Ternyata, Hujan Es di Indonesia Itu Fenomena Cuaca Alamiah

Media online kekinian yang menyajikan informasi seputar gaya hidup hijau yang ramah lingkungan dan peristiwa terkait alam, lingkungan, sosial, serta pemberdayaan masyarakat untuk bumi kita yang lebih hijau dan lestari
Tulisan dari Trubus ID tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Trubus.id -- Sepanjang tahun, Indonesia hanya memiliki dua musim, yakni kemarau dan hujan. Maka, tidak heran jika hujan es yang terjadi di wilayah Indonesia dalam beberapa hari terakhir, mengejutkan masyarakat.
Lantas, bagaimana bisa hujan es terjadi di Indonesia? Menurut BMKG, hujan es merupakan fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi.
"Kejadian hujan lebat maupun es disertai kilat atau petir dan angin kencang berdurasi singkat lebih banyak terjadi pada masa transisi atau pancaroba musim. Baik dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya," kata Hary T Djatmiko, Kepala Bidang Manajemen Observasi Meteorologi BMKG, saat dihubungi Trubus.id, Rabu (3/4).
Baca Lainnya : Hujan Es di Gunung Gede, Ini Penjelasan BMKG
Hujan es atau hail adalah presipitasi (curah hujan) dalam bentuk padat yang terdiri dari bola-bola es. Salah satu proses pembentukannya ialah melalui kondensasi uap air lewat pendinginan di atmosfer pada lapisan di atas titik beku atau freezing level nol derajat Celsius.
"Es yang terjadi dengan proses ini biasanya memiliki diameter lima sampai dengan 200 milimeter, berasal dari awan Cumulonimbus (Cb). Nah, batu-batu es atau hail stone yang telah terbentuk, mulai dari bagian tengah awan sampai pada lapisan atas, tidak semuanya mencair ketika turun ke lapisan yang lebih rendah, meskipun dengan suhu yang relatif hangat," beber Hary.
Baca Lainnya : Awan Cumulonimbus Ini Penyebab Hujan Es di Lubuklinggau
Hujan es yang terkadang disertai dengan angin kencang, bahkan puting beliung, dapat berasal dari jenis awan Cb bersel tunggal (single-cell) atau pun berkelompok (multi-cell) yang tumbuh secara vertikal dan di daerah tropis. Bahkan, mencapai level tropopause dengan jangkauan awan bersel tunggal secara horizontal sekitar dua hingga delapan kilometer.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~End Page~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Awan Cumulonimbus (Cb) merupakan representasi bentuk sempurna awan konvektif dewasa yang sangat mudah tumbuh dan berkembang di wilayah Indonesia.
"Jika kristal-kristal es yang telah terbentuk pada puncak awan dingin jatuh melalui lapisan awan campuran yang mengandung tetes-tetes air kelewat dingin, maka kristal es akan tumbuh dengan penambahan atau accretion, yang mana air menjadi beku dalam kristal es dan akan membentuk embrio batu es hujan," bebernya.
Baca Lainnya : Hujan Es Guyur Dua Desa di Aceh, Kok Bisa?
Selanjutnya, embrio batu es hujan akan naik mengikuti arus udara ke atas (updraft), sepanjang arus masih cukup besar untuk menopang massa es. Sebaliknya, akan jatuh ketika kecepatan terminal mengikuti gaya gravitasi lebih besar dibandingkan arus udara ke atas.
Baca Lainnya : Hujan Es Landa Sleman, Begini Penjelasan BMKG
"Batu es yang keluar dari sistem sirkulasi konvektif internal awan dan menuju ke bawah sepanjang penguapan (evaporasi) tidak terlalu besar, akan tetap dalam berada bentuk es. Mungkin saja, membahayakan aktivitas manusia apabila diameter batu es melebihi 2 sentimeter atau terjadi secara masif," bebernya.
Ia melanjutkan, "Bulan April merupakan fase peralihan dari musim kemarau ke hujan. Radiasi matahari yang masuk ke Bumi akan sempurna diterima oleh permukaan, memungkinkan awan tumbuh menjulang apabila didukung adanya inti kondensasi awan." [DF]
