Fenomena Salah Jurusan: Ketika Pilihan Siswa Ditentukan oleh Faktor Eksternal

Mahasiswa aktif di universitas Airlangga
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Trixie Hasian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena “salah jurusan” bukan lagi sesuatu hal yang asing. Kita sangat sering mendengar mahasiswa yang baru menyadari bahwa bidang yang dipilihnya tidak sesuai dengan minat, kemampuan, atau bayangan mereka setelah mereka menjalani perkuliahan.
Berdasarkan riset dari Indonesia Career Center Network (ICCN) menyebutkan bahwa 87% mahasiswa mengambil jurusan yang tidak selaras dengan passion mereka. Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan Ahli Educational Psychologist dari Integrity Development Flexibility (IDF), Irene Guntur yang menyebutkan bahwa 87% mahasiswa di Indonesia mengalami salah jurusan.
Namun, apakah salah jurusan sepenuhnya merupakan kesalahan siswa?
Pertanyaan tersebut sepertinya perlu dipertimbangkan kembali. Memilih jurusan untuk perguruan tinggi biasanya dianggap sebagai langkah awal untuk mengejar cita-cita. Tapi realitanya, masih banyak sekali anak-anak yang tidak bisa memilih jurusan sesuai dengan passion mereka.
Idealisme yang dimiliki seorang siswa sering kali terbentur oleh faktor-faktor eksternal seperti ekonomi, prospek kerja, dan keinginan orang tua. Faktor-faktor tersebut yang secara perlahan memudarkan impian pribadi anak tersebut.
Bisa memilih jurusan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh diri sendiri, tanpa perlu memikirkan tentang finansial keluarga bukanlah suatu hal yang dimiliki semua orang. Banyak sekali anak yang akhirnya mundur dari impiannya karena ekonomi keluarga yang tidak mendukung. Penelitian yang dilakukan Dyastari, Arintoko, dan Ramita (2025) di Universitas Jenderal Soedirman angkatan 2023-2024 menunjukkan bahwa biaya pendidikan berpengaruh positif terhadap pemilihan program studi.
Semakin baik biaya yang ditawarkan, maka keputusan untuk mengambil program studi tersebut semakin tinggi. Sebagai contoh, seorang siswa yang mungkin memiliki impian menjadi dokter sejak kecil, tetapi biaya kuliah kedokteran yang biasanya relatif lebih mahal membuat siswa tersebut tidak bisa memilih jurusan tersebut.
Prospek kerja juga merupakan salah satu faktor dalam memilih jurusan. Menurut Nguyen et al. (2023) faktor peluang kerja berpengaruh dalam pemilihan jurusan, apalagi di era pasca-pandemi yang penuh dengan ketidakpastian ekonomi, ketersediaan lapangan kerja di masa depan memiliki dampak positif yang signifikan dalam keputusan mahasiswa menentukan jurusan.
Hal ini mendukung bahwa tekanan ekonomi bisa membuat siswa memilih jurusan yang dianggap memiliki prospek kerja menjanjikan, dan tidak memerlukan waktu studi yang terlalu panjang, walaupun itu tidak sesuai dengan passion-nya.Pada akhirnya faktor pertimbangannya bukan lagi apa yang disuka, tetapi menjadi apa yang paling “aman” untuk masa depan.
Di sisi lain, selain faktor ekonomi ada juga anak yang tidak bisa mengambil apa yang menjadi passion-nya karena idealisme orang tuanya. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Khasanah, dan Kardiyem (2023) yang menunjukkan bahwa dukungan orang tua berpengaruh positif dan signifikan pada keputusan anak dalam mengambil program studi.
Ada anak yang sebenarnya ingin mendalami seni atau sastra, tetapi tidak mendapat dukungan dari orang tuanya, dan malah disarankan atau bahkan diharuskan mengambil jurusan seperti kedokteran karena dinilai punya prospek kerja yang lebih pasti, dan membanggakan keluarga. Konflik antara impian pribadi dan ekspektasi sosial seperti inilah yang membuat proses memilih jurusan terasa begitu menyita pikiran.
Pada akhirnya, memilih jurusan untuk perguruan tinggi memang jarang menjadi proses yang murni idealis. Keterbatasan ekonomi, keinginan orang tua, dan pertimbangan prospek kerja adalah bagian dari realita hidup yang tidak bisa dihindari begitu saja. Meski begitu, menjalani perkuliahan di tempat yang bukan menjadi pilihan kita bukan berarti akhir dari segalanya.
Arah karier dan perkembangan diri tidak hanya ditentukan oleh pintu masuk mana yang dipilih, melainkan seberapa gigih seseorang mengeksplorasi ruang-ruang di dalamnya. Di manapun kaki dipijak, ruang untuk belajar, beradaptasi, dan membangun jalan sukses versi sendiri akan selalu terbuka lebar bagi siapa saja yang mau berusaha.
