Kemudahan AI dan Tantangan Mahasiswa Untuk Tetap Berpikir Kritis

Mahasiswa Semester 5 Teknik Elektro Universitas Pamulang Hobi menulis dan membaca
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Trihendriyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai mahasiswa, saya merasakan sendiri bagaimana perkembangan teknologi mengubah cara saya belajar. Dulu, ketika mendapatkan tugas kuliah, saya harus mencari materi dari buku, artikel di internet, atau bertanya kepada teman. Sekarang, ada AI yang bisa membantu menjelaskan berbagai hal hanya dalam beberapa detik. Tinggal mengetik pertanyaan, jawaban dan penjelasan langsung muncul. Awalnya saya merasa sangat terbantu dengan kemudahan ini. Namun, semakin sering menggunakan AI, saya mulai berpikir, apakah kemudahan ini justru bisa membuat mahasiswa menjadi malas berpikir?
Bagi saya, AI memang menjadi salah satu teknologi yang cukup membantu dalam kehidupan perkuliahan. Ketika ada materi yang belum saya pahami, saya bisa meminta AI menjelaskannya dengan bahasa yang lebih sederhana. Saat sedang membuat tugas atau artikel, saya juga bisa menggunakannya untuk mencari ide dan menyusun kerangka pembahasan. Hal yang sebelumnya membutuhkan waktu cukup lama sekarang bisa dilakukan dengan lebih cepat. Tetapi saya sadar, cepat selesai bukan berarti saya sudah benar-benar memahami materi tersebut.
Saya sendiri pernah berada di posisi ketika mendapatkan tugas dan merasa bingung harus mulai dari mana. Karena ingin cepat selesai, terkadang muncul keinginan untuk langsung meminta AI memberikan jawabannya. Memang praktis, tetapi kalau terus dilakukan, saya merasa proses belajar saya justru berkurang. Saya mungkin mendapatkan jawaban yang benar, tetapi belum tentu mengerti bagaimana jawaban tersebut diperoleh. Dari situ saya mulai mencoba mengubah cara menggunakan AI, yaitu memahami soal terlebih dahulu sebelum meminta bantuan.
Sebagai mahasiswa Teknik Elektro, saya merasa kemampuan memahami proses dan konsep sangat penting. Dalam perkuliahan, tidak cukup hanya mengetahui hasil akhirnya saja. Misalnya ketika mempelajari rangkaian listrik, elektronika, atau sistem digital, kita perlu memahami bagaimana suatu rangkaian bekerja dan mengapa hasilnya bisa seperti itu. AI memang bisa membantu memberikan penjelasan, tetapi tetap saya yang harus memahami dan mempraktikkan konsep tersebut. Apalagi ketika masuk ke tugas atau praktik, kita tidak bisa hanya mengandalkan jawaban dari AI.
Menurut saya, AI seharusnya digunakan sebagai teman belajar, bukan sebagai pengganti otak kita. Ketika saya sudah mencoba mengerjakan sesuatu tetapi masih mengalami kesulitan, AI bisa saya gunakan untuk membantu mencari letak kesalahan atau memberikan penjelasan tambahan. Cara seperti ini menurut saya lebih bermanfaat dibandingkan langsung meminta jawaban jadi. Dengan begitu, saya tetap berpikir dan berusaha menyelesaikan masalah sendiri, sementara AI membantu ketika saya benar-benar membutuhkan bantuan.
Selain untuk tugas kuliah, saya juga merasakan manfaat AI ketika sedang membuat tulisan. Kadang saya sudah mempunyai ide, tetapi kesulitan menentukan judul atau mengembangkan pembahasannya. AI bisa membantu memberikan beberapa pilihan yang kemudian saya sesuaikan lagi dengan pemikiran dan pengalaman saya sendiri. Dari situ saya belajar bahwa AI sebenarnya bukan sesuatu yang harus dihindari. Justru kita perlu belajar menggunakannya dengan benar agar teknologi tersebut bisa membantu perkembangan diri kita.
Meski begitu, saya juga sadar bahwa terlalu bergantung pada AI bisa menjadi kebiasaan yang kurang baik. Kalau setiap ada tugas langsung meminta jawaban tanpa mencoba memahami sendiri, lama-lama kemampuan berpikir kritis bisa ikut berkurang. Kita juga tidak boleh langsung percaya terhadap semua jawaban yang diberikan AI. Informasi tetap perlu diperiksa dan dibandingkan dengan sumber lain. Bagi saya, menggunakan AI tetap harus disertai dengan rasa ingin tahu dan kemauan untuk belajar.
Pada akhirnya, saya tidak menganggap AI sebagai penyebab mahasiswa menjadi malas berpikir. Justru cara kita menggunakannya yang menentukan. Sebagai mahasiswa, saya ingin memanfaatkan AI untuk membuat proses belajar menjadi lebih mudah, bukan untuk menghilangkan proses belajarnya. Teknologi akan terus berkembang dan kemungkinan AI akan semakin pintar di masa depan. Karena itu, menurut saya tantangan mahasiswa bukan menjauhi AI, tetapi bagaimana tetap menjadi manusia yang mau berpikir, belajar, dan memahami sesuatu meskipun sudah ada teknologi yang mampu memberikan jawaban dengan cepat.
