Pemaknaan “Read” dalam Komunikasi Interpersonal Digital

I am a Bachelor of Communication Science graduate with a concentration in Broadcasting and a student of Magister Communication Science of Nasional University
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Prasthama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika Pesan Tidak Dibalas: Pemaknaan “Read” dalam Komunikasi Interpersonal Digital
Pernah mengirim pesan WhatsApp, melihat dua centang berubah menjadi biru, tetapi tidak kunjung mendapat balasan?
Awalnya kita mungkin berpikir, “Mungkin sedang sibuk.” Namun, ketika waktu berlalu, muncul pertanyaan lain: Apakah saya salah bicara? Apakah dia sengaja mengabaikan saya?
Situasi sederhana ini menunjukkan bahwa komunikasi digital bukan sekadar pertukaran pesan. Tanda “read” dapat berubah menjadi simbol yang kita tafsirkan berdasarkan hubungan, pengalaman, dan ekspektasi terhadap orang lain.
Read Bukan Sekadar Tanda Pesan Dibaca
Dalam komunikasi digital, teknologi memberikan informasi yang sebelumnya tidak kita miliki dalam komunikasi tatap muka. WhatsApp memungkinkan seseorang mengetahui apakah pesan telah terkirim, diterima, dan dibaca.
Namun, informasi tersebut tidak menjelaskan alasan di balik tindakan seseorang.
Ketika pesan telah dibaca tetapi tidak dibalas, fakta yang kita miliki sebenarnya hanya satu: pesan tersebut telah dibaca.
Selebihnya adalah interpretasi.
Di sinilah persoalan komunikasi muncul. Kita sering kali tidak hanya membaca pesan, tetapi juga berusaha membaca makna di balik perilaku komunikator.
Ketika Ekspektasi Bertemu Keheningan
Fenomena ini dapat dipahami melalui Expectancy Violations Theory (EVT) yang dikembangkan Judee K. Burgoon.
Teori ini menjelaskan bahwa manusia memiliki ekspektasi terhadap perilaku orang lain dalam interaksi. Ketika perilaku tersebut tidak sesuai dengan ekspektasi, penyimpangan itu menjadi lebih diperhatikan dan kemudian diberi makna.
Dalam komunikasi WhatsApp, ekspektasinya bisa sangat sederhana:
“Kalau sudah dibaca, biasanya akan dibalas.”
Ketika balasan tidak muncul, terjadi ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan.
Jika seseorang biasanya membalas dalam beberapa menit, kemudian tiba-tiba diam selama berjam-jam, keterlambatan tersebut dapat terasa lebih bermakna dibandingkan jika dilakukan oleh orang yang memang sejak awal jarang membalas pesan.
Dengan demikian, bukan hanya durasi diam yang penting, tetapi ekspektasi yang melekat pada hubungan tersebut.
Pengalaman yang Sangat Personal
Saya sendiri pernah berada dalam situasi tersebut.
Pesan sudah dibaca, tetapi tidak ada balasan. Pada awalnya saya mencoba berpikir rasional: mungkin sedang sibuk atau belum memiliki waktu untuk menjawab.
Namun, semakin lama tidak ada respons, semakin banyak kemungkinan muncul dalam pikiran.
Apakah pesan saya terlalu panjang? Apakah ada kalimat yang salah? Apakah orang tersebut sedang tidak ingin berbicara?
Menariknya, tidak ada satu pun pertanyaan tersebut yang bisa dijawab hanya melalui layar.
Saya hanya mengetahui bahwa pesan telah dibaca.
Pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa dalam komunikasi digital, ketidakpastian sering kali diisi oleh interpretasi pribadi.
Kita mengambil sebuah fakta kecil, kemudian membangun cerita yang lebih besar di kepala kita.
Diam Juga Dapat Menjadi Pesan
Dalam komunikasi interpersonal, diam bukan berarti tidak memiliki makna.
Diam dapat menunjukkan seseorang sedang berpikir, tidak nyaman, membutuhkan waktu, atau memang tidak ingin melanjutkan percakapan. Maknanya sangat bergantung pada konteks.
Dalam komunikasi digital, situasinya menjadi lebih kompleks karena diam hadir bersama berbagai indikator teknologi: online, last seen, typing, hingga read receipts.
Akibatnya, kita merasa memiliki banyak informasi tentang orang lain.
Padahal, informasi tersebut tetap terbatas.
Penelitian mengenai komunikasi interpersonal melalui WhatsApp menunjukkan bahwa read receipts, indikator mengetik, emoji, dan waktu respons dapat membentuk ekspektasi pengguna terhadap perilaku komunikasi. Ketika ekspektasi tersebut tidak terpenuhi, pengguna dapat memberikan interpretasi tertentu terhadap keterlambatan atau ketiadaan respons.
Artinya, teknologi memberikan tanda, tetapi manusia yang memberikan makna.
Satu “Read,” Banyak Kemungkinan Makna
Satu perilaku komunikasi dapat memiliki makna berbeda bagi setiap orang.
Bagi pengirim:
“Dia sudah membaca, tetapi tidak mau membalas.”
Bagi penerima:
“Saya sudah membaca, tetapi belum punya waktu untuk menjawab.”
Keduanya mungkin benar dari sudut pandang masing-masing.
Karena itu, kita perlu membedakan antara fakta komunikasi dan interpretasi komunikasi.
Faktanya: pesan telah dibaca.
Interpretasinya: dia mengabaikan saya, marah, tidak tertarik, atau sengaja menjauh.
Masalah muncul ketika interpretasi dianggap sebagai fakta.
Di sinilah kemampuan komunikasi menjadi penting. Kita tidak hanya dituntut mampu menyampaikan pesan, tetapi juga mampu mengelola ketidakpastian dan memahami bahwa perilaku komunikasi seseorang tidak selalu dapat dijelaskan hanya dari indikator digital.
Dari Centang Biru ke Batas Personal
Tidak membalas pesan dengan segera tidak selalu berarti seseorang tidak menghargai komunikator.
Setiap orang memiliki batas, ritme, dan kebutuhan komunikasi yang berbeda. Ada yang nyaman membalas pesan secara cepat, sementara yang lain membutuhkan waktu sebelum merespons.
Karena itu, read receipts juga dapat dipandang sebagai bagian dari negosiasi batas personal dalam komunikasi digital.
Kita hidup dalam budaya komunikasi yang semakin cepat. Pesan masuk dalam hitungan detik dan ekspektasi respons pun ikut meningkat.
Namun, akses terhadap seseorang tidak sama dengan hak atas waktunya.
Pesan dapat dikirim kapan saja, tetapi penerima tetap memiliki pilihan kapan dan bagaimana merespons.
Belajar Tidak Terburu-buru Menyimpulkan
Pada akhirnya, persoalan “sudah dibaca tetapi tidak dibalas” bukan hanya tentang WhatsApp.
Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana teknologi mengubah cara manusia membangun ekspektasi, membaca tanda, dan memaknai hubungan interpersonal.
Dua centang biru hanya menunjukkan bahwa pesan telah dibaca. Ia tidak otomatis menjelaskan perasaan, niat, maupun alasan seseorang.
Mungkin orang tersebut sedang sibuk. Mungkin membutuhkan waktu. Mungkin tidak tahu harus menjawab apa. Atau mungkin memang tidak ingin melanjutkan percakapan.
Kita tidak selalu bisa mengetahui jawabannya dari layar.
Karena itu, dalam komunikasi digital, barangkali kita perlu belajar membedakan tiga hal: apa yang kita tahu, apa yang kita rasakan, dan apa yang kita asumsikan.
Sebab terkadang, yang paling melelahkan bukan pesan yang tidak dibalas, melainkan cerita yang kita ciptakan sendiri tentang alasan di baliknya.
