AI Membantu Saya Belajar, tetapi Tidak Selalu Memberikan Jawaban yang Benar

Saya seorang Mahasiswa Semester 5, Prodi Teknik Elektro, Universitas Pamulang Hobby saya menulis dan membaca
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Trihendriyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah cara banyak orang memperoleh informasi, termasuk mahasiswa seperti saya. Jika dulu saya harus membuka banyak buku, untuk mencari referensi di perpustakaan, atau menonton berbagai video pembelajaran hanya untuk memahami satu materi, kini saya bisa memperoleh penjelasan awal dalam hitungan detik melalui AI. Sebagai mahasiswa Teknik Elektro, saya merasakan perubahan tersebut secara langsung. AI bukan hanya mempermudah proses belajar, tetapi juga mengubah cara saya memahami materi, mengerjakan tugas, dan mencari solusi ketika mengalami kesulitan.
Jujur saja saya pertama kali menggunakan AI baru-baru ini setelah duduk di bangku perkuliahan, kalo dulu pas jaman saya sekolah di SMP maupun SMK saya biasanya menggunakan internet untuk mencari informasi ataupun mencari kunci jawaban biasanya saya menggunakan brainly.
Awalnya, saya menganggap AI hanya sebagai alat untuk mencari jawaban dengan cepat. Namun, setelah menggunakannya dalam beberapa mata kuliah, saya menyadari bahwa AI jauh lebih bermanfaat jika dimanfaatkan sebagai teman belajar. Ketika menemui konsep yang sulit, seperti sistem kontrol, sistem pemrosesan sinnyal, atau medan elektromagnetik, saya meminta AI menjelaskan materi tersebut dengan bahasa yang lebih sederhana. Penjelasan yang diberikan membantu saya memahami dasar-dasar konsep sebelum mempelajarinya lebih mendalam melalui buku dan materi dari dosen.
Selain membantu memahami materi, AI juga membuat proses mengerjakan tugas menjadi lebih efisien terhadap waktu belajar. Saya sering menggunakannya untuk menyusun kerangka laporan praktikum, memperbaiki tata bahasa, mencari ide penelitian, atau memahami isi jurnal berbahasa Inggris. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan lebih cepat. Dengan begitu, saya memiliki lebih banyak waktu untuk berdiskusi dengan teman, mencoba simulasi, atau mempraktikkan materi yang telah dipelajari.
Saya juga pernah menggunakan bantuan AI pada saat proses penyusunan makalah dan penyelesaian kodingan pada mata kuliah sistem pemrosesan sinyal. Jujur AI memang membantu saya dalam mengerjakan tugas yang diberikan tapi itu juga saya barengi dengan mencari artikel ataupun jurnal sebagai acuan referensi untuk saya pelajari agar tidak ada kesalahan.
Meskipun demikian, saya juga menyadari bahwa AI memiliki keterbatasan. Tidak semua jawaban yang diberikan benar atau sesuai dengan konteks perkuliahan. Pernah suatu ketika saya menemukan penjelasan yang terlihat meyakinkan, tetapi setelah dibandingkan dengan buku referensi dan penjelasan dosen, ternyata terdapat beberapa bagian yang kurang tepat. Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa AI bukan sumber kebenaran mutlak. Informasi yang diberikan tetap harus diperiksa kembali agar tidak menimbulkan kesalahan dalam memahami materi.
Waktu itu pada saat saya mencari penjelasan tentang rumus yang diberikan dosen pada mata kuliah medan elekromagnetik menggunakan AI mendapatkan rumus yang berbeda dengan yang diajarkan dosen di kelas. Setelah saya bandingkan dengan buku dan bertanya kepada dosen, ternyata penjelasan AI kurang sesuai dengan konteks soal. Dari situ saya belajar bahwa AI harus digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai satu-satunya sumber belajar.
Menurut saya, tantangan terbesar bukanlah keberadaan AI, melainkan bagaimana mahasiswa menggunakannya. Kemudahan memperoleh jawaban dapat membuat sebagian mahasiswa tergoda untuk menyalin hasil AI tanpa memahami isi maupun proses penyelesaiannya. Jika kebiasaan tersebut terus dilakukan, kemampuan berpikir kritis, menganalisis, dan memecahkan masalah akan semakin berkurang. Padahal, kemampuan tersebut merupakan bekal utama yang harus dimiliki oleh seorang mahasiswa Teknik Elektro ketika menghadapi dunia kerja yang penuh dengan tantangan nyata.
Bagi saya, AI seharusnya diposisikan sebagai asisten belajar, bukan sebagai pengganti belajar. Teknologi ini dapat membantu menjelaskan materi, memberikan contoh penyelesaian soal, atau membantu menyusun ide. Namun, proses memahami konsep, melakukan perhitungan, berdiskusi dengan dosen, dan melakukan praktik tetap harus menjadi bagian utama dari proses pembelajaran. Dengan cara tersebut, AI akan menjadi alat yang memperkuat kemampuan mahasiswa, bukan menggantikannya.
Perkembangan teknologi akan terus berjalan seiring berjalannya waktu, dan AI kemungkinan akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dunia pendidikan maupun dunia kerja. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mempersiapkan diri dengan kemampuan yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, beradaptasi, dan menjunjung tinggi etika akademik. Saya percaya bahwa mahasiswa yang mampu memanfaatkan AI secara bijaksana akan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dan menghadapi tantangan di masa depan.
Sebagai mahasiswa Teknik Elektro, saya melihat AI bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang untuk belajar dengan lebih efektif. Teknologi memang dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi rasa ingin tahu, semangat belajar, dan kemauan untuk terus berkembang tetap berasal dari diri sendiri. Pada akhirnya, bukan AI yang menentukan kualitas seorang mahasiswa, melainkan bagaimana mahasiswa tersebut memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kemampuan dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Dan terakhir pengalaman yang telah saya buat tersebut membuat saya sadar bahwa kemampuan berpikir dan memahami konsep tetap menjadi hal yang paling penting. AI memang mempercepat proses belajar, tetapi keberhasilan memahami materi tetap bergantung pada usaha kita sendiri.
Dampak Penggunaan AI
Penggunaan AI memberikan banyak dampak positif bagi proses belajar mahasiswa, terutama dalam meningkatkan efisiensi dan kemudahan memperoleh informasi. Dengan AI, saya dapat memahami materi yang sulit melalui penjelasan yang lebih sederhana, memperoleh referensi awal dengan cepat, serta menyusun kerangka tugas, laporan praktikum, dan makalah secara lebih terstruktur. AI juga membantu menerjemahkan jurnal berbahasa Inggris dan memberikan contoh penyelesaian soal yang dapat dijadikan bahan belajar. Bagi saya sebagai mahasiswa Teknik Elektro, AI bukan hanya mempercepat proses belajar, tetapi juga membantu menghemat waktu sehingga saya dapat lebih fokus berdiskusi, melakukan praktikum, dan memperdalam pemahaman konsep dari berbagai sumber yang terpercaya.
Di sisi lain, penggunaan AI juga memiliki dampak negatif apabila tidak digunakan secara bijaksana. Kemudahan memperoleh jawaban dapat membuat mahasiswa menjadi terlalu bergantung pada AI sehingga kurang terdorong untuk berpikir kritis dan memahami konsep secara mandiri. Selain itu, AI tidak selalu memberikan informasi yang akurat atau sesuai dengan konteks materi yang diajarkan dosen. Jika jawaban tersebut langsung dipercaya tanpa melakukan verifikasi melalui buku, jurnal ilmiah, maupun penjelasan dosen, kesalahan pemahaman dapat terjadi. Oleh karena itu, AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu pembelajaran, bukan sebagai pengganti proses belajar maupun satu-satunya sumber informasi.
