Resign atau Bertahan dari Toxic Leadership ?

I am a Bachelor of Communication Science graduate with a concentration in Broadcasting and a student of Magister Communication Science of Nasional University
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Prasthama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Toxic Leadership dan Krisis Komunikasi Organisasi di Dunia Kerja Modern
Di era kerja modern yang serba cepat, komunikasi di dalam organisasi seharusnya menjadi sarana membangun kerja sama dan hubungan profesional yang sehat. Namun realitas di banyak tempat kerja justru menunjukkan hal berbeda. Tekanan target, budaya lembur, hingga gaya kepemimpinan yang intimidatif perlahan menjadikan komunikasi sebagai alat tekanan. Fenomena ini dikenal sebagai toxic leadership.
Dalam kajian ilmu komunikasi, toxic leadership bukan sekadar persoalan atasan yang keras atau mudah marah. Lebih dari itu, fenomena ini berkaitan dengan bagaimana komunikasi digunakan untuk mengontrol, menekan, bahkan membentuk rasa takut di lingkungan kerja.
Banyak pekerja hari ini mengalami tekanan komunikasi dalam bentuk yang terlihat “normal”. Mulai dari dimarahi saat rapat, pesan pekerjaan di luar jam kantor, tuntutan untuk selalu responsif, hingga budaya menyalahkan bawahan di depan publik. Ironisnya, praktik tersebut sering dianggap bagian dari profesionalisme dan budaya kerja keras.
Padahal dalam teori komunikasi organisasi, komunikasi idealnya membangun hubungan yang terbuka, dialogis, dan manusiawi. Teori Human Relations yang dikembangkan Elton Mayo menekankan bahwa hubungan interpersonal dan kondisi psikologis pekerja sangat memengaruhi produktivitas organisasi. Ketika komunikasi dipenuhi tekanan dan intimidasi, maka lingkungan kerja akan kehilangan rasa aman.
Selain itu fenomena toxic leadership juga berkaitan dengan teori budaya organisasi dari Edgar Schein. Budaya organisasi terbentuk dari kebiasaan yang terus diulang. Ketika bentakan, ancaman, atau tekanan dianggap normal demi target kerja, maka organisasi sedang membangun budaya komunikasi yang toksik secara sistematis.
Di sisi lain, perkembangan teknologi digital membuat tekanan komunikasi semakin kompleks. Grup kerja dan aplikasi pesan instan membuat batas antara ruang kerja dan kehidupan pribadi semakin kabur. Banyak pekerja merasa harus selalu siap membalas pesan atasan bahkan di luar jam kerja. Akibatnya, komunikasi organisasi tidak lagi memiliki batas yang sehat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa komunikasi dalam organisasi bukan sesuatu yang netral. Cara pemimpin berbicara, memberi instruksi, dan memperlakukan bawahan memiliki dampak besar terhadap kesehatan mental pekerja dan budaya kerja perusahaan.
Yang menarik, generasi pekerja saat ini mulai lebih sadar terhadap pentingnya lingkungan kerja yang sehat. Isu burnout, quiet quitting, hingga toxic workplace semakin sering dibahas di media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa pekerja modern tidak hanya mencari gaji, tetapi juga kualitas komunikasi dan penghargaan sebagai manusia.
Pada akhirnya, toxic leadership menjadi refleksi bahwa banyak organisasi masih melihat pekerja sebatas alat produksi. Padahal komunikasi yang sehat bukan tanda lemahnya kepemimpinan, melainkan fondasi penting untuk menciptakan organisasi yang produktif, kreatif, dan berkelanjutan.
Di tengah budaya kerja modern yang kompetitif, organisasi perlu menyadari bahwa target perusahaan mungkin bisa dicapai melalui tekanan. Namun loyalitas, inovasi, dan kesehatan organisasi jangka panjang hanya dapat tumbuh melalui komunikasi yang empatik dan manusiawi.
