Konten dari Pengguna

Harganya 'Tidak Pahit', Petani di Medan Marelan Beralih Tanam Pare Apel

Trubus ID

Trubus ID

Media online kekinian yang menyajikan informasi seputar gaya hidup hijau yang ramah lingkungan dan peristiwa terkait alam, lingkungan, sosial, serta pemberdayaan masyarakat untuk bumi kita yang lebih hijau dan lestari

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Trubus ID tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Karena berbagai kelebihannya itu, seorang petani di Gang Rahayu, Pasar IV Barat, Kelurahan Rengas Pulau, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan bernama Sutikno, mengembangkan budidaya tanaman ini. Ia cerita, sejak dulu Medan Marelan merupakan sentra produksi tanaman holtikultura, khususnya sayuran.

Harganya 'Tidak Pahit', Petani di Medan Marelan Beralih Tanam Pare Apel
zoom-in-whitePerbesar

Selain rasanya tidak sepahit pare pada umumnya, harga pare apel juga lebih tinggi. (Foto: Trubus.id/ Reza Perdana)

Dari banyak jenis sayuran, menurutnya paling menarik untuk diulas adalah yang berpeluang untuk dibudidayakan karena faktor harga dan tingginya permintaan. Salah satunya pare ini. Tetapi pare yang ditanam Sukardi, petani lainnya, tidak seperti pada umumnya.

"Pare yang saya tanam berbentuk bulat. Kami menyebutnya dengan sebutan pare apel, karena memang bentuknya menyerupai apel," kata Sukardi, Sabtu (22/12) kemarin.

Dikatakannya, Medan Marelan bukan satu-satunya tempat pertanaman pare apel. Ada beberapa daerah lainnya, namun tidak banyak. Sukardi sendiri dengan rekan petani lainnya di Kelompok Tani Karunia hanya menanam sekitar 200 sampai 300 batang di lahan yang berbatasan dengan tanaman sayuran lainnya.

"Tanaman pare di sini sudah memasuki panen ke-12. Kalau dirawat dengan baik, panen bisa tetap dilakukan minimal 15 kali pengutipan setiap 2 atau 3 hari sekali," ucapnya.

Sukardi mengaku, pare apel sangat potensial karena masih sedikit yang menanamnya. Dengan demikian, pasokan ke pasar juga sedikit dan permintaan tetap tinggi. Bahkan, pare sudah dipesan sebelum dijual ke pasaran.

Harga Pare Apel Lebih Manis

"Alasan lain bertanam pare apel daripada pare biasa karena harga pare apel di pasaran lebih tinggi daripada pare biasa, yakni Rp10.000 hingga Rp12.000 per Kg di tingkat petani. Pare biasa, petani hanya bisa menjual Rp 4.000 sampai Rp 5.000 per Kg," sebutnya.

Sukardi menyebut, belum banyak yang mengetahui pare apel. Sebagai petani, dirinya sangat mengharapkan pemerintah membantu ketersediaan bibitnya, mengingat peluang budidaya pare apel sangat tinggi namun terkendala pada bibit.

"Saya mendapatkan bibit dari teman yang sempat bepergian ke Thailand. Pare apel ini memiliki rasa sedikit lebih manis. Berbeda dengan pare biasa yang rasanya pahit," ungkapnya.

Diakui Sukardi, petani bisa saja membuat bibit pare apel. Namun dirinya khawatir tidak akan sama persis dengan aslinya, sebab gennya pasti berubah. Terbukti, pare apel yang ditanamnya setelah pengutipan ke-10 bentuknya sudah sedikit berbeda.

"Pada saat pengutipan awal, bentuknya bulat menyerupai apel. Setelah pengutipan ke-10, bentuknya sudah mulai sedikit lonjong. Sulit mendapatkan bibitnya, kami harap pemerintah dapat membantu penyediaan bibit," harapnya.

Diungkapkan Sukardi, bersama petani lainnya di Kelompok Tani Karunia yang diketuainya, mereka berencana menanam pare apel di lahan lain pada Januari 2019. Menurutnya, penanamannya harus berpindah dari yang sekarang, sebagai upaya memutus siklus hama.

"Lahannya terbatas, petani harus pandai-pandai menyiasati dengan memilih tanaman yang tepat. Jika salah melihat peluang, bisa berakibat kerugian besar," tandasnya. [RN]