AI Makin Pintar, Manusia Jangan Kehilangan Nurani

Mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari TRI PUTRI GALIH ANJANI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mahasiswa menggunakannya untuk membantu mengerjakan tugas, pekerja memanfaatkannya untuk menyelesaikan pekerjaan, bahkan masyarakat mulai mengandalkan AI untuk mencari jawaban atas berbagai persoalan, termasuk pertanyaan tentang agama.
Kehadiran AI memang menawarkan banyak kemudahan. Informasi yang dahulu membutuhkan waktu lama untuk dicari kini dapat diperoleh dalam hitungan detik. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan yang tidak boleh diabaikan: ketika mesin mampu memberikan jawaban yang terdengar meyakinkan, apakah manusia masih mau berpikir kritis dan memeriksa kebenarannya?
Pertanyaan ini menjadi penting karena AI tidak selalu menghasilkan informasi yang benar. Jawabannya dapat terlihat runtut dan masuk akal, tetapi mengandung kekeliruan, konteks yang tidak tepat, bahkan sumber yang tidak dapat ditemukan. Jika manusia menerima semua hasil AI tanpa pemeriksaan, teknologi yang seharusnya membantu justru berpotensi menyesatkan.
Persoalannya bukan terletak pada kecanggihan mesin semata, melainkan pada cara manusia menggunakannya. AI dapat menjadi alat yang bermanfaat, tetapi juga dapat menjadi sarana penyebaran informasi keliru ketika penggunanya mengabaikan tanggung jawab.
Ketika Kemudahan Menggeser Tanggung Jawab
Dalam dunia pendidikan, penggunaan AI menjadi salah satu contoh yang paling dekat dengan kehidupan mahasiswa. AI dapat membantu menjelaskan materi kuliah, memberikan gambaran awal tentang suatu persoalan, menyusun kerangka tulisan, hingga membantu memahami istilah yang sulit.
Akan tetapi, kemudahan itu dapat berubah menjadi persoalan ketika mahasiswa menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI. Tugas yang seharusnya menjadi sarana belajar justru dikerjakan tanpa pemahaman yang memadai. Tulisan mungkin terlihat bagus, tetapi penulisnya belum tentu mampu menjelaskan isi atau mempertanggungjawabkan argumennya.
Hal serupa dapat terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. AI dapat digunakan untuk membuat gambar, suara, atau video yang menyerupai kenyataan. Jika teknologi tersebut dimanfaatkan untuk menyebarkan fitnah, memanipulasi informasi, atau merusak reputasi seseorang, dampaknya tidak lagi sebatas persoalan teknologi. Ada hak orang lain yang dipertaruhkan.
Di sinilah kita perlu memahami bahwa kemampuan menggunakan teknologi tidak selalu sejalan dengan kedewasaan dalam menggunakannya. Seseorang bisa sangat mahir membuat perintah kepada AI, tetapi tetap tidak bijak ketika memutuskan untuk menyebarkan hasilnya.
Kemajuan teknologi seharusnya tidak membuat manusia semakin mudah melepaskan tanggung jawab. Sebaliknya, semakin besar kemampuan yang dimiliki, semakin besar pula kebutuhan untuk menggunakannya secara hati-hati.
Fikih Kecerdasan Artifisial: Bukan Sekadar Boleh atau Tidak Boleh
Dalam perspektif Islam, perkembangan AI perlu dilihat melalui pertimbangan manfaat, risiko, dan tanggung jawab moral. Karena itu, pembahasan fikih kecerdasan artifisial tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan apakah teknologi ini boleh digunakan atau harus dihindari.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah untuk apa AI digunakan, bagaimana proses penggunaannya, serta apakah dampaknya membawa kemaslahatan atau justru merugikan manusia.
Penggunaan AI untuk membantu memahami materi, mengembangkan pengetahuan, atau meningkatkan pelayanan masyarakat tentu berbeda dari penggunaan AI untuk menipu, menyebarkan fitnah, dan mengambil hak orang lain. Teknologinya mungkin sama, tetapi tujuan, cara, dan akibat penggunaannya berbeda.
Prinsip ini sejalan dengan ajaran Islam yang menempatkan kejujuran, amanah, keadilan, dan tanggung jawab sebagai bagian penting dalam kehidupan. QS. Al-Hujurat ayat 6, misalnya, mengajarkan agar berita diperiksa sebelum dipercaya dan ditindaklanjuti. Pesan tersebut relevan di tengah arus informasi digital yang semakin cepat dan sulit dibedakan antara fakta, manipulasi, dan opini.
Dalam konteks AI, memeriksa informasi bukan sekadar kebiasaan akademik, melainkan juga bentuk tanggung jawab moral. Seseorang tidak seharusnya menyebarkan jawaban AI tentang hukum agama, kesehatan, atau persoalan hukum tanpa memastikan kebenaran dan sumbernya.
Terlebih lagi, ketika AI digunakan untuk menjawab pertanyaan keagamaan, kehati-hatian menjadi semakin penting. Penjelasan agama tidak cukup dinilai dari bahasa yang terdengar meyakinkan. Pemahaman terhadap Al-Qur’an, hadis, metode penafsiran, dan pendapat ulama memerlukan proses keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
AI dapat membantu mencari informasi awal, tetapi hasilnya tetap perlu diperiksa melalui sumber tepercaya dan dikonsultasikan kepada pihak yang memiliki kompetensi apabila menyangkut persoalan keagamaan yang kompleks.
Peran Muhammadiyah dalam Menjawab Tantangan Zaman
Perkembangan AI juga menjadi ruang penting bagi Muhammadiyah untuk memperkuat peran keagamaan dan sosialnya. Sebagai gerakan Islam yang memiliki perhatian terhadap pendidikan, ilmu pengetahuan, dan pembaruan pemikiran, Muhammadiyah memiliki peluang untuk ikut membangun cara pandang masyarakat yang lebih bijak terhadap teknologi.
Dalam hal ini, Majelis Tarjih dan Tajdid memiliki peran strategis untuk mengkaji persoalan kontemporer melalui pendekatan keislaman yang bertanggung jawab. Perubahan zaman menghadirkan persoalan baru, sementara prinsip-prinsip agama perlu terus dipahami dan diterapkan sesuai dengan konteks kehidupan masyarakat.
Semangat tajdid tidak berarti menerima semua perkembangan teknologi tanpa pertimbangan. Sebaliknya, pembaruan perlu dilakukan dengan tetap menjaga nilai-nilai dasar Islam. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk kebaikan, tetapi penggunaannya perlu diarahkan oleh prinsip moral dan tanggung jawab sosial.
Karena itu, Munas Tarjih dapat menjadi momentum untuk memperluas diskusi mengenai fikih kecerdasan artifisial. Pembahasannya tidak cukup hanya berfokus pada status penggunaan AI, tetapi juga perlu menyentuh persoalan kejujuran akademik, perlindungan data pribadi, penyebaran informasi palsu, hak cipta, serta tanggung jawab manusia atas keputusan yang dibantu teknologi.
Kajian tersebut idealnya melibatkan berbagai bidang keilmuan. Ulama dan ahli fikih diperlukan untuk membahas prinsip keagamaan, sedangkan akademisi hukum, praktisi teknologi, pendidik, dan masyarakat dapat memberikan pemahaman tentang risiko serta dampak nyata penggunaan AI.
Dengan pendekatan yang lintas disiplin, Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dapat berkontribusi dalam membangun pedoman yang tidak hanya relevan secara keagamaan, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Literasi AI Harus Disertai Etika
Salah satu langkah penting yang perlu dilakukan adalah memperkuat literasi AI. Selama ini, pembicaraan tentang AI sering kali berpusat pada cara menggunakannya agar pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien. Padahal, masyarakat juga perlu memahami keterbatasan teknologi tersebut.
Literasi AI setidaknya perlu mencakup kemampuan memeriksa sumber, mengenali kemungkinan kesalahan, memahami risiko bias, menjaga privasi, dan mempertimbangkan dampak sebelum menyebarkan informasi.
Di lingkungan kampus, misalnya, mahasiswa perlu memahami batas penggunaan AI dalam tugas akademik. AI dapat digunakan untuk membantu memahami materi atau mencari inspirasi, tetapi mahasiswa tetap harus membaca sumber asli, membangun argumentasi sendiri, dan mengikuti aturan akademik yang berlaku. Jika penggunaan AI wajib diungkapkan, hal tersebut harus dilakukan secara jujur.
Dalam kegiatan dakwah, AI dapat membantu menyusun materi atau mempermudah penyampaian informasi. Namun, ayat Al-Qur’an, hadis, dan pendapat ulama yang dihasilkan harus diverifikasi. Jangan sampai teknologi yang dimaksudkan untuk memudahkan penyebaran pengetahuan justru mempercepat penyebaran informasi keagamaan yang keliru.
Masyarakat juga perlu membiasakan diri untuk tidak langsung membagikan konten yang mengejutkan atau memancing emosi. Memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan memastikan konteks merupakan langkah sederhana yang dapat mencegah kerugian bagi orang lain.
Selain itu, pengembang dan penyelenggara layanan AI perlu memperhatikan keamanan, perlindungan data, dan risiko penyalahgunaan. Pemerintah, lembaga pendidikan, serta organisasi masyarakat juga perlu membangun edukasi dan kebijakan yang melindungi hak masyarakat tanpa menghambat pemanfaatan teknologi yang bermanfaat.
Dengan demikian, tanggung jawab membangun ekosistem AI yang sehat tidak hanya berada pada pengguna. Pengembang, institusi pendidikan, organisasi keagamaan, dan pemerintah memiliki peran masing-masing.
Jangan Sampai Mesin Berkembang, tetapi Nurani Menyusut
Pada akhirnya, kecerdasan artifisial akan terus berkembang. Kemampuannya mungkin semakin luas, jawabannya semakin meyakinkan, dan penggunaannya semakin mudah dijangkau. Namun, semua itu tidak menjamin bahwa manusia akan menjadi lebih bijaksana.
AI dapat membantu kita menemukan informasi, tetapi tidak boleh membuat kita berhenti memeriksa kebenaran. AI dapat membantu menyusun tulisan, tetapi tidak seharusnya menghilangkan kejujuran. AI dapat membantu menyebarkan pengetahuan agama, tetapi tidak menggantikan tanggung jawab dalam memahami dan menyampaikan ajaran Islam secara benar.
Semangat Muhammadiyah dalam membangun Islam Berkemajuan dapat menjadi pengingat bahwa kemajuan ilmu pengetahuan harus berjalan bersama kematangan akhlak. Tajdid Muhammadiyah perlu dipahami sebagai ikhtiar menghadirkan pembaruan yang tetap berpijak pada nilai-nilai Islam dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Karena itu, keberhasilan menghadapi era AI tidak semestinya hanya diukur dari seberapa banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan oleh mesin. Ukuran yang lebih penting adalah apakah teknologi membantu manusia menjadi lebih jujur, adil, bertanggung jawab, dan peduli terhadap sesamanya.
Mesin mungkin semakin pintar dalam menghasilkan jawaban. Namun, manusia tetap bertanggung jawab untuk menilai, memilih, dan menggunakan jawaban tersebut. Sebab, kemajuan yang sesungguhnya bukan ketika manusia mampu menciptakan mesin yang semakin cerdas, melainkan ketika manusia mampu memanfaatkan kecerdasan itu tanpa kehilangan nuraninya.
