Kapang, Makhluk Laut Musuh Mengerikan Nelayan Pemilik Kapal

Media online kekinian yang menyajikan informasi seputar gaya hidup hijau yang ramah lingkungan dan peristiwa terkait alam, lingkungan, sosial, serta pemberdayaan masyarakat untuk bumi kita yang lebih hijau dan lestari
Tulisan dari Trubus ID tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Seorang nelayan di Desa Kuala Besar, Slamet mengatakan, perawatan rutin mereka lakukan untuk menghindarkan nelayan dari kerugian besar. Slamet mengaku, dirinya salah satu nelayan yang rajin menyandarkan perahunya di pantai untuk dicat.
Perahu milik Slamet berukuran 26 kaki yang bisa mengangkut ikan sebanyak 1,5 ton. Diakui Slamet, perahu juga dijalankan nelayan lain dengan sistem bagi hasil. Baginya, perawatan dengan mengecat bagian badan adalah keharusan untuk menghilangkan kapang yang menempel dan menutupi lubangnya.
"Kebiasaan seperti ini tidak hanya saya yang melakukan, nelayan lain juga," kata Slamet, Sabtu (1/12).
Diungkapkan Slamet, ada juga nelayan yang tidak secara rutin merawat seperti dirinya. Hal ini disebabkan beberapa faktor seperti mpersoalan ekonomi maupun kesibukan dengan aktivitas lainnya.
"Kalau saya, wajib dicat dua bulan sekali. Karena kalu tidak, bisa merugi besar. Apalgi terlanjur banyak yang bocor," ungkapnya.
Slamet menerangkan, untuk membuat perahu 26 kaki, dirinya menghabiskan uang sebesar Rp 22 juta. Perahu miliknya bisa bertahan selama lima tahun. Slamet memesannya dari pembuat perahu di Tanjung Pura.
"Setiap hari kita pakai perahu ini untuk cari ikan. Kalau saya, penjualan ikan sebagian disisihkan untuk beli cat dan alat perawatan untuk perahu ini," ujarnya.
Slamet mengaku mengeluarkan Rp 200.000 untuk membeli cat dan membayar tenaga pengecatan. Menurutnya, kapang yang ada di laur memakan apa saja. Baik itu perahu dari kayu atau perahu dari bahan viber.
"Enggak ada obatnya, kecuali perawatan seperti ini. Kalau tidak tunggu saja hancur. Biaya buat perahu mahal," tandasnya.
