Kawah Ijen: Dialog Diri di Ambang Menyerah

I am a Bachelor of Communication Science graduate with a concentration in Broadcasting and a student of Magister Communication Science of Nasional University
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Tri Pra Setyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu momen ketika mendaki Gunung Kawah Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur, yang sulit saya lupakan: saat jalur semakin menanjak, napas mulai terasa berat, dan tubuh seolah meminta saya untuk berhenti. Bahkan, sempat terlintas keinginan untuk menyerah dan kembali turun. Perjalanan yang awalnya dipenuhi semangat perlahan berubah menjadi pergulatan antara keterbatasan fisik dan keinginan untuk mencapai puncak.
Namun, perjalanan itu mengajarkan saya bahwa mendaki bukan sekadar tentang kekuatan kaki, melainkan juga tentang bagaimana manusia berkomunikasi dengan dirinya sendiri ketika menghadapi kesulitan.
Komunikasi Intrapersonal: Dialog antara Menyerah dan Bertahan
Dalam perspektif ilmu komunikasi, pengalaman tersebut dapat dipahami melalui komunikasi intrapersonal, yaitu proses komunikasi yang berlangsung di dalam diri seseorang, melibatkan pikiran, persepsi, emosi, dan dialog batin dalam mengambil keputusan.
Ketika saya berpikir untuk menyerah, sesungguhnya terjadi pergulatan antara dua pesan internal: keinginan untuk menghindari rasa lelah dan dorongan untuk menyelesaikan perjalanan. Cara saya menafsirkan situasi tersebut turut memengaruhi keputusan yang diambil.
Jalur yang menanjak dapat dimaknai sebagai hambatan yang tidak sanggup dilewati, tetapi juga dapat dipandang sebagai tantangan yang perlu dihadapi secara bertahap. Perubahan cara memaknai keadaan inilah yang membantu saya mengarahkan kembali pikiran pada tujuan perjalanan.
Teori Penilaian Kognitif: Mengubah Makna Kesulitan
Pengalaman ini juga dapat dijelaskan melalui teori penilaian kognitif (cognitive appraisal), yang membahas bagaimana seseorang menilai suatu situasi dan sumber daya yang dimilikinya untuk menghadapi situasi tersebut.
Ketika tanjakan terasa terlalu berat, saya menilai perjalanan itu sebagai sesuatu yang melelahkan dan hampir tidak mungkin diselesaikan. Namun, dengan berfokus pada langkah berikutnya, bukan pada seluruh jalur yang masih harus ditempuh, tantangan tersebut terasa lebih mungkin dihadapi.
Saya mulai memahami bahwa mencapai puncak tidak harus dilakukan dengan menaklukkan seluruh tanjakan sekaligus. Cukup melangkah sedikit demi sedikit, beristirahat ketika diperlukan, lalu melanjutkan perjalanan sesuai kemampuan.
Pada akhirnya, saya berhasil mencapai puncak Kawah Ijen. Bukan karena rasa lelah menghilang, melainkan karena keinginan untuk melanjutkan perjalanan tetap ada di tengah rasa lelah tersebut.
Puncak Bukan Hanya Tujuan, tetapi Proses Memaknai Diri
Pengalaman mendaki Kawah Ijen memperlihatkan bahwa komunikasi tidak selalu berlangsung melalui percakapan dengan orang lain. Terkadang, komunikasi yang paling menentukan justru terjadi dalam keheningan, ketika seseorang berhadapan dengan ketakutan, keraguan, dan batas kemampuannya sendiri.
Saya belajar bahwa keinginan untuk menyerah bukanlah tanda kegagalan. Perasaan itu dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi diri, memahami batas kemampuan, dan menentukan langkah berikutnya dengan lebih bijaksana.
Sebab, keberanian bukan berarti memaksakan diri tanpa mempertimbangkan keselamatan, melainkan kemampuan mengambil keputusan secara sadar di tengah tekanan.
Kawah Ijen mengajarkan saya satu hal: terkadang, perjalanan terberat bukanlah perjalanan menuju puncak gunung, melainkan perjalanan mengubah dialog dalam diri sendiri—dari “saya tidak sanggup” menjadi “saya akan mencoba satu langkah lagi.”
Dan ketika akhirnya tiba di puncak, yang saya bawa pulang bukan hanya kenangan tentang keindahan alam, tetapi juga pemahaman baru tentang diri sendiri: bahwa cara kita memaknai kesulitan dapat memengaruhi cara kita menjalaninya.
