Konten dari Pengguna

Ketika Flexing Menjadi Bentuk Komunikasi Modern di Era Digital

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Prasthama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cover Ketika Pamer Menjadi Bentuk Komunikasi Modern Generated By Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Cover Ketika Pamer Menjadi Bentuk Komunikasi Modern Generated By Gemini AI

Flexing sebagai Bahasa Sosial Baru di Era Media Digital: Ketika Pamer Menjadi Bentuk Komunikasi Modern

Di era media digital, komunikasi tidak lagi sekadar soal bertukar pesan, melainkan juga tentang membangun citra diri di ruang publik virtual. Salah satu fenomena yang semakin menonjol adalah flexing tindakan memamerkan kekayaan, gaya hidup, pencapaian, hingga simbol status sosial melalui media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube.

Fenomena ini kini telah berkembang menjadi “bahasa sosial baru” dalam komunikasi digital. Melalui unggahan foto mobil mewah, liburan eksklusif, barang branded, hingga gaya hidup konsumtif, seseorang sebenarnya sedang mengirimkan pesan sosial kepada audiensnya: tentang siapa dirinya, status sosialnya, dan bagaimana ia ingin dipersepsikan oleh orang lain.

Flexing Bukan Sekadar Pamer

Dalam perspektif ilmu komunikasi, flexing dapat dipahami sebagai bentuk komunikasi simbolik. Individu menggunakan simbol-simbol tertentu untuk membangun identitas sosial di ruang digital. Barang mewah, tempat nongkrong elit, hingga gaya hidup estetik bukan lagi sekadar konsumsi pribadi, tetapi menjadi “pesan komunikasi” yang dipertontonkan kepada publik.

Fenomena ini relevan dengan teori Self Presentation dari Erving Goffman. Goffman menjelaskan bahwa kehidupan sosial layaknya panggung pertunjukan, di mana individu berusaha mengatur kesan (impression management) agar terlihat sesuai dengan citra yang diinginkan.

Media sosial memperluas konsep tersebut. Jika dahulu “panggung” hanya terbatas pada interaksi tatap muka, kini panggung itu hadir secara digital dan dapat disaksikan ribuan orang sekaligus. Feed Instagram, video TikTok, dan konten vlog menjadi “front stage” tempat individu menampilkan versi terbaik dirinya.

Dalam konteks ini, flexing bukan lagi perilaku personal, tetapi strategi komunikasi identitas.

Media Sosial dan Budaya Kapitalisme Digital

Fenomena flexing juga tidak dapat dipisahkan dari logika kapitalisme digital. Platform media sosial bekerja melalui algoritma yang mendorong konten sensasional, visual mewah, dan gaya hidup glamor agar memperoleh perhatian tinggi. Semakin menarik perhatian publik, semakin besar pula peluang sebuah konten mendapatkan engagement, monetisasi, dan popularitas.

Pemikiran Jean Baudrillard tentang masyarakat konsumsi menjadi relevan dalam membaca fenomena ini. Baudrillard menjelaskan bahwa masyarakat modern tidak lagi membeli barang berdasarkan fungsi, melainkan berdasarkan simbol dan citra sosial yang melekat pada barang tersebut.

Dalam dunia digital, nilai simbolik bahkan lebih penting daripada nilai guna. Seseorang membeli kopi mahal bukan hanya untuk diminum, tetapi agar dapat diunggah ke media sosial. Mobil, fashion, hingga destinasi wisata berubah menjadi alat komunikasi status sosial.

Akibatnya, media sosial menciptakan budaya perbandingan sosial yang semakin intens. Pengguna terus-menerus membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain yang terlihat lebih sukses, lebih kaya, dan lebih bahagia.

Perspektif Teori Interaksi Simbolik

Fenomena ini juga dapat dijelaskan melalui teori Symbolic Interactionism dari George Herbert Mead dan Herbert Blumer. Teori ini menekankan bahwa makna terbentuk melalui interaksi sosial. Dalam media digital, simbol kemewahan memperoleh makna tertentu karena masyarakat secara kolektif menganggapnya sebagai tanda keberhasilan dan prestise.

Ketika seseorang mengunggah foto menggunakan barang branded, audiens akan menafsirkan simbol tersebut sebagai representasi status sosial tinggi. Interaksi berupa likes, komentar, dan jumlah pengikut kemudian memperkuat makna tersebut secara sosial.

Dengan kata lain, flexing bekerja karena ada “kesepakatan sosial” di masyarakat digital bahwa kemewahan identik dengan kesuksesan.

Studi Kasus: Flexing dan Krisis Kepercayaan Publik

Salah satu contoh kasus yang sempat menjadi perhatian publik di Indonesia adalah fenomena flexing yang dilakukan sejumlah pejabat maupun keluarga pejabat di media sosial. Gaya hidup mewah yang dipamerkan melalui kendaraan mahal, koleksi barang branded, dan kehidupan glamor memicu kritik publik karena dianggap tidak sensitif terhadap kondisi sosial masyarakat.

Kasus yang ramai diperbincangkan adalah sorotan publik terhadap gaya hidup keluarga pejabat pajak yang viral di media sosial beberapa tahun terakhir. Konten-konten tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai transparansi, etika, dan kesenjangan sosial.

Fenomena ini menunjukkan bahwa komunikasi digital memiliki dampak sosial yang nyata. Apa yang awalnya dianggap sekadar unggahan pribadi ternyata dapat memengaruhi persepsi publik terhadap institusi, kredibilitas, bahkan kepercayaan masyarakat terhadap negara.

Di sisi lain, fenomena flexing juga marak di kalangan influencer dan kreator konten. Banyak kreator membangun citra sukses melalui kendaraan mewah, rumah besar, atau gaya hidup eksklusif demi meningkatkan daya tarik personal branding mereka. Namun, tidak sedikit pula yang akhirnya terjebak dalam budaya konsumtif demi mempertahankan citra digital tersebut.

Ketika Validasi Sosial Menjadi Kebutuhan Baru

Media sosial pada akhirnya menciptakan ekosistem komunikasi yang sangat bergantung pada validasi publik. Likes, komentar, dan jumlah penonton berubah menjadi ukuran eksistensi sosial.

Dalam teori Uses and Gratifications, audiens menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan tertentu, termasuk kebutuhan akan pengakuan sosial. Flexing menjadi salah satu cara untuk memperoleh perhatian, legitimasi, dan rasa diterima di lingkungan digital.

Masalahnya, budaya ini dapat memunculkan tekanan psikologis, terutama bagi generasi muda. Banyak orang merasa harus terlihat sukses meskipun kondisi ekonominya belum stabil. Tidak sedikit pula yang akhirnya memaksakan gaya hidup demi menjaga citra di media sosial.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana media digital tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga mengubah cara manusia memaknai diri sendiri.

Flexing sebagai Gejala Komunikasi Modern

Flexing pada dasarnya adalah refleksi dari masyarakat digital yang semakin visual, kompetitif, dan berbasis citra. Ia bukan sekadar perilaku pamer, melainkan bentuk komunikasi sosial yang dibentuk oleh algoritma, budaya konsumsi, dan kebutuhan akan pengakuan publik.

Bagi kajian ilmu komunikasi, fenomena ini menjadi menarik karena memperlihatkan bagaimana media digital membentuk identitas, relasi sosial, hingga cara masyarakat memahami kesuksesan.

Pertanyaannya bukan lagi apakah flexing itu baik atau buruk, melainkan bagaimana masyarakat mampu bersikap kritis terhadap pesan-pesan simbolik yang terus diproduksi di ruang digital. Sebab di balik foto estetik dan kemewahan yang viral, terdapat realitas komunikasi yang jauh lebih kompleks: tentang kekuasaan citra, kapitalisme perhatian, dan kebutuhan manusia untuk diakui.