Review Film Ghost in the Cell: Ketika Penjara Menjadi Gambaran Sebuah Negara

Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Tsamara Alfia Thasiru tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Lebih dari sekadar teror, Ghost in the Cell membawa penonton melihat persoalan kekuasaan dan ketidakadilan dari balik jeruji.
Horor, komedi, dan kritik sosial di balik jeruji.

Identitas Film
Judul: Ghost in the Cell
Sutradara: Joko Anwar
Penulis Skenario: Joko Anwar
Produser: Tia Hasibuan
Genre: Horor, komedi, thriller/misteri
Produksi: Come and See Pictures
Tahun Tayang: 2026
Durasi: 106 menit
Negara: Indonesia
Sinopsis
Ghost in the Cell berlatar di sebuah lembaga pemasyarakatan yang dihuni oleh narapidana dengan berbagai latar belakang dan masalah. Kehidupan di dalam lapas dipenuhi konflik, persaingan antarkelompok, serta perlakuan tidak adil dari pihak yang memiliki kekuasaan.
Situasi semakin berubah setelah Dimas, seorang narapidana baru, masuk ke dalam lapas. Setelah kedatangannya, muncul kejadian-kejadian misterius yang membuat para narapidana mulai merasa terancam. Mereka kemudian harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan menghadapi sesuatu yang berada di luar kemampuan mereka. Dalam keadaan tersebut, orang-orang yang sebelumnya saling bermusuhan justru dipaksa untuk bekerja sama.
Resensi
Hal pertama yang menurut saya menarik dari Ghost in the Cell adalah film ini tidak hanya mengandalkan unsur horor. Dari awal, penonton sudah dibawa ke kehidupan sebuah penjara yang penuh dengan masalah kekuasaan, konflik, dan ketidakadilan. Jadi, ketika unsur supernatural mulai muncul, film ini terasa seperti sedang membicarakan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar cerita tentang hantu.
Menurut saya, penjara dalam film ini juga bisa dilihat sebagai gambaran kecil dari kehidupan masyarakat. Di dalamnya ada orang yang memiliki kekuasaan, ada yang diperlakukan berbeda karena statusnya, ada kelompok yang saling berkonflik, dan ada orang yang harus mengikuti aturan yang sebenarnya tidak selalu adil. Hal ini membuat beberapa bagian film terasa seperti sindiran terhadap kondisi sosial dan politik yang dekat dengan kehidupan Indonesia.
Yang saya suka, kritik tersebut tidak disampaikan dengan cara yang terlalu serius. Film ini memasukkan komedi di tengah suasana horor sehingga ceritanya tidak terasa monoton. Ada bagian yang membuat tegang, tetapi kemudian suasananya dapat berubah menjadi lucu. Perpaduan seperti ini menurut saya menjadi salah satu daya tarik film karena penonton tidak hanya diajak merasa takut, tetapi juga melihat sisi absurd dari situasi yang sedang terjadi.
Karakter-karakternya juga cukup beragam dan memiliki peran masing-masing dalam membangun cerita. Anggoro, misalnya, menjadi salah satu karakter yang cukup menonjol karena sikapnya terhadap keadaan di dalam lapas. Sementara itu, Dimas sebagai narapidana baru menjadi salah satu pintu masuk bagi penonton untuk mengenal dunia penjara tersebut. Hubungan antarkarakter kemudian berkembang ketika mereka menyadari bahwa masalah yang dihadapi tidak dapat diselesaikan sendirian.
Hal yang paling terasa bagi saya justru ada pada perubahan hubungan antarkarakter. Orang-orang yang sebelumnya memiliki kepentingan dan kelompok masing-masing akhirnya harus melihat bahwa mereka mempunyai masalah yang sama. Dari sini, film seperti ingin menunjukkan bahwa ketika sebuah masalah sudah menyangkut kepentingan bersama, perbedaan yang sebelumnya dianggap penting bisa menjadi tidak berarti.
Dari sisi penyampaian, film ini cukup berani mencampurkan beberapa unsur sekaligus. Horor, komedi, misteri, dan kritik sosial berada dalam satu cerita. Namun, menurut saya, perpindahan suasananya terkadang terasa cukup mendadak. Ada bagian ketika saya sedang terbawa suasana serius, tetapi kemudian film langsung membawa saya ke suasana komedi. Bagi saya, hal ini memang menjadi ciri khas filmnya, tetapi di beberapa bagian juga membuat alurnya terasa sedikit tidak stabil.
Meski begitu, saya justru merasa pendekatan seperti ini membuat Ghost in the Cell memiliki identitas sendiri. Film ini tidak berusaha menjadi film horor yang hanya membuat penonton takut. Di balik cerita tentang lapas dan kejadian misterius, ada banyak hal yang bisa dibaca dari persoalan kekuasaan, ketidakadilan, dan bagaimana manusia bersikap ketika berada dalam sebuah sistem.
Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, bagian kritik sosialnya menurut saya cukup menarik untuk diperhatikan. Film ini menunjukkan bahwa sebuah cerita fiksi bisa menjadi cara untuk menyampaikan kritik tanpa harus menjelaskannya seperti sebuah berita atau tulisan opini. Penonton dapat menangkap pesan melalui karakter, konflik, dialog, dan situasi yang dibangun sepanjang film.
Setelah menonton film ini, kesan yang paling saya dapat bukan hanya soal horornya, tetapi juga tentang bagaimana sebuah tempat dengan aturan dan kekuasaan tertentu bisa menjadi gambaran dari kehidupan yang lebih luas. Saya juga merasa film ini cukup berhasil membuat isu yang sebenarnya serius menjadi lebih mudah diterima karena disampaikan melalui humor dan cerita yang menghibur.
Kesimpulan
Ghost in the Cell menurut saya merupakan film yang menarik karena berhasil menggabungkan horor, komedi, misteri, dan kritik sosial dalam satu cerita. Film ini tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga memberikan ruang bagi penonton untuk melihat persoalan kekuasaan dan ketidakadilan dari sudut pandang yang berbeda.
Walaupun perpindahan antara suasana serius, horor, dan komedi terkadang terasa kurang mulus, hal tersebut juga menjadi bagian dari karakter filmnya. Bagi saya, daya tarik terbesar film ini justru terletak pada pesan di balik ceritanya: sebuah film horor ternyata bisa menjadi cara untuk membicarakan masalah sosial yang cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Rating: 8,8/10
