Konten dari Pengguna

Kenapa Kita Ingat Lirik Lagu tapi Lupa Materi Kuliah?

Trisha Keiza Erwina

Trisha Keiza Erwina

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Trisha Keiza Erwina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seorang wanita menempelkan jari di kepala seolah mengingat sesuatu Sumber: www.istockphoto.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seorang wanita menempelkan jari di kepala seolah mengingat sesuatu Sumber: www.istockphoto.com

Pernah nggak sih ngerasa aneh, kenapa lirik lagu yang udah bertahun-tahun lalu masih hafal banget, tapi materi kuliah yang baru dipelajari minggu lalu udah kabur dari ingatan? Atau masih inget jingle iklan jaman SD, tapi rumus matematika yang baru dijelasin kemarin udah ilang entah kemana?

Ini pengalaman yang kayaknya dialami hampir semua orang. Dan menariknya, ada penjelasan ilmiah di balik fenomena ini. Ternyata otak kita punya cara kerja yang unik dalam memilih informasi mana yang layak disimpan jangka panjang.

Saat kita mendengarkan musik, hampir seluruh bagian otak ikut bekerja bareng. Ada yang ngurusin suaranya, ada yang nyimpen memorinya, ada yang ngerasain emosinya, bahkan kaki kita yang ngetuk-ngetuk ngikutin beat itu juga otak yang ngatur.

Yang lebih menarik lagi, musik ternyata disimpan di area khusus yang sangat kuat dan tahan lama. Makanya ada kasus penderita Alzheimer yang udah lupa banyak hal, tapi masih bisa menyanyikan lagu favorit dengan sempurna. Atau contoh Clive Wearing yang mengidap amnesia parah, tapi begitu duduk di depan piano langsung bisa memainkan musik klasik dengan mahir.

Ini membuktikan kalau memori musik tersimpan di tempat yang berbeda dan jauh lebih aman dibanding memori lainnya.

Emosi Bikin Memori Jadi Lebih Kuat

Pernah kan dengar lagu tertentu terus langsung inget moment tertentu? Mungkin lagu yang diputar pas lagi jatuh cinta, atau lagu yang kita dengerin pas lagi sedih. Itulah kuncinya.

Musik hampir selalu datang bareng dengan emosi. Senang, sedih, nostalgia, semangat, dan lain-lain. Nah, otak kita ternyata sangat suka menyimpan hal-hal yang punya muatan emosional. Saat emosi terlibat, otak akan kasih label "penting" ke memori tersebut, sehingga disimpan lebih lama.

Sementara materi kuliah biasanya dipelajari dengan emosi apa? Kebanyakan stres, bosan, atau dalam mode "asal selesai aja". Jelas ini nggak bikin otak tertarik buat menyimpan jangka panjang.

Repetisi Adalah Kunci

Coba hitung berapa kali kita mendengarkan lagu favorit. Puluhan kali? Ratusan kali? Sekarang bandingkan dengan materi kuliah yang dibaca berapa kali? Mungkin cuma sekali atau dua kali pas mau ujian.

Setiap kali kita mendengar lagu yang sama, otak sedang memperkuat koneksi sarafnya. Semakin sering diulang, semakin kuat memorinya. Dalam neurosains, ini disebut "cemented memory", memori yang udah mengeras dan susah dihapus.

Struktur musik juga membantu banget. Ada ritme, rima, dan pola yang berulang. Otak sangat suka pola-pola seperti ini karena mudah dipecah jadi bagian-bagian kecil dan gampang diingat.

Ada juga fenomena "earworm", lagu yang tiba-tiba nyangkut di kepala dan nggak bisa hilang. Ini terjadi karena otak berusaha menyelesaikan pola musik yang belum lengkap. Jadinya otak terus memutar ulang lagu itu, dan tanpa disadari, kita jadi makin hafal.

Kenapa Materi Kuliah Gampang Lupa?

Cara kita belajar biasanya berbeda banget dengan cara kita menikmati musik. Kebanyakan kita cuma baca materi sekali, highlight yang penting, terus langsung ke latihan soal. Nggak ada emosi positif, nggak ada pengulangan natural, nggak ada yang bikin excited.

Informasi masuk ke memori kerja, cukup bertahan sampai ujian selesai, tapi begitu ujian kelar dan butuh ruang untuk informasi baru, data lama langsung terhapus. Otak memang dirancang untuk memprioritaskan informasi yang sering muncul dan punya nilai emosional.

Apalagi kalau belajarnya dalam kondisi terpaksa atau dikejar deadline. Nggak ada rasa senang atau reward seperti saat mendengarkan musik favorit. Ya otak nggak merasa perlu menyimpan informasi itu terlalu lama.

Bisa Diterapkan untuk Belajar, Kok

Kabar baiknya, sekarang kita sudah tahu cara kerjanya, kita bisa memanfaatkan prinsip yang sama. Misalnya dengan mencoba membuat koneksi emosional dengan materi yang dipelajari. Cari relevansinya dengan kehidupan sehari-hari atau bikin cerita yang menarik dari materi tersebut.

Kemudian, ulangi materi dengan cara yang bervariasi dan menyenangkan. Bukan cuma baca ulang berkali-kali sampai bosan. Coba jelaskan ke teman dengan kata-kata sendiri, bikin mind map berwarna-warni, atau bahkan bikin lagu atau rap dari materi yang perlu dihafal. Beberapa mahasiswa kedokteran bahkan bikin lagu untuk menghafal nama-nama tulang atau otot.

Libatkan juga berbagai indera saat belajar. Baca dengan suara keras, tulis tangan sambil membuat catatan berwarna, atau gambar ilustrasi sederhana. Semakin banyak indera yang terlibat, semakin kuat memori yang terbentuk.

Yang paling penting adalah menerapkan pengulangan berjarak atau spaced repetition. Ulangi materi dalam jarak waktu tertentu, misalnya hari ini, tiga hari lagi, lalu seminggu lagi. Ini mirip seperti kita mendengar lagu favorit berulang kali tanpa merasa bosan.

Otak Punya Prioritas Sendiri

Jadi pada akhirnya, otak kita memang bukan alat penyimpan yang netral. Dia punya preferensi dan prioritas tersendiri. Musik unggul karena punya paket lengkap: emosi yang kuat, repetisi natural, struktur yang mudah dicerna, dan melibatkan banyak area otak sekaligus.

Materi kuliah kalah bukan karena tidak penting, tapi karena cara penyampaiannya belum sesuai dengan cara kerja otak kita. Tapi dengan sedikit kreativitas dalam metode belajar, siapa tahu kita bisa mengingat teori ekonomi atau rumus fisika semudah mengingat lirik lagu favorit yang sering kita dengarkan.