Konten dari Pengguna

Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Novel Remaja

triciamargareta

triciamargareta

Mahasiswa UIN RADEN MAS SAID SURAKARTA

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari triciamargareta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber gambar : Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
sumber gambar : Dokumen Pribadi

Baru-baru ini banyak sekali para penerbit buku mengambil cerita dari berbagai platform aplikasi internet, entah itu dalam Wattpad, maupun aplikasi Twitter, nah dalam aplikasi tersebut banyak anak muda zaman sekarang menuangkan gagasan mereka dalam bentuk cerita, entah cerita horor, fiksi, sedih, maupun romantis. Karena tidak ada batasan umur dalam menuangkan ide cerita dalam platform aplikasi tersebut, banyak anak muda yang bahkan masih di bawah umur menyalahgunakan aplikasi tersebut untuk menuangkan ide cerita yang mana, mereka bahkan belum memahami bahasa dengan baik.

Dengan banyaknya berbagai terbitan novel bergaya bebas membuat anak sekarang sulit membedakan mana bahasa yang baik dan mana bahasa yang kurang baik, hanya mencontoh perilaku dan gaya bahasa yang gaul.

Dalam hal ini memang tidak semua buku terbitan dari platform aplikasi bergaya bebas dan berbahasa bebas namun hampir setiap novel terbitan dari platform aplikasi memiliki kebahasaan yang kurang dan sulit untuk dipahami.

Saya mengambil salah satu contoh novel terbitan dari aplikasi Twitter dan sempat ramai pada masanya, yang berjudul “Rajawali” yang mana dalam novel ini memiliki gaya bahasa anak zaman sekarang yang tergolong bebas dan bahasa yang sulit dipahami, dan beberapa kata makian yang tidak pantas diucapkan dan juga beberapa perilaku siswa yang tidak baik untuk dicontoh, misalnya kegiatan tawuran, merokok, balapan dan lain sebagainya. mungkin juga faktor penulis yang masih di bawah umur sehingga masih belum memahami kebahasaan yang baik dan benar.

Bercerita tentang geng motor anak sekolah dan kisah percintaan remaja yang dikemas sedemikian rupa sehingga menarik para pembaca remaja. Diceritakan kisah Raka dan Jeha dalam menjalani percintaan yang penuh akan cobaan dan hambatan, dari mulai perjalanan putih abu-abu, masa kuliah, dan dilanjut ke jenjang lebih tinggi yang disebut pernikahan. di sini juga memberikan pengalaman bagaimana keadaan seseorang setelah ditinggal pergi orang terkasih, pertemuan tokoh baru, konflik antar tokoh, dan rasa kehilangan telah dituangkan secara detail oleh penulis. Untuk ukuran novel remaja alur ceritanya mungkin sangat menarik namun dalam pemilihan bahasa dan penulisan bahasa masih kurang, ada beberapa kalimat yang sulit untuk dipahami, dan beberapa ejaan yang masih salah terdapat dalam novel tersebut.

Contoh penggunaan kalimat yang kurang berkenan terdapat kata makian seperti brengsek, anjir, goblok, bego, dan lain sebagainya. Mungkin ada beberapa novel lain yang menggunakan kata-kata tersebut namun tidak adanya rating umur dan diperjualbelikan secara bebas mungkin sedikit membuat khawatir karena dapat mempengaruhi anak-anak remaja yang membacanya, apalagi penulisnya juga masih tergolong di bawah umur.

Saya mencoba mewawancarai anak di bawah umur (13 tahun) dengan adanya bacaan yang kurang pantas dari beberapa novel terbitan platform, di mana anak tersebut mengatakan bahwa “dengan kata-kata tersebut berada di dalam novel membuat saya yang membaca sudah biasa karena saya sudah sering membaca atau mendengar kata-kata tersebut. Nyaman atau tidak sebenarnya kurang nyaman karena kata-kata tersebut kurang berkenan atau tidak cocok kepada sepantar saya, awalnya rasa risih bila membaca kata-kata tersebut, namun lama kelamaan sering munculnya bahasa bebas tersebut membuat saya berpikir bahwa mungkin tidak apa menggunakan dengan teman sebaya, seringnya membaca kata tersebut saya menjadi terbiasa.” kata anak tersebut.

Tetapi jika kata-kata tersebut sering digunakan di dalam novel takutnya berdampak buruk kepada yang lainya, dan beranggapan bahwa kata tersebut hanyalah kata biasa yang sudah wajar. Dengan kata lain anak tersebut mengatakan bahwa terbiasanya perkataan buruk terlahir dari bahan bacaan yang mengandung kata-kata buruk.

Walaupun banyaknya pemakaian bahasa yang kurang berkenan di novel ini, nyatanya novel ini termasuk dalam novel terbaik dari bagaimana banyaknya peminat dan bagaimana alur yang tersaji dengan apik, humor, kisah sekolah, pertemanan, dan kehilangan dalam penyajian kata-katanya dapat membuat pembaca merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh dalam cerita novel tersebut, inilah yang membuat daya tarik dalam novel tersebut bisa terbilang cukup tinggi, apalagi visualisasi yang dipakai penulis sebagai gambaran tokoh di cerita ini mengambil visualisasi idola Korea yang mana banyak peminatnya, inilah salah satu cara penulis untuk menarik pembaca.

Mungkin untuk penulis muda ini termasuk pencapaian yang bagus, namun untuk penggunaan bahasanya masih kurang daripada penulis-penulis terbitan mandiri, karena novel ini termasuk terbitan dari platform Twitter maka penerbit mengambil cerita ini dari banyaknya peminta pembaca walaupun sebenarnya dalam kebahasaan masih kurang baik untuk dijadikan novel terbitan, para penerbit seharusnya bisa menyesuaikan tulisan sesuai umur diedarkannya novel, bilamana novel diedarkan teruntuk khalayak ramai maka beberapa bahasa lebih baik diubah namun bila sesuai umur seharusnya dalam sampul buku diberi peringatan batas umur yang boleh dibaca oleh beberapa remaja tertentu yang sudah sesuai umur dalam peringatan novel.