Konten dari Pengguna

B3 di Bengkel: Risiko Nyata yang Kerap Diremehkan

Azelia Putri Azzahra

Azelia Putri Azzahra

Mahasiswa Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azelia Putri Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

B3 di Bengkel: Risiko Nyata yang Kerap Diremehkan
zoom-in-whitePerbesar

Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) merupakan zat, energi, atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi, maupun jumlahnya dapat membahayakan kesehatan manusia serta merusak lingkungan. Di bengkel kendaraan, keberadaan B3 bukanlah hal yang asing. Berbagai jenis bahan ini digunakan untuk menunjang pekerjaan servis dan perawatan kendaraan sehari-hari.

Namun, di balik manfaatnya, B3 juga menyimpan risiko yang tidak boleh dianggap remeh. Karena itu, pemahaman mengenai B3 di lingkungan bengkel sangat penting, tidak hanya bagi mekanik, tetapi juga bagi para pengguna jasa.

Beberapa jenis B3 yang umum ditemukan di bengkel beserta risikonya antara lain sebagai berikut.

1. Oli bekas

Oli bekas mengandung sisa pembakaran, kotoran, serta logam berat. Jika terkena kulit secara terus-menerus, oli bekas dapat menimbulkan iritasi. Selain itu, pembuangan oli bekas secara sembarangan berisiko mencemari tanah dan sumber air.

2. Minyak rem

Minyak rem bersifat korosif dan dapat merusak lapisan cat kendaraan. Kontak langsung dengan minyak rem juga berpotensi menyebabkan iritasi atau peradangan pada mata dan kulit.

3. Cairan pendingin radiator

Cairan pendingin radiator umumnya mengandung bahan kimia seperti ethylene glycol yang berbahaya jika tertelan. Zat ini juga dapat mencemari lingkungan apabila bocor atau dibuang tanpa penanganan yang tepat.

4. Aki atau baterai kendaraan

Aki mengandung logam berat dan asam sulfat. Jika terjadi kebocoran, zat tersebut dapat menyebabkan luka bakar pada kulit dan menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan sekitar.

5. Bahan bakar, seperti bensin atau solar

Bahan bakar merupakan zat yang sangat mudah terbakar dan mudah menguap. Uapnya berbahaya jika terhirup dalam jangka waktu lama, sekaligus meningkatkan risiko kebakaran di area bengkel.

6. Cairan pembersih berbahan kimia

Berbagai cairan pembersih di bengkel mengandung bahan kimia keras yang dapat memicu iritasi kulit serta gangguan pernapasan apabila digunakan tanpa alat pelindung diri.

Sayangnya, masih banyak orang yang menganggap penanganan B3 di bengkel sebagai hal sepele. Padahal, kelalaian dalam penggunaan, penyimpanan, maupun pembuangan bahan-bahan tersebut dapat menimbulkan risiko serius, baik bagi pekerja maupun bagi lingkungan sekitar.

Memang, keberadaan B3 di bengkel sulit dihindari. Meski demikian, risikonya tetap bisa diminimalkan. Pemahaman yang baik, penggunaan alat pelindung diri (APD), serta pengelolaan limbah yang benar menjadi langkah penting untuk menjaga keselamatan kerja dan kelestarian lingkungan.

Pada akhirnya, kesadaran terhadap bahaya B3 bukan hanya tanggung jawab mekanik atau pemilik bengkel, melainkan juga menjadi perhatian bersama. Bengkel yang aman bukan hanya bengkel yang mampu memperbaiki kendaraan, tetapi juga yang peduli terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.