Harbaca: Karamazov Bersaudara

Pengajar dan Mentor AI. Blogger di PinterIM.com, ASN Auditor di Instansi Pemerintah, Qualified Risk Management Analysis.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Trian Ferianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jika biasanya tulisan tentang buku dari pembacanya berbentuk resensi atau sinopsis, maka saya mencoba memerankan diri sebagai calon pembaca yang menulis tentang buku yang akan dibaca. Setahu saya, tulisan jenis ini belum ada namanya, maka saya tasbihkan saja namanya sebagai “harbaca”. Akronim dari harapan membaca. Ya, saya akan mencoba menuliskan pandangan, harapan, dan hipotesis saya atas sebuah buku sebelum saya membacanya. Tidak seperti resensi atau sinopsis yang membahas tentang isi bukunya, tulisan jenis ini akan lebih berbicara tentang sedikit latar pandang penulis (harbaca)nya dengan buku sebagai cerminnya. Mari kita mulai.
Saat ini saya menggenggam sebuah buku berjudul Karamazof Bersaudara karya Fyodor Dostoevsky. Pertama kali saya mengetahui buku ini berjudul Brother Karamazov yang tentunya versi berbahasa Inggris. Alih bahasa dari versi aslinya yang berbahasa Rusia.
Saya lupa, meski saya coba ingat-ingat kembali, apa konteks saya menemukan buku ini. Yang saya ingat hanyalah: ada salah seorang penulis yang merekomendasikan buku ini di sosial medianya saat ada diskusi tentang sebuah naskah novel yang berisikan kompleksitas tentang manusia, hubungan antar keluarga, filosofi, agama, dan moral. Isu-isu ini memang seringkali menjadi tempat saya terdampar dalam lautan topik diskusi di belantara online.
Waktu itu saya tahu bahwa buku ini sudah masuk ke dalam public domain alias hak ciptanya sudah bisa diakses publik. Oleh karenanya saya mencari file novel ini di google dan ketemulah di website project gutenberg. Saat saya buka, ternyata naskah inggrisnya cukup membuat saya kelelahan memahaminya. Saya maklum dengan kondisi ini karena menyadari kemampuan bahasa Inggris saya memang compang-camping kala itu. Sekarang sudah agak mending, meski juga masih level belum bagus.
Maka, saat penerbit Divapress mencetaknya saya langsung memutuskan membelinya. Mengingat rekomendasi penulis (entah siapa namanya saya masih lupa) yang tampaknya perlu sekali saya membacanya. Jumlah halaman pdf file yang saya temukan sebanyak 1000an halaman, cukup bagi saya untuk menjadikan karya ini layak koleksi versi cetaknya karena hampir tidak mungkin saya membaca versi file Englishnya.
Karya legendaris, ditulis oleh penulis legendaris, membuat saya memiliki banyak harapan dan bayangan saat saya tuntas menyelesaikannya. Setidaknya ada empat aspek harapan saya membaca karya ini.
Dari sisi teknis, saya perlu membaca dan memahami karya ini karena akan memperkaya referensi gaya menulis. Ini penting karena begini-begini saya masih punya keinginan menjadi seorang penulis handal. Saya membayangkan bagaimana Opa Fyodor mengurai dan menyajikan gagasan besarnya atas sebuah cerita menjadi rangkaian kisah manusia dalam hubungan keluarga dan sosialnya. Perkara ini, selalu membuat saya tertarik. Pengamatan saya seringkali berlaku pada penulis-penulis yang saya kagumi karyanya.
Harapan kedua. Sekilas sebelum benar-benar membaca, saya sedikit mencari tahu penilaian para kritikus dan pembaca yang telah menikmati karya ini untuk tahu gambaran besar ceritanya dan mengapa karya ini legendaris. Dari hasil penyelaman itu, memunculkan harapan bagi saya tentang sebuah diskusi filosofis dan peruntuhan dogma-dogma ajaran agama (tentu dalam konteks novel adalah gereja ortodoks di Rusia) oleh salah satu tokoh utama novel. Buat saya ini menarik karena akan memperkaya khazanah saya bagaimana sebuah dogma dipertanyakan dan dicarikan jawabannya agar benak sang penanya puas.
Apalagi, dua tokoh intelektual Eropa (Di mana novel ini mengambil latar) memberikan komentar pentingnya.
Sigmund Freud menyebut novel ini sebagai "novel paling megah yang pernah ditulis" dan menggunakannya untuk mempelajari dinamika hubungan ayah-anak (Oedipus complex). Sedangkan Albert Einstein menyatakan: "Dostoevsky memberiku lebih banyak hal daripada ilmuwan mana pun, bahkan lebih dari Gauss." Dua tokoh besar ini tampaknya layak dijadikan sandaran betapa pentingnya karya ini.
Alasan ketiga. Atau lebih tepat dikatakan harapan ketiga atas pembacaan novel ini adalah menguji daya tahan saya pribadi untuk menuntaskan naskah panjang dan klasik (apalagi terjemahan) yang tentunya seringkali tidak mudah. Panjang halaman akan menguji attention span saya yang sudah semakin hancur di era sosial media yang serba cepat ini. Bahasa dan konteks klasiknya akan menguji kemampuan imajinasi saya untuk tenggelam dan hanyut ke dalam cerita dan latar yang jelas saya tidak memiliki refensi atas hal itu sebelumya.
Sebagai seorang tsundoku (agak) akut saya kira tantangan dan harapan ini cukup untuk menantang dan achievable untuk dilalui. Saya pribadi berharap, mulai rutin menuliskan harbaca atas sebuah buku, menjadi semacam kaul penuntasan atas sebuah buku. Jadi tidak hanya dibeli dan dikoleksi, namun dibaca dan dinikmati. Sebagaimana khittah sebuah buku ditulis oleh penulisnya.
Apalagi, Divapress akan menerbitkan novel ini menjadi 4 buku seri terpisah. Jadi, 1000an halaman itu akan dipecah menjadi 4 jilid buku versi bahasa Indonesianya. Kondisi ini bisa juga menjadi tantangan menarik bagi saya untuk tidak membeli seri setelahnya sebelum saya benar-benar menuntaskan seri sebelumnya.
Kamu tertarik untuk membacanya juga?
