekadar menawarkan barang atau jasa. Mereka menjual perasaan.

Sebuah produk skincare tidak hanya dijual sebagai pelembap wajah, tetapi sebagai jalan menuju rasa percaya diri. Paket wisata tidak hanya menawarkan perjalanan, tetapi menjanjikan kebebasan dari stres. Spa dijual bukan hanya sebagai layanan relaksasi, melainkan sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.

Melalui media sosial, emosi menjadi komoditas ekonomi.

Influencer kemudian berperan sebagai agen budaya yang memproduksi narasi bahwa kebahagiaan dapat dibeli. Algoritma memperkuat narasi tersebut dengan terus menampilkan konten serupa kepada pengguna yang memiliki minat yang sama.

Akibatnya, perempuan bukan hanya menjadi konsumen produk, tetapi juga menjadi konsumen harapan bahwa pembelian berikutnya akan membuat hidup menjadi lebih tenang dan lebih bermakna.

Identitas Cair dan Tekanan untuk Selalu Bahagia

Sementara itu, Zygmunt Bauman melalui konsep Liquid Modernity menjelaskan bahwa masyarakat modern hidup dalam kondisi yang serba cair. Identitas tidak lagi stabil, melainkan terus berubah mengikuti tren sosial.

Media sosial mempercepat proses tersebut.

Hari ini seseorang merasa perlu mengikuti tren solo traveling. Besok muncul tren healing retreat. Minggu depan muncul tren pilates, matcha lifestyle, atau morning routine. Semua terus berubah mengikuti logika algoritma.

Dalam kondisi demikian, perempuan sering kali mengalami tekanan sosial yang halus tetapi kuat. Mereka merasa harus terus tampil produktif, cantik, bahagia, sehat secara mental, dan memiliki gaya hidup estetik.

Ironisnya, tekanan tersebut justru dapat menghasilkan kecemasan baru.

Alih-alih menyembuhkan diri, seseorang menjadi lelah karena merasa harus terus mengikuti standar healing yang diproduksi media sosial.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kapitalisme digital berhasil mengubah kebutuhan psikologis menjadi kebutuhan konsumsi.

Perempuan dalam Lingkaran Kapitalisme Digital

Perempuan menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap konstruksi budaya ini karena sejak lama tubuh, kecantikan, dan emosi perempuan telah menjadi objek industri.

Media sosial memperluas praktik tersebut melalui algoritma.

Konten bertema "self-love", "glow up", "soft life", "clean girl aesthetic", hingga "healing era" sering kali dikemas sebagai bentuk pemberdayaan perempuan. Namun dalam praktiknya, sebagian konten tersebut justru memperkuat logika konsumsi.

Perempuan didorong untuk terus membeli demi menjadi versi terbaik dirinya.

Jika sebelumnya industri menjual standar kecantikan, kini industri juga menjual standar kebahagiaan.

Kondisi ini menunjukkan bagaimana kapitalisme digital bekerja secara sangat halus. Ia tidak memaksa masyarakat membeli, tetapi membangun keinginan agar individu merasa perlu membeli demi memperoleh identitas tertentu.

Membangun Literasi Digital yang Kritis

Fenomena healing bukan berarti harus ditolak. Merawat kesehatan mental tetap merupakan kebutuhan penting, terutama di tengah tingginya tekanan kehidupan modern.

Namun, masyarakat perlu memiliki literasi digital yang lebih kritis agar mampu membedakan antara kebutuhan emosional dan kebutuhan yang sengaja dibentuk oleh industri digital.

Pertanyaan sederhana yang dapat diajukan sebelum mengikuti sebuah tren adalah:

Apakah saya benar-benar membutuhkan ini?

Apakah saya sedang mencari ketenangan atau sekadar validasi?

Apakah saya ingin menikmati pengalaman tersebut atau hanya ingin mengunggahnya?

Kemampuan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis tersebut menjadi bagian penting dari literasi media di era algoritma.

Fenomena healing di media sosial memperlihatkan bahwa budaya digital telah mengubah cara masyarakat memaknai kesehatan mental. Jika dahulu penyembuhan dipahami sebagai perjalanan personal yang bersifat reflektif, kini ia semakin sering dipresentasikan sebagai pengalaman konsumtif yang dapat dipamerkan melalui media sosial.

Melalui perspektif Jean Baudrillard, terlihat bahwa healing telah mengalami proses simulasi sehingga citra lebih dominan dibandingkan realitas. Eva Illouz menunjukkan bagaimana emosi telah menjadi komoditas ekonomi yang diperdagangkan melalui industri gaya hidup. Sementara itu, Zygmunt Bauman menjelaskan bahwa identitas masyarakat modern yang cair membuat individu terus mengejar standar kebahagiaan yang selalu berubah mengikuti arus digital.

Dengan demikian, tantangan terbesar masyarakat saat ini bukanlah bagaimana mengikuti tren healing, melainkan bagaimana mempertahankan makna healing sebagai proses pemulihan diri yang autentik. Sebab, kesehatan mental sejatinya tidak selalu hadir dalam foto yang estetik, tiket perjalanan yang mahal, atau rutinitas gaya hidup yang viral. Terkadang, proses penyembuhan justru lahir dari ruang-ruang sederhana yang tidak pernah masuk ke dalam algoritma media sosial.