Flexing di Medsos: Gaya Hidup atau Tekanan Sosial bagi Generasi Muda?

Mahasiswa smtr lima T. Elektro Universitas Pamulang Hobi Belajar dan Berbagi Ilmu
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Trihendriyz tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Media sosial saat ini telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat, khususnya generasi muda. Hampir setiap hari kita dapat melihat berbagai unggahan mengenai kehidupan seseorang, mulai dari makanan yang dikonsumsi, tempat yang dikunjungi, barang yang dibeli, hingga pencapaian yang berhasil diraih. Tidak jarang pula kita menemukan unggahan mengenai barang bermerek, kendaraan mahal, liburan ke luar negeri, atau gaya hidup yang terlihat mewah. Fenomena tersebut kemudian dikenal sebagai salah satu bentuk flexing, yaitu perilaku menunjukkan sesuatu yang dianggap dapat meningkatkan status atau citra seseorang di hadapan orang lain.
Pada satu sisi, membagikan pencapaian atau kebahagiaan melalui media sosial merupakan hal yang wajar. Seseorang tentu memiliki hak untuk membagikan pengalaman hidupnya. Namun, persoalan muncul ketika aktivitas tersebut berubah menjadi kebutuhan untuk terus menunjukkan bahwa dirinya lebih sukses, lebih kaya, atau lebih unggul dibandingkan orang lain.
Apa Itu Flexing?
Secara sederhana, flexing dapat dipahami sebagai tindakan memamerkan kekayaan, pencapaian, kemampuan, maupun gaya hidup kepada orang lain. Bentuknya dapat bermacam-macam, mulai dari menunjukkan barang mewah, memperlihatkan tempat liburan, mengunggah kendaraan baru, hingga menampilkan pencapaian tertentu secara berulang-ulang. Dalam konteks media sosial, flexing menjadi lebih mudah dilakukan karena seseorang memiliki kendali penuh terhadap apa yang ingin ditampilkan kepada publik.
Namun, perlu dipahami bahwa tidak semua orang yang mengunggah barang mahal atau pencapaian dapat langsung disebut melakukan flexing. Ada orang yang memang sekadar ingin berbagi pengalaman, mengabadikan momen, atau memberikan informasi kepada pengikutnya. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari konteks dan tujuan di balik unggahan. Flexing lebih berkaitan dengan adanya keinginan untuk memperoleh pengakuan, menunjukkan status, atau membangun kesan tertentu di mata orang lain.
Mengapa Media Sosial Menjadi Tempat yang Subur bagi Flexing?
Media sosial memiliki karakteristik yang membuat budaya flexing semakin berkembang. Pengguna dapat memilih bagian tertentu dari kehidupannya untuk ditampilkan kepada publik. Kehidupan yang terlihat di media sosial akhirnya sering kali bukan gambaran kehidupan seseorang secara keseluruhan, melainkan kumpulan momen terbaik yang sengaja dipilih untuk dibagikan.
Selain itu, keberadaan tombol suka, komentar, jumlah pengikut, dan jumlah tayangan memberikan bentuk validasi yang dapat dirasakan secara langsung. Ketika sebuah unggahan mendapatkan banyak perhatian, seseorang dapat merasa bahwa dirinya dihargai atau dianggap berhasil. Sebaliknya, unggahan yang tidak mendapatkan respons dapat membuat seseorang merasa kurang diperhatikan. Kondisi ini dapat mendorong sebagian pengguna untuk membuat konten yang semakin menarik, bahkan dengan menampilkan gaya hidup yang lebih mewah atau berlebihan.
Flexing dan Budaya Pamer di Kalangan Generasi Muda
Generasi muda merupakan salah satu kelompok yang paling dekat dengan perkembangan media sosial. Tren mengenai fashion, gadget, kendaraan, tempat nongkrong, kuliner, hingga perjalanan dapat menyebar dengan sangat cepat. Apa yang awalnya hanya dilakukan oleh sebagian orang dapat berubah menjadi standar yang dianggap umum setelah sering muncul di media sosial.
Sebagai contoh, ketika seseorang melihat teman atau figur yang dikaguminya menggunakan barang tertentu, muncul keinginan untuk memiliki barang yang sama. Bukan semata-mata karena barang tersebut dibutuhkan, tetapi karena barang tersebut dianggap sebagai simbol status dan keberhasilan. Akhirnya, gaya hidup tidak lagi hanya berkaitan dengan kebutuhan pribadi, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana seseorang ingin dilihat oleh lingkungan sosialnya.
Salah satu alasan seseorang melakukan flexing adalah kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan. Manusia pada dasarnya memiliki keinginan untuk diterima dan dihargai oleh lingkungan. Media sosial memberikan ruang yang sangat besar untuk memenuhi kebutuhan tersebut karena seseorang dapat memperoleh respons dari banyak orang hanya melalui sebuah unggahan.
Bagi sebagian orang, mendapatkan banyak likes, komentar positif, atau pujian dapat memberikan kepuasan tersendiri. Masalahnya, ketika kepuasan tersebut semakin bergantung pada penilaian orang lain, seseorang dapat mulai mengukur harga dirinya berdasarkan respons yang diterima di media sosial. Kehidupan kemudian seolah menjadi sebuah pertunjukan yang harus terus dipelihara agar mendapatkan perhatian.
Pada akhirnya, persoalannya bukan tentang siapa yang memiliki barang paling mahal atau siapa yang mampu menunjukkan kehidupan paling mewah. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menentukan nilai dirinya tanpa harus terus-menerus bergantung pada penilaian orang lain.
Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk berbagi dan berkomunikasi, bukan tempat untuk berlomba menunjukkan siapa yang paling sukses. Generasi muda perlu menyadari bahwa kehidupan yang sebenarnya tidak selalu terlihat di layar. Di balik setiap unggahan yang tampak sempurna, terdapat cerita yang mungkin tidak pernah ditampilkan. Karena itu, daripada terus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain, akan lebih baik jika media sosial digunakan sebagai sarana untuk berkembang, belajar, dan membangun kehidupan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan diri sendiri.
