Konten dari Pengguna

Ancaman Tersembunyi AI: Segregasi Intelektual

Trian Ferianto

Trian Ferianto

Blogger di PinterIM.com, Auditor ASN, Qualified Risk Management Analysis, Sedang Tugas Belajar di Magister Administrasi Publik - Universitas Brawijaya

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Trian Ferianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi segregasi sosial akibat gap intelektual yang berbeda | sumber: olah AI menggunakan Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi segregasi sosial akibat gap intelektual yang berbeda | sumber: olah AI menggunakan Gemini AI

Layaknya pisau bermata dua, kecerdasan buatan (AI) menawarkan potensi akselerasi luar biasa, sekaligus ancaman tersembunyi yang dapat menumpulkan nalar penggunanya. Akibatnya, pameo lama 'yang kaya semakin kaya' kini berisiko menemukan wujud barunya di ranah intelektual: yang sudah kritis akan semakin cerdas, sementara yang kurang terampil akan semakin jauh tertinggal.

Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Dari serangkaian eksperimen pribadi yang saya lakukan, potensi AI sebagai akselerator sekaligus alat atrofi nalar sangatlah nyata. Belakangan ini, saya berkesempatan untuk menjajal, mengeksplorasi, dan melakukan berbagai percobaan menggunakan AI Chat. Hasilnya, saya semakin menyadari bahwa kemampuan teknologi ini sungguh luar biasa. Beberapa 'bidang' yang saya uji coba, misalnya: belajar bahasa Inggris (bahasa yang sudah cukup saya kuasai), AI bisa mengakselerasi prosesnya lebih cepat. Belajar bahasa Arab (bahasa yang saya kuasai di tingkat paling dasar), AI mampu mengajari saya dengan analogi dan eksplorasi yang sulit saya bayangkan bisa diberikan oleh guru manusia. Saya bisa bertanya makna kata dan dijawab layaknya seorang ahli etimologi, sembari menanyakan hal remeh-temeh seperti, "apakah pemahaman S-P-O-K bisa saya terapkan saat belajar Bahasa Arab?". Semua dijawab dengan komplet, berkualitas, dan tanpa ada perasaan ‘diserang’ atau dipermalukan.

Saya juga mengajaknya berdiskusi tentang buku hanya dengan menyebutkan judul dan penulisnya; AI bisa menyajikan intisari dan memantik diskusi tajam yang prosesnya melampaui jika saya harus membeli buku, membaca, merangkum sendiri, dan berdialektika di dalam kepala. Bahkan, saya berhasil membuat sebuah aplikasi program sederhana yang sangat membantu, tanpa menulis satu baris coding sama sekali. Hingga yang paling mencengangkan: berdiskusi tentang kitab suci, menggali tafsir dan anasir-anasir non-mainstream yang tersembunyi di sudut-sudut sejarah. Temuannya cukup mengejutkan saat dirujuk pada sumber aslinya—sebuah capaian yang agaknya sulit digapai tanpa bantuan AI atau akses ke seorang profesor ahli.

Di ujung rangkaian uji coba ini saya kemudian merenung. Tampaknya, era AI ini akan semakin memperlebar jurang pemisah antara dua kategori manusia. Mereka yang memiliki kemampuan berpikir logis, kritis, dan literasi yang baik, akan mampu menjelajah dan menjadikan AI sebagai sparring partner diskusi setingkat profesor yang tak kenal lelah. Manusia jenis ini akan mengalami akselerasi yang jauh lebih cepat daripada sebelum era AI.

Di sisi lain, manusia dengan kemampuan berpikir logis, kritis, dan literasi yang rendah, akan menggunakan AI sebagai 'alat bantu' bagi disabilitas nalarnya. Memang ia tampak bisa menjawab banyak hal, tetapi jika tidak waspada dan terus berlatih, kemampuan nalarnya justru akan semakin tumpul. Saat kedua 'jenis' manusia ini bertemu, jurang pemisah itu akan menjadi semakin kentara.

Efek lebih luasnya, masyarakat kita secara tidak sadar, tak kasat mata, dan pelan-pelan akan dibawa pada segregasi kualitas yang makin tajam. Ibaratnya: masyarakat akan dihuni oleh para pembalap F1 yang sangat mahir mengendarai kendaraan berkecepatan tinggi di medan ekstrem, yang berkumpul bersama para penumpang odong-odong yang hanya mampu memerintah dan menunggu dirinya diantar sampai ke tujuan.

Kedua kelompok masyarakat ini tidak akan tahan berkumpul di satu meja dalam waktu lama. Naluri mereka akan menuntun untuk 'berpisah' dan berkumpul dengan sesamanya, karena nalar dan pikiran mereka perlu partner yang sepadan. Tentu tidak akan nyambung orang yang bertanya tentang analisis emiten di pasar saham jika diberi jawaban tentang ramalan zodiak hari ini. Jika sebelumnya era segregasi status sosial sudah terlihat; mungkin sekarang kita sedang memasuki pintu gerbang era segregasi intelektual yang lebih lebar.

Apa yang bisa kita lakukan?

Dalam perkara ini, kita bisa berangkat dari pernyataan Elon Musk (pemilik X yang mengembangkan Grok AI) dan CEO Nvidia (perusahaan komponen terpenting agar teknologi AI dapat terwujud) yang menyatakan bahwa siswa lebih baik belajar matematika dan logika daripada AI prompting dan coding. Refleksi saya membawa pada kesimpulan yang sama.

Orang dengan kemampuan logika yang baik akan lebih mampu bertanya dan memverifikasi informasi yang dihasilkan oleh AI. Keandalan seseorang memakai AI sangat bergantung pada bangunan premis dan logika yang ada di kepala penggunanya. Semakin pandai pengguna 'memeras' AI dengan pertanyaan berkualitas, semakin baik pula AI memproduksi jawaban dan merespons.

Bagi para pemegang kebijakan pendidikan dan kurikulum, jangan sampai kita ‘terkecoh’ mendidik siswa menjadi "penumpang odong-odong". Jangan sampai kita ikut ‘tertipu’ memanfaatkan kemudahan AI hanya untuk mendapatkan hasil akhir. Oleh karena itu, membangun fondasi intelektual dan literasi ilmu-ilmu dasar menjadi jauh lebih penting daripada sekadar mengajari cara memakai AI. Fondasi inilah yang akan menjadikan siswa 'andal' dalam mengendarai sport-car bernama AI.

Anak-anak kita akan lebih siap menjadi "pembalap F1" daripada hanya pasrah menunggu sopir odong-odong berangkat sambil menanti penumpang lain hingga penuh.