Konten dari Pengguna

Menangis Bukan Berarti Lemah: Mitos Maskulinitas di Era Digital

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Prasthama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

AI
zoom-in-whitePerbesar
AI

"Jangan menangis, kamu kan laki-laki."

Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi menjadi salah satu pesan yang paling sering diterima anak laki-laki sejak kecil. Saat mereka jatuh, merasa takut, atau kecewa, respons yang muncul bukanlah ajakan untuk memahami emosinya, melainkan dorongan agar segera berhenti menangis. Seolah-olah air mata adalah sesuatu yang bertentangan dengan identitas laki-laki.

Pesan seperti ini terus diwariskan dari generasi ke generasi hingga akhirnya diterima sebagai sesuatu yang wajar. Padahal, menangis merupakan respons alami setiap manusia terhadap emosi, bukan simbol kelemahan ataupun ukuran maskulinitas.

Di era digital, anggapan tersebut belum benar-benar hilang. Bahkan, media sosial justru memperkuatnya melalui berbagai konten yang menggambarkan laki-laki ideal sebagai sosok yang selalu kuat, dominan, sukses, dan tidak pernah menunjukkan sisi rapuhnya.

Maskulinitas Bukan Kodrat, Melainkan Konstruksi Sosial

Dalam perspektif Ilmu Komunikasi, pandangan bahwa laki-laki tidak boleh menangis dapat dijelaskan melalui teori Social Construction of Reality dari Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Teori ini menjelaskan bahwa realitas sosial dibentuk melalui interaksi yang terus-menerus hingga akhirnya dianggap sebagai kebenaran.

Artinya, tidak ada aturan biologis yang menyatakan bahwa laki-laki tidak boleh menangis. Keyakinan tersebut lahir dari proses sosial yang berlangsung dalam keluarga, sekolah, lingkungan pertemanan, hingga media massa. Sejak kecil, anak laki-laki diajarkan untuk menjadi kuat, sedangkan anak perempuan lebih diberi ruang untuk mengekspresikan emosinya.

Karena terus diulang, pesan tersebut akhirnya diterima sebagai norma yang tidak lagi dipertanyakan.

Ketika Masyarakat Menentukan Cara Menjadi Laki-Laki

Fenomena ini juga dapat dipahami melalui Gender Role Theory, yang menjelaskan bahwa masyarakat memiliki harapan tertentu terhadap laki-laki dan perempuan.

Laki-laki sering diidentikkan dengan keberanian, kepemimpinan, kekuatan fisik, dan kemampuan mengendalikan emosi. Sebaliknya, perempuan dianggap lebih wajar ketika menunjukkan kesedihan, ketakutan, atau kelembutan.

Masalah muncul ketika ekspektasi tersebut berubah menjadi tekanan sosial. Banyak laki-laki merasa harus selalu terlihat baik-baik saja, meskipun sebenarnya sedang mengalami masalah. Mereka enggan bercerita karena khawatir dianggap lemah atau kehilangan citra sebagai laki-laki yang "sejati".

Akibatnya, banyak persoalan emosional dipendam sendirian hingga memengaruhi kesehatan mental, hubungan sosial, bahkan kualitas hidup.

Media Sosial dan Standar Baru Maskulinitas

Perkembangan media sosial menghadirkan bentuk baru dari tekanan tersebut. Platform seperti TikTok, Instagram, YouTube, dan X dipenuhi konten tentang alpha male, high value man, sigma male, hingga narasi bahwa laki-laki sejati tidak boleh mengeluh dan harus selalu sukses.

Algoritma media sosial cenderung mempromosikan konten yang menarik perhatian dan memicu interaksi. Akibatnya, citra maskulinitas yang keras, dominan, dan kompetitif semakin sering muncul di beranda pengguna.

Lambat laun, banyak laki-laki mulai menganggap citra tersebut sebagai standar kehidupan yang harus dicapai. Padahal, kehidupan nyata jauh lebih kompleks daripada potongan-potongan konten yang tampil di media sosial.

Simbol yang Membentuk Cara Laki-Laki Melihat Dirinya

Melalui perspektif Symbolic Interactionism, manusia membangun makna berdasarkan simbol dan interaksi sosial.

Istilah seperti "cowok sejati", "lelaki alfa", "jangan cengeng", atau "laki-laki harus kuat" bukan sekadar rangkaian kata. Simbol-simbol tersebut membentuk cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Ketika pesan tersebut terus diterima setiap hari, baik dari keluarga maupun media sosial, banyak laki-laki mulai percaya bahwa menunjukkan kesedihan berarti gagal menjadi laki-laki. Mereka memilih menyembunyikan emosi, meskipun sebenarnya membutuhkan dukungan.

Saatnya Mendefinisikan Ulang Maskulinitas

Maskulinitas seharusnya tidak diukur dari kemampuan seseorang menyembunyikan perasaan. Menjadi laki-laki bukan berarti harus selalu kuat, tidak pernah takut, atau tidak boleh menangis.

Justru, keberanian yang sesungguhnya adalah mampu mengakui ketika diri sedang tidak baik-baik saja dan berani mencari pertolongan ketika membutuhkannya.

Dalam beberapa tahun terakhir, mulai banyak atlet, aktor, musisi, hingga kreator konten yang berbicara secara terbuka mengenai kesehatan mental. Kehadiran mereka menjadi sinyal bahwa maskulinitas dapat dimaknai secara lebih sehat, yakni sebagai kemampuan bertanggung jawab, menghargai orang lain, dan mengelola emosi dengan baik, bukan sekadar mempertahankan citra sebagai sosok yang selalu kuat.

Media juga memiliki tanggung jawab besar dalam membangun representasi tersebut. Semakin beragam gambaran laki-laki yang ditampilkan, semakin besar pula peluang masyarakat memahami bahwa setiap orang berhak memiliki emosi tanpa harus kehilangan identitasnya.

Kalimat "Laki-laki tidak boleh menangis" mungkin terdengar sederhana, tetapi dampaknya dapat bertahan hingga seseorang dewasa. Pesan itu membentuk cara laki-laki memahami dirinya, berinteraksi dengan orang lain, bahkan menentukan bagaimana mereka menghadapi tekanan hidup.

Di era digital, ketika media sosial terus membentuk standar baru mengenai maskulinitas, masyarakat perlu lebih kritis dalam memaknai berbagai narasi yang beredar. Menjadi laki-laki bukan berarti menolak emosi, melainkan mampu mengenali, mengelola, dan mengekspresikannya secara sehat.

Karena pada akhirnya, menangis bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, keberanian terbesar adalah ketika seseorang berani menjadi manusia seutuhnya—mampu merasakan, menerima, dan mengungkapkan emosinya tanpa takut kehilangan harga diri. Kesehatan mental bukan persoalan laki-laki atau perempuan, melainkan tanggung jawab bersama untuk menciptakan masyarakat yang lebih empatik dan manusiawi.