Konten dari Pengguna

Maraknya AI, Bagaimana Model Pendidikan Kita?

Ilustrasi cara bagaimana mahasiswa belajar menggunakan AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi cara bagaimana mahasiswa belajar menggunakan AI

Cukup mengetik satu kalimat, dan dalam hitungan detik makalah sepuluh halaman pun jadi. Inilah wajah baru dunia kampus di era kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Kemudahan yang dulu hanya ada dalam film fiksi ilmiah kini tersedia gratis di telepon genggam setiap mahasiswa.

Indonesia bahkan tercatat sebagai negara dengan proporsi pengguna AI untuk belajar tertinggi di antara negara yang disurvei. Survei Statista Consumer Insights pada Januari–Juni 2026 menunjukkan 61 persen responden di Indonesia menggunakan AI untuk pendidikan dan pembelajaran, melampaui India (57 persen) dan China (42 persen), bahkan jauh di atas Jerman (25 persen) dan Amerika Serikat (22 persen). (Databoks Katadata, 29/9/2026)

Sayangnya, lonjakan pemakaian AI di ruang belajar belum diimbangi aturan main yang memadai. Pemerintah memang telah menerbitkan Panduan Penggunaan Generative AI pada Pembelajaran di Perguruan Tinggi pada 11 Oktober 2024. Namun, dokumen itu baru berupa buku panduan, bukan regulasi yang mengikat, dan belum banyak diterjemahkan menjadi aturan yang jelas di tingkat kampus maupun ruang kelas. (Kemendikbudristek, 2024)

Kemajuan ini patut disambut. Namun, ia juga memunculkan pertanyaan yang tak bisa lagi ditunda: jika mesin mampu mengerjakan tugas kuliah, apa yang sebenarnya sedang dipelajari mahasiswa kita?

AI Sudah Jadi Keseharian

Penyebaran AI generatif berlangsung amat cepat. Teknologi ini tidak lagi milik perusahaan teknologi semata. Ia sudah merambah perkantoran, ruang redaksi, layanan publik, hingga ruang kuliah. Menghindarinya bukan lagi pilihan yang masuk akal.

Di sisi lain, AI menawarkan peluang besar. Ia bisa menjadi tutor yang tak kenal lelah, menjelaskan konsep rumit, menerjemahkan referensi asing, dan memangkas pekerjaan administratif. Persoalannya bukan pada teknologinya, melainkan pada cara kita memakainya.

Mahasiswa Melaju Lebih Dulu

Mahasiswa termasuk kelompok yang paling cepat merangkul AI. Makalah, laporan praktikum, rangkuman bacaan, hingga jawaban kuis daring kini banyak dikerjakan dengan bantuan mesin. Tak sedikit yang langsung menyalin jawaban AI lalu mengumpulkannya tanpa membaca ulang.

Namun, menyalahkan mahasiswa sepenuhnya juga tidak adil. Mereka dikejar tenggat, dibebani tugas yang menumpuk, dan dinilai oleh sistem yang lebih menghargai hasil akhir ketimbang proses berpikir. Selama tugas hanya menuntut jawaban yang rapi, AI akan selalu menjadi jalan pintas yang menggoda. Sayangnya, jalan pintas itu justru melompati inti dari belajar, yakni memahami.

Lulus, tetapi Tidak Paham

Di sinilah tantangan terbesar pendidikan kita. Kampus tidak didirikan untuk mencetak tumpukan tugas yang selesai, tetapi untuk membentuk manusia yang mampu berpikir kritis dan bertanggung jawab atas gagasannya. Jika mahasiswa menyerahkan esai yang bagus tetapi tak sanggup menjelaskan isinya, yang sesungguhnya lulus adalah mesinnya.

Ada tiga persoalan mendasar. Pertama, banyak tugas kuliah masih bersifat hafalan dan pengulangan, seperti merangkum atau mendefinisikan teori. Justru tugas jenis inilah yang paling mudah dikerjakan AI. Kedua, literasi AI di kalangan dosen dan mahasiswa belum merata. Ada yang menolak mentah-mentah, ada pula yang memakainya tanpa batas. Ketiga, banyak kampus belum punya aturan main yang jelas soal kapan AI boleh dipakai dan di mana batas antara bantuan dan kecurangan.

Melarang total bukan jalan keluar. Alat pendeteksi AI pun kerap meleset dan berisiko menuduh mahasiswa yang jujur. Yang dibutuhkan adalah perubahan cara mengajar dan menilai.

Menata Ulang Ruang Kuliah

Langkah pertama, alihkan penilaian dari hasil ke proses. Dosen dapat meminta mahasiswa menyerahkan kerangka berpikir, draf bertahap, dan catatan revisi. Proses semacam ini sulit dipalsukan dan melatih cara berpikir yang runtut.

Kedua, perbanyak ujian yang menuntut pemahaman langsung, seperti presentasi, diskusi, ujian lisan singkat, dan proyek lapangan. Tugas yang berangkat dari persoalan nyata di sekitar mahasiswa, entah di desa, kota, atau komunitasnya, juga jauh lebih sulit dijawab secara instan oleh mesin.

Ketiga, ajarkan literasi AI secara terbuka. Mahasiswa perlu dilatih menyusun perintah yang tepat, memeriksa kebenaran jawaban, mengenali bias, dan mencantumkan penggunaan AI secara jujur. Mereka bahkan bisa ditugasi mengkritik jawaban AI sehingga mesin menjadi lawan diskusi, bukan pengganti otak.

Keempat, kampus perlu segera menurunkan panduan nasional itu menjadi aturan yang mengikat, baik di tingkat institusi maupun mata kuliah. Aturan yang jelas memberi kepastian bagi dosen dan mahasiswa, dan jauh lebih efektif daripada larangan yang samar.

Kelima, perkuat kapasitas dosen. Pelatihan dibutuhkan agar dosen mampu merancang pembelajaran dan asesmen yang relevan dengan zaman. Peran dosen pun bergeser, dari penyampai materi menjadi pembimbing dan teladan dalam berpikir kritis.

Alat, Bukan Pengganti

AI bukan musuh pendidikan. Kalkulator tidak membunuh matematika, dan internet tidak membuat perpustakaan kehilangan makna. Begitu pula AI. Ia tidak akan membuat pendidikan usang, asalkan kita berani menata ulang cara belajar dan cara menilai.

Pertanyaannya kini bukan lagi boleh atau tidak mahasiswa memakai AI, melainkan apakah mereka tetap paham apa yang dikerjakan. Di situlah tugas pendidikan kita: memastikan bahwa di tengah kecanggihan mesin, yang tumbuh tetaplah kecerdasan manusia.