72 Tahun Punah, Alfonsa Horeng Bangkitkan Rumah Adat Sikka

Media online kekinian yang menyajikan informasi seputar gaya hidup hijau yang ramah lingkungan dan peristiwa terkait alam, lingkungan, sosial, serta pemberdayaan masyarakat untuk bumi kita yang lebih hijau dan lestari
Tulisan dari Trubus ID tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Beruntung salah satu penerus budaya Flores, Alfonsa Horeng mampu membangkitkan lagi rumah adat, warisan leluhur mereka. Rumah adat ini diresmikan pada Jumat (28/12) di Sikka.

"Lepo gete berasal dari kata Lepo yang artinya rumah dan Gete yang berart besar. Artinya rumah besar tempat berkumpulnya orang besar dan tempat tinggal kepala suku khususunya di wilayah Sikka bagian barat, " katanya.
Menurut maestro tenun ini, Lepo Gete merupakan tempat awal untuk memulai ritual, tempat berkumpulnya masyarakat kampung untuk bermusyawarah dan mengekspresikan budaya dan industri lokal.

Lepo Gete yang baru saja dibangun ini mempunyai tinggi 12 meter dengan 32 tiang. Di bagian bawah rumah ini biasa dipakai sebagai hunian. Sementara di paling bawah atau kolong dipakai ibu-ibu untuk menenun dan anak-anak untuk bermain atau membantu proses tenun.
Baca Lainnya:
Pembangunan Lepo Gete ini melewati proses yang panjang. Alfonsa yang sebelumnya telah mempunyai tempat workshop dan penginalan Lepo Lerun berkolaborasi dengan salah salah satu Universitas Flores dan beberapa arsitek muda Flores untuk mendesain kembali bangunannya.

Riset dilakukan bersama dengan menggambar ulang dari foto yang terisisa di Tropen Museum Belanda sambil dilakukan pertemuan langsung dengan tetua adat dalam hal model konstruksi Lepo Gete.
Dari hasil riset diperoleh bentuk dan gambar rumah Lepo Gete yang semua materinya terbuat dari kayu ledu, alang-alang dan bambu.
Alfonsa Horeng sudah sejak lama melestarikan dan mengembangkan adat dan budaya Flores. Dengan Sanggarnya epo Lerun, ia melestarikan tenun ikat, lagu dan tarian tradisional, kuliner, juga nyanyian dan ritual budaya lainnya.

Jika Trubus Mania berkunjung ke Flores, sempatkan mampir atau menginap di Lepo Lerun. Di sini setiap pengunjung bisa melihat langsung gaya hidup keseharian warga Sikka yang memakai tenun ikat warna alam. Pengunjung akan disambur dengan tarian dan musi tradisional serta dihidangkan makanan lokal yang dibuat dengan resep tradisional.

Ia menegaskan, semua kegiatan di Lepo leron melibatkan warga, unutk memberdayakan mereka, bukan untuk investor atau pribadi karena itu bentuknya pelestarian tradisi. Ia tak lelah merawat dan mengenalkan budaya Flores, tak hanya di dalam negeri, tapi juga ke negara-negara lain.
Baca Lainnya:
Sampai sekarang ia telah berkunjung ke 32 negara untuk mengenalkan dan mempromosikan budaya Flores.
Karena kiprahnya itu, ia memperoleh beberapa awards baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Beberapa awards itu diantaranya Meexa Award (2006), Australian Leadership Award (2008), SheCan Tupperware Award: Inspire Woman (2010), Kartini Award (2011),‘Master Weaver of Flores Indonesia by Fashion Institute of Technology, Manhattan, New
York, US (2012), Indonesia Digital Women Award: Cultural Artist (2013).
