Pertama dalam Sejarah, Mamalia Hibrida Beluga-Narwhal Ditemukan di Ark

Media online kekinian yang menyajikan informasi seputar gaya hidup hijau yang ramah lingkungan dan peristiwa terkait alam, lingkungan, sosial, serta pemberdayaan masyarakat untuk bumi kita yang lebih hijau dan lestari
Tulisan dari Trubus ID tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Trubus.id -- Tiga puluh tahun yang lalu, seorang lelaki Inuit di barat Greenland yang sedang berburu paus menembak trio mamalia laut aneh dengan sirip depan seperti beluga dan ekor seperti narwhals (yang disebut "unicorn of the sea"). Dia sangat bingung dengan makhluk aneh tersebut sehingga dia menyelamatkan salah satu tengkorak, dan menggantungnya di luar gubuknya.
Beberapa tahun kemudian, seorang ilmuwan yang mengunjungi daerah itu melihat tengkorak tersebut dan akhirnya membawanya ke Museum Sejarah Alam Denmark. Well, itu memang spesimen aneh: lebih besar dari tengkorak paus beluga atau paus narwhal, tetapi dengan gigi yang entah bagaimana terlihat seperti (di antara) keduanya. Pemburu memberikan keterangan pada sebuah wawancara melalui penerjemah, menggambarkan tubuh abu-abu seragam hewan-hewan tersebut dan giginya yang aneh, bahkan terlihat dari kapalnya. Para peneliti mengira paus itu mungkin keturunan beluga dan narwhal, tetapi mereka tak bisa membuktikannya.
Now, they can. Dalam sebuah makalah baru yang diterbitkan Kamis (20/6) dalam jurnal Scientific Reports, para peneliti mengonfirmasi bahwa tengkorak itu memang milik satu-satunya spesimen yang diketahui dari hibrida beluga-narwhal.
"Kami hanya memiliki spesimen yang satu ini," kata pemimpin studi Eline Lorenzen, kurator mamalia di museum. "Tidak ada yang mendengar tentang ini sebelum atau sesudahnya."
Setengah Paus Tengkorak dari “beluwhal” (atau haruskah itu “narluga”?) terlihat mencolok. Ia tidak memiliki gading (yang sebenarnya gigi) narwhal jantan yang khas, dan tidak seperti narwhal, ia memiliki gigi di rahang bawahnya. Gigi-gigi itu mengingatkan pada gigi beluga, kecuali bahwa mereka menonjol ke luar, seperti sekop. Gigi beluga tumbuh dalam pola vertikal yang rapi.
Dengan hanya berbekal anatomi, mustahil bagi para peneliti untuk membuktikan bahwa tengkorak itu benar-benar berasal dari hibrida, kata Lorenzen. Tapi dia ahli dalam mengambil DNA lama dari tulang, jadi dia dan rekan-rekannya memutuskan untuk mencoba pendekatan genetik untuk pertanyaan itu. Mereka mengebor ke dalam gigi makhluk itu dan mengambil sampel - sampel yang buruk dan rusak, kata Lorenzen kepada Live Science, tetapi masih cukup untuk diurutkan.
Hasilnya jelas: hewan itu jantan, dan hampir 50-50 campuran genetik beluga dan narwhal. Ini menunjukkan bahwa itu adalah hibrida generasi pertama. Untuk mengetahui spesies mana yang merupakan induk, para peneliti mengamati DNA mitokondria hewan tersebut. DNA mitokondria berada di pusat sel hewan, dan diturunkan hanya di sepanjang garis ibu. DNA mitokondria hibrida semuanya narwhal, mengungkapkan bahwa paus ini adalah keturunan dari ibu narwhal dan ayah beluga.
Gigi aneh hibrida bisa membuatnya menggunakan strategi berburu yang berbeda dari orang tuanya, kata Lorenzen. Namun, tak mungkin untuk mengetahui apakah hibrida itu akan mampu memiliki keturunan sendiri. (Tengkorak) itu adalah mamalia hibrida dewasa ketika mati, tetapi tidak banyak yang diketahui tentang dua hibrida lain yang mungkin menyertainya ketika pemburu menembak mereka. Satu tenggelam setelah ditembak, menurut pemburu Inuit. Yang lain dibawa masuk, tetapi tengkoraknya ditinggalkan di dekat pantai dan akhirnya tersapu.
Hibrida tersembunyi? Tidak mungkin untuk mengatakan apakah tembakan pada pertengahan 1980-an itu adalah satu-satunya hibrida di luar sana, kata Lorenzen. Hibridisasi mungkin tidak terlalu umum, katanya. Tidak ada peneliti paus lain yang pernah melihat hibrida semacam itu. Dan data genetik pada narwhals dan beluga menunjukkan bahwa kedua spesies itu menyimpang 5 juta tahun yang lalu dan belum hibridisasi dalam jumlah yang nyata selama setidaknya 1,25 juta tahun.
Meski demikian, kata Lorenzen, sedikit beruntung jika museum Denmark hanya memiliki satu-satunya spesimen hibrida di luar sana. "Mungkin seseorang akan mendengar tentang penelitian di minggu ini dan kita akan mendengar lebih banyak tentang hibrida yang kita tidak tahu," katanya. [NN]
