Meretas Otak: Cara Belajar Efektif dengan Teori RFT dan AI

Blogger di PinterIM.com, Auditor ASN, Qualified Risk Management Analysis, Sedang Tugas Belajar di Magister Administrasi Publik - Universitas Brawijaya
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Trian Ferianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda merasa sudah belajar berulang kali, tapi materinya tidak kunjung menempel di otak? Ternyata, ini bukan soal seberapa keras Anda menghafal, tapi seberapa 'cerdas' Anda menghubungkan informasi (connecting the dots). Izinkan saya berbagi sebuah hasil eksperimen yang mengubah cara saya belajar saat merasa frustrasi belajar bahasa baru.
Saat mulai belajar Bahasa Arab, saya kesulitan memahami struktur kalimatnya. Benak saya secara otomatis mencoba menghubungkan tata kalimat Bahasa Arab dengan pakem S-P-O-K dalam Bahasa Indonesia. Setelah saya konfirmasi, ternyata keduanya sama sekali tidak sama. Bahasa Arab tidak mengadopsi struktur S-P-O-K, melainkan memiliki dua 'cetak biru' (blueprint) khas sebagai tata kalimatnya. Penjelasan ini akhirnya menuntun saya untuk 'memarkir' konsep S-P-O-K saat saya belajar Bahasa Arab.
5 Cara Otak Kita Belajar (Menurut Teori RFT)
Secara teoretis, proses ini dikenal sebagai Relational Frame Theory (RFT). RFT mulai dikembangkan secara serius pada akhir 1980-an dan diformalkan dalam buku utamanya pada tahun 2001 oleh Steven C. Hayes dan koleganya. Dalam proses itu, para pakar psikologi menemukan bahwa otak kita, secara sadar maupun tidak, menggunakan beberapa 'bingkai' dasar saat belajar.
Secara singkat, lima bingkai tersebut adalah:
Koordinasi (Hubungan "sama dengan"): Naluri kita mencari kesamaan antara konsep baru dengan konsep yang sudah ada.
Perbandingan: Otak kita secara otomatis membandingkan hal baru dengan hal yang sudah kita pahami.
Oposisi: Untuk mempermudah pemahaman, kita sering mencari analogi lawan (contrarian) dari apa yang sudah kita ketahui.
Waktu: Kita secara naluriah menempatkan konsep baru pada sebuah lini masa imajiner di kepala kita.
Perspektif: Kemampuan untuk membingkai sebuah fenomena dari beragam sudut pandang (waktu, ruang, perspektif orang lain), yang memungkinkan pemahaman yang lebih kompleks dan bijaksana. Orang dengan bingkai perspektif yang terlatih cenderung memiliki empati yang baik. Bingkai ini pula yang disepakati para ilmuwan sebagai yang paling sulit dan perlu dilatih.
AI sebagai "Laboratorium Belajar" Pribadi Anda
Hasil uji coba saya membuktikan bahwa Artificial Intelligence (AI), dengan segala kemampuannya, bisa menjadi partner pembelajaran yang sangat efektif berdasarkan teori RFT.
Supaya lebih mudah, mari saya ajak Anda ke meja laboratorium penelitian saya. Berikut adalah catatan eksperimen saya dalam menggunakan AI untuk melatih setiap bingkai RFT:
Koordinasi: Untuk menguasai konsep yang benar-benar baru, saya "memaksa" AI untuk membuat hubungan dengan konsep terdekat yang sudah saya mengerti. Kasus S-P-O-K di awal tadi jadi contohnya.
Perbandingan: Karena sebelumnya saya telah mempelajari konsep NLP (Neuro-Linguistic Programming) dan melihat kemiripannya dengan RFT, saya "memaksa" AI memberikan penjelasan perbedaan mendasar atas keduanya. Ini membantu saya 'mendudukkan' RFT ke dalam bangunan pengetahuan saya tanpa perlu menghafal.
Oposisi: Saat menguji tafsir mainstream atas sebuah ayat suci, saya "memaksa" AI untuk berargumen sekuat mungkin menjadi oposisi. Ini menguji saya untuk terus beradu argumen hingga dapat mensintesis dua narasi yang berbeda secara harmonis. Sebab, tabrakan konsep yang tidak terkelola akan mudah dilupakan.
Waktu: Saat mempelajari peristiwa sejarah, saya "memaksa" AI untuk mendudukkannya dalam lini masa peristiwa yang sudah saya pahami sebelumnya. Ini sangat memudahkan pemahaman kronologis.
Perspektif: Saat menjumpai kesalahan umum dalam mempraktikkan bahasa baru, saya "memaksa" AI untuk memberikan analogi dari perspektif kesalahan serupa dalam Bahasa Indonesia. Kita juga bisa bersimulasi ‘memaksa’ AI untuk berperan sebagai pihak lain dan memberikan perspektif objektifnya. Simulasi ini memungkinkan kita mendapatkan pemahaman yang lebih kaya.
Eksperimen yang ditawarkan AI atas bingkai-bingkai pembelajaran RFT ini menunjukkan kemampuan luar biasa yang bisa kita nikmati sekarang. Kita hanya perlu berinteraksi dengan AI secara cerdas untuk mengakuisisi pemahaman baru. Dalam penerapannya, kelima bingkai RFT ini bisa kita kombinasikan dan tidak harus linier. Semakin terlatih, naluri kita akan menuntun kombinasi bingkai mana yang paling efektif untuk memahami sebuah konsep baru.
Metode ini terbukti secara ilmiah memudahkan proses belajar, dan AI memungkinkan akselerasi tersebut terjadi lebih cepat.
Sekarang, giliran Anda. Dari lima eksperimen di atas, mana yang paling ingin Anda coba? Atau mungkin Anda punya cara lain yang lebih efektif? Bagikan di kolom komentar!
