Efek Pandemi COVID-19 Terhadap Miopia pada Anak

Resident of Ophthalmology Universitas Airlangga Writting Enthusiasm
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Tristira Urvina, dr tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada kekhawatiran yang berkembang tentang potensi “myopia boom” atau peningkatan prevalensi miopia yang meningkat tajam selama pandemi COVID-19 sebagai akibat dari perubahan gaya hidup dan perilaku akibat penutupan sekolah dan pembatasan kegiatan sosial.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Hongkong, perkiraan insiden miopia tahunan pada masa pandemi COVID-19 adalah 29,68% dibandingkan dengan 11,63% sebelum COVID-19. Hasil ini menunjukkan peningkatan 2,5 kali lipat dalam insiden miopia selama pandemi.
Aktivitas di luar ruangan yang menurun secara signifikan dan peningkatan screentime pada anak-anak usia sekolah diduga menjadi penyebab. Bukti menunjukkan bahwa ketika anak-anak berada di luar sekolah, mereka kurang aktif secara fisik dan memiliki waktu screentime yang lebih lama, di mana hal ini menjadi salah satu faktor risiko terjadinya peningkatan miopia.
Pendapat ini didukung oleh adanya penelitian yang menyebutkan bahwa kegiatan di luar ruangan memiliki peran penting dalam mencegah perkembangan miopia.
Miopia atau rabun jauh, adalah penyebab gangguan penglihatan terbesar yang terjadi pada anak-anak. Miopia juga merupakan salah satu faktor pencetus terjadinya komplikasi pada mata dan meningkatkan risiko kebutaan permanen pada usia lanjut.
Risiko terjadinya ablasio retina meningkat lima hingga enam kali pada pasien miopia dibandingkan dengan mata yang normal. Pasien dengan miopia yang tinggi memiliki panjang bola mata yang lebih panjang sehingga retina lebih meregang dan dapat mengakibatkan robekan pada retina.
Meskipun karantina dan pembatasan aktivitas oleh karena COVID-19 tidak akan berlangsung selamanya, peningkatan aktivitas secara digital dan perubahan gaya hidup di mana lebih banyak kegiatan di rumah dapat memberikan efek jangka panjang terhadap progresivitas miopia pada masyarakat, terutama anak-anak. Ini adalah kekhawatiran yang banyak disuarakan oleh para dokter mata saat ini.
Pembatasan aktivitas di luar rumah, mengakibatkan penggunaan gawai juga semakin meningkat. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi, antara lain:
Digital eye strain atau kelelahan otot mata karena terlalu lama menggunakan gawai. Semua orang yang menggunakan gawai tanpa adanya periode istirahat dapat mengakibatkan kelelahan otot-otot mata.
Dry eye disease. Dengan penggunaan gawai dalam jangka waktu yang lama, dapat mengakibatkan sindrom mata kering. Mata terasa mengganjal, tidak nyaman, dan kadang-kadang seperti berpasir. Gejala ini banyak dialami oleh anak-anak yang terlalu lama melihat layar laptop atau telepon genggam.
Miopia. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bekerja dengan jarak dekat dengan mata dapat meningkatkan progresivitas miopia pada anak.
Baik orang tua maupun guru harus memiliki perhatian terhadap kemungkinan terjadinya miopia pada anak selama pandemi COVID-19. Pemeriksaan mata rutin ke dokter mata harus dilakukan untuk mencegah perkembangan miopia yang masif pada anak, terutama pada anak-anak yang menunjukkan gejala miopia seperti memicingkan mata saat melihat sesuatu, sering mengucek-ngucek mata saat aktivitas di depan layar laptop atau komputer, atau mengeluhkan pusing atau kabur saat membaca. Di bawah ini adalah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya miopia pada anak.
Visual hygiene. Pada era serba digital seperti sekarang, bekerja di depan gadget tanpa istirahat setelah 15 menit menatap layar gawai tanpa henti dapat meningkatkan kemungkinan mata lelah maupun mata kering. Menonton atau menggunakan laptop dengan jarak minimal 30cm dari mata dengan penerangan cahaya yang cukup, ukuran layar yang besar dan resolusi yang baik, ukuran huruf yang dibesarkan sesuai dengan kenyamanan pengguna, dapat menjadi solusi yang baik untuk mencegah hal tersebut.
Mengatur screentime yang baik. Anak-anak harus dibiasakan dengan pola 20-20-20, yaitu istirahat selama 20 detik untuk melihat sejauh 20 kaki setiap 20 menit menggunakan laptop atau telepon genggam. Anak-anak juga dapat diingatkan untuk sering-sering berkedip untuk mengurangi keluhan mata kering.
Aktivitas di luar ruangan dengan cahaya matahari yang cukup dapat mengurangi terjadinya miopia. Dengan adanya pembatasan aktivitas selama COVID-19 inovasi kegiatan di luar ruangan ini dapat dilakukan dengan waktu satu jam sehari anak-anak bermain di balkon, teras, taman, tentunya dengan tempat yang terang dan mendapat sinar matahari cukup.
Pandemi COVID-19 mengharuskan semua orang untuk melakukan kebiasaan baru dalam aktivitas sehari-hari. Dengan risiko miopia yang mengintai karena semakin banyaknya aktivitas di depan layar, dibutuhkan usaha yang lebih besar pula untuk mencegah perburukan miopia terutama pada anak-anak.
Evaluasi virus setiap enam bulan sekali dengan dokter mata juga perlu dilakukan supaya anak mendapat terapi secara cepat dan tepat bila terdapat gangguan refraksi yang dapat mengganggu aktivitas dan penglihatan anak. Orang tua khususnya perlu aktif mengecek secara rutin apakah anak-anak mereka mengalami gejala-gejala miopia atau tidak.
Referensi:
1.Kuehn, B.M. Increase in Myopia Reported Among Children During COVID-19 Lockdown. JAMA September 2021;326(11).
2.Zhang, Cheung, Chan, Zhang, Wang, Yip, Kam ,Yu, et al. Myopia incidence and lifestyle changes among school children during the COVID-19 pandemic: a population-based prospective study.Br J Ophthalmol 2021;0:1–7.
3.Hussaindeen, Rizwana, Gopalakrishnan, Aparna, Sivaraman, Viswanathan, et al. Managing the myopia epidemic and digital eye strain post COVID-19 pandemic – What eye care practitioners need to know and implement? Indian Journal of Ophthalmology. August 2020; 68(8):1710-1712.
4.Williams, K., Hammond, C. High myopia and its risks. Community Eye Health. 2019; 31(105):5-6.
