Ternyata Semakin Dewasa, Teman Terbaik Adalah Pasangan Kita Sendiri

Mahasiswa Semester 5 Teknik Elektro Universitas Pamulang Hobi menulis dan membaca
ยทwaktu baca 5 menit
Tulisan dari Trihendriyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dulu, ketika masih sekolah, rasanya punya banyak teman adalah hal yang biasa. Hampir setiap hari ada saja cerita yang dibagikan, mulai dari tugas, bermain bersama, sampai sekadar nongkrong tanpa tujuan yang jelas. Rasanya hidup akan selalu ramai karena ada banyak orang di sekitar kita. Namun, semakin bertambah usia, keadaan perlahan berubah. Kesibukan masing-masing membuat waktu untuk berkumpul semakin sedikit. Dari situ saya mulai menyadari bahwa ketika semakin dewasa, lingkaran pertemanan juga bisa semakin kecil.
Hal yang sama mulai saya rasakan ketika memasuki dunia perkuliahan. Saya berkuliah di Universitas Pamulang, mengambil Program Studi Teknik Elektro. Memasuki dunia kuliah tentu menjadi pengalaman baru bagi saya karena harus beradaptasi dengan lingkungan, teman-teman, dan kegiatan yang berbeda dari masa sekolah. Di masa awal perkuliahan itulah saya justru mendapatkan sebuah pengalaman yang tidak pernah saya duga sebelumnya, yaitu bertemu dengan seseorang yang akhirnya menjadi pasangan saya sampai sekarang.
Pertemuan kami berawal saat kegiatan PKKMB. Saat itu kami sama-sama sedang berada di fase awal menjadi mahasiswa baru dan masih berusaha mengenal lingkungan kampus. Saya sendiri mengambil Program Studi Teknik Elektro, sedangkan dia mengambil Program Studi Pendidikan Ekonomi. Walaupun kami berasal dari program studi yang berbeda, ternyata kegiatan PKKMB menjadi awal dari perkenalan kami. Dari sebuah pertemuan sederhana di awal perkuliahan, hubungan kami perlahan berkembang menjadi lebih dekat.
Awalnya tentu saya tidak pernah berpikir bahwa orang yang saya temui di awal masuk kuliah akan menjadi seseorang yang masih menemani saya sampai sekarang. Kami mulai saling mengenal, bertukar cerita, dan menjalani berbagai kegiatan sebagai mahasiswa. Seiring berjalannya waktu, kami tidak hanya berbagi cerita tentang kehidupan pribadi, tetapi juga tentang perkuliahan masing-masing. Saya dengan kesibukan sebagai mahasiswa Teknik Elektro dan dia dengan aktivitasnya sebagai mahasiswa Pendidikan Ekonomi.
Sekarang kami sudah berada di semester lima dan sudah melewati cukup banyak cerita bersama. Bukan hanya cerita yang menyenangkan, tetapi juga suka dan duka dalam menjalani perkuliahan maupun hubungan. Kami sama-sama pernah merasakan capeknya mengerjakan tugas, menghadapi kesibukan kuliah, kurang tidur, banyak pikiran, sampai berada di titik ingin menyerah karena merasa semuanya terlalu berat. Di sisi lain, hubungan kami juga tidak selalu berjalan mulus. Ada perbedaan pendapat, salah paham, dan masalah kecil yang terkadang membuat kami sama-sama merasa lelah.
Namun, dari semua itu kami belajar bahwa hubungan bukan tentang siapa yang paling kuat atau siapa yang tidak pernah melakukan kesalahan. Hubungan adalah tentang bagaimana dua orang bisa tetap saling menguatkan ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja. Ketika saya sedang lelah dengan perkuliahan, dia menjadi salah satu orang yang memberikan semangat. Begitu juga ketika dia sedang menghadapi kesulitan, saya berusaha untuk berada di sisinya. Mungkin kami tidak selalu bisa menyelesaikan masalah satu sama lain, tetapi setidaknya kami bisa saling mendengarkan dan mengingatkan bahwa kami tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Bagi saya, salah satu hal yang membuat hubungan ini terasa berarti adalah kami bisa saling melengkapi. Kami memiliki jurusan yang berbeda, kesibukan yang berbeda, bahkan terkadang cara berpikir yang berbeda. Tetapi justru dari perbedaan itu kami belajar banyak hal. Saya bisa belajar memahami sudut pandangnya, begitu juga dia belajar memahami dunia perkuliahan saya. Kami tidak harus selalu memiliki pemikiran yang sama untuk bisa berjalan bersama.
Semakin dewasa, saya mulai memahami bahwa pasangan tidak hanya tentang hubungan romantis. Pasangan juga bisa menjadi teman untuk bertukar pikiran, tempat bercerita, tempat mengeluh ketika sedang lelah, sekaligus seseorang yang memberikan semangat ketika kita sedang berada di titik terendah. Ada kalanya kita tidak membutuhkan solusi yang rumit. Kita hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan dan berkata, "Kita lewati sama-sama."
Namun, memiliki pasangan sebagai teman terbaik bukan berarti harus meninggalkan teman-teman lainnya. Teman tetap memiliki peran penting dalam kehidupan kita. Hanya saja, ketika semakin dewasa, kita mulai lebih menghargai kualitas daripada jumlah. Memiliki seseorang yang sudah mengetahui cerita kita, memahami keadaan kita, melihat sisi baik dan buruk kita, tetapi tetap memilih untuk bertahan dan tumbuh bersama tentu menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Bagi saya, pertemuan di awal PKKMB Universitas Pamulang menjadi salah satu bagian yang tidak akan saya lupakan. Saat itu saya hanya menjalani kegiatan sebagai mahasiswa baru, tanpa mengetahui bahwa dari kegiatan tersebut saya akan bertemu dengan seseorang yang kemudian menemani perjalanan kuliah saya sampai semester lima. Saya di Teknik Elektro dan dia di Pendidikan Ekonomi, dua program studi yang berbeda, tetapi kami bisa berjalan bersama, melewati suka dan duka, serta saling melengkapi sampai sekarang.
Sampai hari ini, kami masih sama-sama belajar untuk menjadi lebih baik. Kami masih menghadapi capeknya perkuliahan, kesibukan masing-masing, dan berbagai tantangan dalam hubungan. Tetapi satu hal yang membuat saya bersyukur adalah kami masih bisa saling menguatkan. Dari perjalanan ini saya belajar bahwa semakin dewasa, kita mungkin tidak membutuhkan banyak orang untuk selalu ada. Terkadang, satu orang yang mau mendengarkan, memahami, mendukung, dan tumbuh bersama kita sudah lebih dari cukup. Dan bagi saya, orang itu bukan hanya pasangan, tetapi juga teman terbaik yang saya temukan sejak awal perjalanan menjadi mahasiswa.
