Kuliah di Era Digital: Mengapa Fokus Semakin Sulit?

Mahasiswa Semester 5 Teknik Elektro Universitas Pamulang Hobi menulis dan membaca
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Trihendriyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Mahasiswa saat ini memiliki akses yang jauh lebih mudah terhadap berbagai sumber pembelajaran dibandingkan generasi sebelumnya. Materi kuliah dapat ditemukan melalui jurnal digital, video pembelajaran, buku elektronik, platform pendidikan, hingga kecerdasan buatan (AI). Dengan hanya menggunakan laptop atau telepon genggam, mahasiswa dapat mencari informasi dan mempelajari berbagai materi kapan saja dan di mana saja.
Kemudahan tersebut tentu memberikan banyak manfaat bagi mahasiswa. Ketika mengalami kesulitan memahami materi perkuliahan, mahasiswa dapat mencari penjelasan tambahan melalui internet atau memanfaatkan berbagai teknologi pembelajaran. AI juga dapat membantu memberikan penjelasan awal, merangkum materi, maupun memberikan contoh soal untuk dipelajari. Kehadiran teknologi membuat proses belajar menjadi lebih fleksibel dan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada penjelasan dosen di dalam kelas.
Salah satu penyebabnya adalah terlalu banyaknya distraksi yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. Telepon genggam yang seharusnya membantu mahasiswa mencari materi kuliah juga menyediakan media sosial, seperti massage chat, video pendek, game, dan berbagai notifikasi yang dapat menarik perhatian kapan saja. Ketika sedang belajar, satu notifikasi saja terkadang cukup untuk membuat konsentrasi teralihkan. Ditambah dengan kebiasaan berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lainnya, mahasiswa dapat terbiasa menerima informasi secara cepat sehingga merasa sulit bertahan pada satu aktivitas dalam waktu yang lama. Akibatnya, belajar yang seharusnya membutuhkan konsentrasi justru sering terganggu oleh berbagai hal yang sebenarnya tidak berkaitan dengan kegiatan perkuliahan. Tidak jarang seseorang berniat membuka ponsel untuk mencari informasi mengenai tugas, tetapi beberapa menit kemudian justru menghabiskan waktu untuk melihat konten yang tidak berkaitan dengan kegiatan belajar.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi kebiasaan belajar mahasiswa. Terlalu sering berpindah perhatian dari satu aplikasi ke aplikasi lain dapat membuat proses memahami materi menjadi kurang maksimal. Mahasiswa mungkin merasa sudah belajar dalam waktu yang lama, padahal sebagian waktu tersebut digunakan untuk membuka media sosial atau melakukan aktivitas lain. Akibatnya, tugas dapat tertunda dan konsentrasi menjadi lebih mudah terpecah.
Sebagai seorang mahasiswa, saya juga merasakan bagaimana teknologi dapat menjadi alat bantu sekaligus sumber ilmu dalam proses belajar. Ketika mengerjakan tugas atau mencari materi perkuliahan, saya sering menggunakan internet dan AI untuk membantu memahami suatu pembahasan. Namun, penggunaan telepon genggam juga terkadang membuat saya terdistraksi oleh notifikasi dan media sosial. Dari pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa teknologi sebenarnya bukan masalah utama. Yang lebih penting adalah bagaimana saya mengatur penggunaan teknologi agar tetap menjadi alat bantu belajar, bukan sesuatu yang justru mengganggu konsentrasi.
Untuk mengatasi masalah tersebut, mahasiswa perlu membangun kebiasaan belajar yang lebih disiplin. Salah satunya dengan menentukan waktu khusus untuk belajar dan mengurangi notifikasi yang tidak diperlukan. Mahasiswa juga dapat membuat target belajar, menggunakan metode belajar yang sesuai, serta memberikan jeda setelah menyelesaikan tugas tertentu. Teknologi sebaiknya digunakan sesuai kebutuhan, misalnya membuka AI atau internet ketika memang diperlukan untuk mencari referensi, kemudian kembali fokus pada materi yang sedang dipelajari.
Dan pada akhirnya, era digital memberikan kesempatan yang sangat besar bagi mahasiswa untuk belajar dengan cara yang lebih mudah, cepat, dan fleksibel. Namun, kemudahan tersebut harus diimbangi dengan kemampuan mengendalikan diri dan menjaga fokus. Teknologi hanyalah sebuah alat, sedangkan keputusan untuk menggunakannya secara produktif berada di tangan penggunanya. Dengan memanfaatkan teknologi secara bijak, mahasiswa dapat memperoleh manfaat dari perkembangan digital tanpa kehilangan kemampuan untuk fokus dan belajar secara mandiri.
