FOMO di Era Digital: Mengapa Kita Takut Ketinggalan Trend?

Mahasiswa smtr lima T. Elektro Universitas Pamulang Hobi Belajar dan Berbagi Ilmu
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Trihendriyz tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita melihat teman-teman sedang mengikuti tren tertentu, lalu muncul keinginan untuk ikut meskipun sebelumnya tidak terlalu tertarik? Misalnya, ketika sebuah tempat makan sedang viral di media sosial, banyak orang berbondong-bondong datang dan mengunggah pengalaman mereka. Kita pun mulai merasa penasaran dan takut dianggap ketinggalan jika belum mencobanya. Hal yang sama dapat terjadi pada tren pakaian, gadget, makanan, tempat nongkrong, hingga kegiatan tertentu. Perasaan ingin ikut karena takut kehilangan pengalaman yang sedang dirasakan orang lain merupakan salah satu gambaran dari fenomena FOMO.
Di kehidupan sehari-hari, FOMO mungkin terlihat sebagai sesuatu yang sederhana. Namun, jika terjadi terus-menerus, perasaan tersebut dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan. Seseorang dapat mengikuti tren bukan karena benar-benar membutuhkannya, melainkan karena tidak ingin merasa berbeda dari lingkungan sekitar. Dari sinilah muncul pertanyaan: apakah kita mengikuti sesuatu karena memang menginginkannya, atau hanya karena takut menjadi satu-satunya orang yang tidak ikut?
Mengenal Apa Itu FOMO
FOMO merupakan singkatan dari Fear of Missing Out, yang secara sederhana berarti rasa takut tertinggal dari pengalaman, aktivitas, informasi, atau tren yang sedang diikuti orang lain. Seseorang yang mengalami FOMO dapat merasa bahwa ada sesuatu yang penting sedang terjadi tanpa dirinya. Akibatnya, muncul dorongan untuk ikut agar tidak merasa tertinggal.
FOMO berbeda dengan sekadar mengikuti tren. Mengikuti tren dapat dilakukan karena seseorang memang menyukai atau membutuhkan sesuatu. Sementara itu, FOMO lebih berkaitan dengan perasaan takut kehilangan kesempatan atau takut tidak menjadi bagian dari suatu kelompok. Perasaan tersebut membuat seseorang terkadang mengambil keputusan secara terburu-buru tanpa mempertimbangkan apakah hal tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan dirinya.
Mengapa Era Digital Membuat FOMO Semakin Kuat?
Perkembangan teknologi dan media sosial membuat kita dapat mengetahui aktivitas orang lain hampir setiap saat. Melalui Instagram, TikTok, dan berbagai platform lainnya, kita dapat melihat teman, influencer, maupun orang yang bahkan tidak kita kenal sedang melakukan berbagai aktivitas. Mereka dapat membagikan makanan yang sedang dicoba, tempat yang dikunjungi, barang yang baru dibeli, hingga pencapaian yang berhasil diraih.
Kondisi tersebut membuat kehidupan orang lain terasa sangat dekat dengan kehidupan kita. Dahulu, seseorang mungkin tidak mengetahui apa yang dilakukan temannya ketika tidak bertemu. Sekarang, berbagai aktivitas dapat diketahui hanya melalui unggahan di media sosial. Semakin banyak informasi yang kita lihat, semakin besar pula kemungkinan munculnya perasaan bahwa kita sedang melewatkan sesuatu.
Algoritma dan Tren yang Tidak Pernah Berhenti
Selain perilaku pengguna, algoritma media sosial juga ikut memengaruhi munculnya FOMO. Ketika kita sering melihat atau berinteraksi dengan suatu jenis konten, platform biasanya akan kembali menampilkan konten yang serupa. Akibatnya, sebuah tren dapat muncul berkali-kali di layar kita.
Ketika terus melihat orang melakukan hal yang sama, kita dapat memperoleh kesan bahwa semua orang sedang mengikuti tren tersebut. Padahal, kenyataannya belum tentu demikian. Media sosial hanya menampilkan konten berdasarkan aktivitas dan minat pengguna. Namun, karena paparan yang berulang, sesuatu yang sebenarnya hanya populer di kelompok tertentu dapat terlihat seolah-olah menjadi kebutuhan semua orang.
Pada akhirnya, muncul pemikiran seperti, “Kalau semua orang sudah ikut, saya juga harus ikut.” Inilah salah satu kondisi yang dapat memperkuat FOMO di era digital.
FOMO di Kalangan Generasi Muda
Generasi muda merupakan salah satu kelompok yang sangat dekat dengan perkembangan media sosial dan tren digital. FOMO dapat muncul dalam berbagai bentuk kehidupan sehari-hari. Seseorang dapat merasa takut ketinggalan tren fashion karena melihat teman-temannya menggunakan pakaian tertentu. Ada pula yang merasa harus memiliki gadget terbaru agar tidak dianggap tertinggal.
FOMO juga dapat muncul ketika ada tempat nongkrong yang sedang viral. Banyak orang datang bukan hanya karena tempat tersebut benar-benar sesuai dengan minat mereka, tetapi karena ingin merasakan pengalaman yang sedang ramai dibicarakan. Begitu pula dengan konser, makanan, film, permainan, hingga berbagai tantangan yang beredar di media sosial.
Tidak hanya soal barang dan hiburan, FOMO juga dapat berkaitan dengan pencapaian. Ketika melihat teman berhasil mendapatkan prestasi, pekerjaan, atau pengalaman tertentu, seseorang dapat merasa bahwa dirinya harus segera mencapai hal yang sama. Perbandingan tersebut dapat membuat kehidupan terasa seperti perlombaan yang tidak pernah selesai.
Mengapa Kita Takut Ketinggalan?
Salah satu penyebab FOMO adalah keinginan untuk diterima oleh lingkungan sosial. Manusia pada dasarnya membutuhkan hubungan dengan orang lain dan ingin merasa menjadi bagian dari suatu kelompok. Ketika hampir semua orang di sekitar kita membicarakan suatu tren, tidak mengikutinya dapat membuat kita merasa berbeda.
Selain itu, media sosial membuat pencapaian dan aktivitas orang lain terlihat lebih jelas. Kita dapat dengan mudah membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain. Ketika melihat seseorang terlihat lebih sukses, lebih aktif, atau lebih sering menikmati pengalaman baru, muncul keinginan untuk melakukan hal yang sama.
Keinginan mendapatkan pengakuan juga dapat memperkuat FOMO. Seseorang mungkin mengikuti tren agar dapat mengunggahnya kembali dan mendapatkan respons dari teman maupun pengikut. Dalam kondisi seperti ini, keputusan yang diambil bukan lagi sepenuhnya berdasarkan keinginan pribadi, tetapi juga dipengaruhi oleh bagaimana orang lain akan memberikan penilaian.
Ketika FOMO Membuat Kita Mengikuti Sesuatu yang Tidak Dibutuhkan
FOMO dapat menjadi masalah ketika membuat seseorang mengikuti sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Misalnya, seseorang membeli barang yang sedang viral hanya karena melihat banyak orang menggunakannya. Setelah tren tersebut berlalu, barang itu mungkin justru jarang digunakan.
Hal yang sama dapat terjadi dalam aktivitas sosial. Seseorang dapat terus menerima ajakan untuk pergi, nongkrong, atau mengikuti berbagai kegiatan karena takut kehilangan momen bersama teman. Padahal, kondisi tersebut belum tentu sesuai dengan waktu, kebutuhan, maupun kemampuan dirinya.
Jika keputusan selalu diambil karena rasa takut tertinggal, seseorang dapat kehilangan kemampuan untuk menentukan apa yang benar-benar penting. Ia menjadi lebih sibuk mengikuti kehidupan orang lain daripada menjalani kehidupannya sendiri.
FOMO dan Perilaku Konsumtif
Salah satu dampak FOMO yang paling mudah terlihat adalah munculnya perilaku konsumtif. Media sosial dapat membuat suatu produk terlihat menarik karena digunakan oleh banyak orang. Ketika sebuah barang menjadi viral, muncul anggapan bahwa barang tersebut perlu dimiliki sebelum popularitasnya berakhir.
Promosi seperti diskon terbatas, jumlah stok yang sedikit, atau kalimat seperti “sedang viral” juga dapat meningkatkan dorongan untuk membeli. Seseorang akhirnya membeli bukan karena kebutuhan, tetapi karena takut kehilangan kesempatan.
Jika kebiasaan tersebut terus dilakukan, pengeluaran dapat meningkat tanpa disadari. Oleh karena itu, kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan menjadi penting. Tidak semua barang yang sedang ramai dibicarakan harus dimiliki.
Dampak FOMO terhadap Kehidupan Sosial dan Diri Sendiri
FOMO tidak hanya berkaitan dengan konsumsi, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi sosial seseorang. Terlalu sering melihat aktivitas orang lain dapat membuat seseorang merasa bahwa kehidupannya kurang menarik. Ia mungkin merasa orang lain lebih bahagia, lebih sukses, atau lebih banyak memiliki pengalaman.
Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial biasanya hanya sebagian dari kehidupan seseorang. Orang cenderung membagikan momen yang menyenangkan dan menarik, sementara masalah dan kegagalan tidak selalu ditampilkan. Karena itu, membandingkan kehidupan nyata dengan kehidupan orang lain di media sosial dapat menghasilkan gambaran yang tidak seimbang.
Jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan membandingkan diri dapat membuat seseorang sulit merasa puas dengan apa yang dimilikinya. Ia terus mencari pengalaman baru bukan karena benar-benar menginginkannya, tetapi karena takut kehidupan orang lain terlihat lebih baik.
Apakah Mengikuti Tren Selalu Buruk?
Mengikuti tren sebenarnya bukan sesuatu yang selalu buruk. Tren dapat menjadi sarana hiburan, kreativitas, dan cara untuk menemukan orang-orang yang memiliki minat yang sama. Mengikuti tren juga dapat menjadi pengalaman menyenangkan selama dilakukan berdasarkan pilihan pribadi dan tidak merugikan diri sendiri.
Masalahnya muncul ketika seseorang merasa wajib mengikuti setiap tren. Tidak mengikuti tren bukan berarti seseorang tidak berkembang atau tidak mengikuti zaman. Setiap orang memiliki kebutuhan, kondisi, kemampuan, dan prioritas yang berbeda.
Oleh karena itu, yang perlu dikendalikan bukan keberadaan tren, melainkan cara kita meresponsnya. Seseorang tetap dapat mengikuti tren, tetapi sebaiknya mampu menentukan mana yang benar-benar sesuai dengan dirinya dan mana yang hanya diikuti karena tekanan lingkungan.
Bagaimana Cara Mengatasi FOMO?
Mengatasi FOMO dapat dimulai dengan menyadari bahwa tidak semua hal harus diikuti. Ketika melihat sesuatu yang sedang viral, kita dapat berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri, “Apakah saya benar-benar menginginkannya, atau saya hanya takut tertinggal?” Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu seseorang mengambil keputusan dengan lebih tenang.
Membatasi penggunaan media sosial juga dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi FOMO. Semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk melihat kehidupan orang lain, semakin banyak pula kesempatan untuk membandingkan diri. Menggunakan media sosial sesuai kebutuhan dapat membantu kita lebih fokus pada kehidupan nyata.
Selain itu, penting untuk memiliki tujuan dan prioritas pribadi. Tidak semua orang harus memiliki pencapaian yang sama atau mengikuti jalan hidup yang sama. Ketika seseorang mengetahui apa yang ingin dicapai, ia akan lebih mudah menentukan tren mana yang perlu diikuti dan mana yang tidak perlu.
Tidak Mengikuti Tren Bukan Berarti Tertinggal
Pada akhirnya, FOMO merupakan salah satu tantangan yang muncul di tengah perkembangan era digital. Media sosial memberikan banyak manfaat, tetapi juga dapat membuat kita terus melihat kehidupan orang lain dan merasa harus selalu mengikuti perkembangan terbaru.
Mengikuti tren bukanlah sebuah kesalahan. Namun, kita perlu memastikan bahwa keputusan tersebut berasal dari keinginan dan kebutuhan pribadi, bukan semata-mata karena takut tertinggal. Tidak memiliki barang terbaru, tidak datang ke tempat yang sedang viral, atau tidak mengikuti semua tren bukan berarti kehidupan kita kurang menarik.
Di era ketika tren dapat berubah dalam waktu singkat, mungkin yang paling penting bukan menjadi orang yang selalu mengikuti tren, tetapi menjadi orang yang mampu menentukan apa yang benar-benar penting bagi dirinya. Sebab, hidup bukanlah perlombaan untuk menjadi yang paling cepat mengikuti orang lain. Terkadang, berani berhenti dan memilih jalan sendiri justru merupakan bentuk kebebasan yang sebenarnya.
