Liang Lahat Tak Mengenal Jabatan: Wawasan Dunia Islam tentang Kematian

Mahasiswa hukum Universitas Pelita Harapan yang aktif mengikuti kegiatan akademik serta tertarik pada isu hukum, bisnis, dan perkembangan media digital.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Triswer tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kematian dalam Islam menjadi bagian dari kehidupan yang pada akhirnya akan dihadapi setiap manusia. Ada yang mengejar pendidikan, pekerjaan, jabatan, kekayaan, atau sekadar ingin hidup lebih baik. Hal-hal itu wajar karena semuanya menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Tetapi ada satu hal yang pada akhirnya akan dialami semua orang, yaitu kematian. Ketika seseorang meninggal dan dikuburkan, jabatan, gelar, dan harta yang dimiliki tidak ikut masuk ke dalam liang lahat.
Dari sini muncul pertanyaan yang sebenarnya cukup sederhana, tetapi sulit dijawab: kalau semua itu akhirnya kita tinggalkan, apa sebenarnya yang paling penting dalam kehidupan manusia?
Dalam wawasan dunia Islam, penguburan bukan hanya proses menguburkan jenazah. Dari peristiwa tersebut, kita bisa melihat banyak pertanyaan tentang manusia dan kehidupannya. Apa yang sungguh nyata? Apakah manusia hanya tubuh? Apa yang terjadi setelah kematian? Bagaimana manusia mengetahui sesuatu dan menentukan baik atau buruk?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat penguburan menarik untuk dilihat bukan hanya sebagai akhir kehidupan seseorang, tetapi juga sebagai kesempatan bagi orang yang masih hidup untuk memikirkan kembali kehidupannya.
Apa yang Sungguh Nyata?
Ketika melihat proses pemakaman, hal yang paling nyata tentu adalah tubuh manusia yang dikuburkan. Kita bisa melihat tanah, makam, dan orang-orang yang datang mengantarkan jenazah. Tetapi, apakah yang nyata hanya sebatas apa yang bisa kita lihat?
Dalam wawasan dunia Islam, jawabannya tidak. Kematian bukan hanya berhentinya fungsi tubuh. Ada kehidupan setelah kematian dan ada alam barzakh yang menjadi tempat manusia setelah meninggalkan kehidupan dunia. Karena itu, penguburan bukan dipahami sebagai akhir dari seluruh perjalanan manusia.
Hal ini membuat kita sadar bahwa kehidupan tidak selalu bisa dipahami hanya dari sesuatu yang terlihat. Ada realitas fisik yang bisa diamati, tetapi ada juga realitas yang berada di luar kemampuan pancaindra manusia.
Apa dan Bagaimanakah Dunia di Luar Diri Kita?
Kita biasanya memahami dunia dari apa yang kita lihat, dengar, dan alami sendiri. Masalahnya, kemampuan manusia untuk mengetahui sesuatu juga mempunyai batas.
Kita bisa melihat seseorang meninggal dan menyaksikan proses penguburannya. Namun, kita tidak bisa melihat secara langsung apa yang terjadi setelah kematian. Dalam Islam, hal seperti alam barzakh termasuk perkara gaib. Pengetahuan mengenai hal tersebut tidak diperoleh melalui pengamatan langsung, tetapi melalui wahyu.
Al-Qur'an dan hadis menjadi sumber untuk mengetahui perkara yang tidak dapat dijangkau oleh pancaindra, sedangkan akal membantu manusia memahami dan merenungkannya.
Jadi, tidak semua hal harus bisa dilihat terlebih dahulu untuk menjadi bagian dari cara manusia memahami dunia.
Apakah Manusia Itu?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Kita semua tahu seperti apa manusia secara fisik. Tetapi apakah manusia hanya sebatas tubuh?
Dalam wawasan dunia Islam, manusia mempunyai unsur jasmani dan rohani. Manusia juga diberikan akal dan mempunyai tanggung jawab atas perbuatannya. Karena itu, manusia tidak hanya dipandang sebagai makhluk yang lahir, tumbuh, kemudian meninggal.
Ada hal yang menarik ketika melihat hubungan manusia dengan tanah. Manusia diciptakan dari unsur tanah dan setelah meninggal tubuhnya kembali ke tanah. Namun, dalam keyakinan Islam, perjalanan manusia tidak berhenti di sana karena manusia juga akan dibangkitkan kembali.
Mungkin itu juga menjadi salah satu alasan mengapa jenazah tetap diperlakukan dengan hormat. Orang yang sudah meninggal memang tidak lagi dapat berbicara atau melakukan aktivitas seperti sebelumnya, tetapi martabatnya sebagai manusia tetap dihargai.
Apakah yang Terjadi Setelah Kematian dalam Islam?
Ini mungkin menjadi pertanyaan yang paling sering muncul ketika membicarakan kematian. Ke mana manusia pergi setelah meninggal?
Dalam Islam, kematian bukan akhir dari keberadaan manusia. Setelah meninggal, manusia memasuki alam barzakh sampai datangnya hari kebangkitan. Manusia juga tidak dapat kembali ke dunia untuk mengulang kehidupan atau memperbaiki apa yang telah dilakukan.
Pemahaman ini membuat kehidupan sekarang menjadi penting. Kalau kehidupan tidak berhenti begitu saja setelah kematian, maka tindakan yang kita lakukan selama hidup juga memiliki konsekuensi.
Pada akhirnya, pembicaraan tentang kematian justru membawa kita kembali kepada kehidupan. Kita diajak bertanya bukan hanya “Apa yang terjadi ketika saya meninggal?”, tetapi juga “Apa yang saya lakukan selama masih hidup?”
Bagaimana Kita Mengetahui Sesuatu?
Tidak semua pengetahuan diperoleh dengan cara yang sama.
Untuk mengetahui penyebab kematian seseorang, misalnya, manusia bisa menggunakan ilmu kedokteran. Kondisi tubuh dapat diperiksa dan penyebab kematian dapat dipelajari secara ilmiah. Ini merupakan pengetahuan yang berkaitan dengan sesuatu yang dapat diamati.
Tetapi cara tersebut tentu tidak bisa digunakan untuk melihat alam barzakh.
Dalam wawasan dunia Islam, terdapat perbedaan antara pengetahuan mengenai dunia fisik dan pengetahuan mengenai perkara gaib. Pengetahuan empiris digunakan untuk memahami hal-hal yang dapat diamati, sedangkan perkara gaib diketahui melalui wahyu. Akal kemudian membantu manusia memahami keduanya sesuai dengan batasnya.
Artinya, manusia bukan hanya perlu mencari pengetahuan, tetapi juga perlu mengetahui batas dari cara memperoleh pengetahuan tersebut.
Bagaimana Kita Tahu tentang Baik dan Buruk?
Ketika seseorang meninggal, keluarga dan masyarakat tidak begitu saja meninggalkan jenazahnya. Bagi umat Muslim, ada proses memandikan, mengafani, menyalatkan, sampai menguburkan jenazah.
Mengapa semua itu harus dilakukan?
Dalam wawasan dunia Islam, baik dan buruk tidak hanya ditentukan oleh kebiasaan masyarakat atau pendapat pribadi. Al-Qur'an dan Sunnah menjadi dasar dalam menentukan nilai dan tindakan manusia. Pengurusan jenazah menjadi salah satu contoh bagaimana nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan.
Bagian ini menarik karena penghormatan kepada manusia ternyata tidak berhenti ketika seseorang meninggal. Bahkan ketika seseorang sudah tidak bisa memberikan apa pun kepada orang lain, jenazahnya tetap harus diperlakukan dengan baik.
Di sini kita bisa melihat bahwa nilai seseorang tidak hanya ditentukan oleh seberapa berguna, kaya, atau berpengaruh dirinya.
Apakah Makna Sejarah Manusia?
Kalau melihat sejarah, manusia selalu mengejar banyak hal. Kekuasaan berpindah, pemimpin berganti, kekayaan berpindah tangan, dan generasi baru menggantikan generasi sebelumnya.
Tidak ada yang benar-benar memegang semuanya selamanya.
Dalam wawasan dunia Islam, manusia memiliki tanggung jawab sebagai khalifah di bumi. Artinya, kehidupan dan kekuasaan yang dimiliki manusia juga membawa tanggung jawab. Harta, jabatan, dan status sosial bukan sesuatu yang akan dimiliki selamanya.
Di sinilah kalimat “liang lahat tak mengenal jabatan” menjadi relevan. Selama hidup, jabatan bisa membuat perlakuan terhadap seseorang berbeda. Ada pejabat, direktur, mahasiswa, pekerja, orang kaya, dan orang yang hidup sederhana.
Tetapi kematian menunjukkan batas dari semua identitas tersebut.
Karena itu, sejarah manusia bukan hanya soal siapa yang pernah memiliki kekuasaan atau kekayaan terbesar. Yang juga penting adalah bagaimana manusia menggunakan kesempatan, kekuasaan, dan kehidupannya untuk menjalankan tanggung jawab, keadilan, dan kebaikan.
Pertanyaan yang Dibawa Pulang
Tujuh pertanyaan tadi memang membahas hal yang berbeda-beda. Ada realitas, pengetahuan, manusia, kehidupan setelah kematian, baik dan buruk, sampai sejarah. Tetapi semuanya bisa ditemukan dalam satu peristiwa yang terlihat sederhana: penguburan.
Bahkan setelah meninggal, manusia masih membutuhkan manusia lainnya. Dalam Islam, pengurusan jenazah merupakan fardhu kifayah. Artinya, terdapat tanggung jawab bersama untuk memastikan orang yang telah meninggal diurus dengan layak.
Setelah proses pemakaman selesai, orang-orang akhirnya pulang. Besok mereka mungkin kembali kuliah, bekerja, mencari uang, mengejar target, atau memikirkan masa depan.
Liang lahat tetap berada di belakang.
Tetapi mungkin ada satu pertanyaan yang seharusnya ikut dibawa pulang.
Kalau jabatan akan digantikan, kekayaan akan berpindah tangan, dan tubuh pada akhirnya kembali ke tanah, untuk apa kehidupan yang kita miliki hari ini akan kita gunakan?
Triswer Ramdhan Mahardika Nasyith
Universitas Pelita Harapan
