Konten dari Pengguna
Pesan Banjir Sumatera: Berhentilah Jadi Spesiesis
3 Desember 2025 17:30 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Pesan Banjir Sumatera: Berhentilah Jadi Spesiesis
Berhentilah menjadi spesiesis. Mulailah melihat bumi bukan sebagai gudang sumber daya, tapi sebagai rumah bersama. M TSANIN ZUHAIRY
Tulisan dari M TSANIN ZUHAIRY tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Banjir datang, dan Sumatera tenggelam. Ratusan nyawa manusia lenyap. Ribuan rumah hilang. Akses jalan terputus, jembatan roboh, sawah menjelma danau keruh. Anak-anak kehilangan orang tua, orang tua kehilangan anak, dan kita semua kehilangan rasa aman.
ADVERTISEMENT
Sampai hari ini banyak orang masih bertanya-tanya: mengapa banjir kali ini begitu mematikan? Apa yang membuatnya berbeda dari banjir sepuluh tahun yang lalu? Dua puluh tahun yang lalu?

Salah satu jawabnya ada pada spesiesisme: keyakinan bahwa manusia adalah mahkota ciptaan, satu-satunya pemilik nilai intrinsik yang absolut, yang tak dimiliki binatang dan tumbuhan. Tentu saja, keyakinan itu bukan naluri alamiah, melainkan hasil konstruksi panjang filsafat Barat dan sains modern yang sangat mekanistis.
Dari René Descartes yang menganggap binatang sebagai automata tanpa jiwa, hingga Francis Bacon yang memandang alam sebagai bahan baku yang harus ditaklukkan, sesungguhnya kita telah lama dilatih dan dibentuk untuk melihat diri sebagai “tuan”. Yang lain—hutan, rawa, harimau, gajah, burung, serangga—cuma“sumber daya”.
ADVERTISEMENT
Dalam Animal Liberation (1975), Peter Singer sudah lama teriak tentang bahaya spesiesisme. Tapi kita tutup telinga. Kita merasa nyaman hidup dengan sebuah kebohongan: bahwa manusia berdiri di puncak segala makhluk, bahwa nilai kita tak terbandingkan. Kita mengulang-ulang cerita itu sampai menjadi doa: manusia berakal, manusia berbahasa, manusia beradab. Dengan itu, kita merasa berhak mengambil apa saja dari yang lain. Kita bangun peradaban di atas keyakinan busuk itu: tebang hutan, keringkan rawa, kurung satwa, keruk bumi. Semua sah selama manusia untung.
Banjir Sumatera Bukan Bencana Alam
Kini, lihatlah Sumatera. Ketika hujan berubah menjadi malaikat maut, dengan enteng kita menyebutnya “bencana alam”. Istilah yang begitu halus, bersih, rapi, seperti bencana itu jatuh dari langit. Padahal ia menutupi fakta paling penting: bencana itu buatan manusia.
ADVERTISEMENT
Selama bertahun-tahun, hutan primer Leuser, Batang Toru, Kerinci Seblat, hingga gugus Barisan ditebas demi kebun sawit, demi tambang emas, demi proyek-proyek yang diberi nama manis: “pembangunan”. Pohon-pohon raksasa yang memeluk tanah hilang. Akar-akar yang dulu menyimpan air digantikan tanah gundul yang rapuh. Daun-daun yang dulu meredam hujan kini diganti kanopi plastik greenhouse. Ketika hujan datang, air tak bisa lagi meresap. Ia mengalir deras di permukaan, membawa serta tanah longsor, batu-batu besar, dan akhirnya nyawa manusia.
Kita masih membela semua ini dengan mantra klasik: “Sawit itu ekonomi rakyat.” Tapi, beranikah kita melihat lebih dekat? Di balik setiap liter minyak goreng murah, ada hutan yang mati. Ada orangutan tanpa rumah. Ada gajah tertimbun lumpur. Ada anak-anak Dairi yang tidur di pengungsian. Kita telah menukar terlalu banyak nyawa: nyawa manusia, nyawa satwa, nyawa pohon, demi satu liter minyak goreng dengan harga diskon.
Mengubah Cara Memandang Kehidupan
Spesiesisme sungguh membuat kita buta. Kita tak henti menangisi hilangnya nyawa manusia, tapi selama ini menutup mata terhadap jutaan pohon yang ditebang. Kita mengutuk banjir, tapi tetap saja memasukkan sabun, sampo, margarin, dan biskuit berbahan sawit ke dalam keranjang belanja. Kita menyalahkan curah hujan, padahal hutan yang masih utuh di Kalimantan dan Papua menunjukkan: banjir bukan takdir, banjir itu konsekuensi.
ADVERTISEMENT
Betul, “kita harus makan”, “kita butuh pembangunan.” Tapi keliru jika pembangunan harus menukar masa depan anak cucu demi keuntungan segelintir orang. Ketika lereng ditebang, yang mati bukan pemilik modal. Bukan korporasi. Bukan para penanda tangan izin. Bukan kita yang menumpuk produk sawit di keranjang belanja tanpa rasa bersalah. Yang mati adalah mereka yang bahkan tak pernah diajak bicara ketika keputusan diteken atas nama pembangunan dan kemajuan.
Tentu, kita tak perlu menjadi aktivis garis keras yang menolak semua produk sawit. Kita juga tidak harus berhenti makan mie instan atau biskuit. Yang kita butuhkan jauh lebih sederhana: mengubah cara kita memandang kehidupan.
Bayangkan bila hutan tropis kita masih utuh. Akar-akar bekerja seperti spons raksasa yang menahan hujan. Daun-daun memecah laju tetesan air agar tanah tidak langsung tersayat. Serasah daun menjadi pupuk alami yang menjaga kesuburan. Burung dan kelelawar membawa benih, memastikan hutan terus tumbuh. Harimau dan gajah menjaga keseimbangan ekosistem. Dan manusia? Manusia tetap hidup—bahkan lebih aman—karena banjir tak akan datang lagi membawa maut.
ADVERTISEMENT
Banjir Sumatera bukan akhir. Ia permulaan. Para ilmuwan sudah memperingatkan: dengan laju deforestasi yang tak terkendali, banjir bandang akan datang lebih sering, lebih besar, dan lebih mematikan. Sumatera Barat yang dulu hijau kini makin menguning di citra satelit. Aceh yang dulu laksana paru-paru dunia kini penuh luka tambang. Jika kita terus menganggap pohon “hanya kayu”, sungai “hanya air”, dan binatang “hanya hewan”, maka kita sedang menulis surat kematian untuk anak-cucu kita sendiri.
Namun bukan berarti tak ada jalan keluar. Jalan itu masih ada dan terbuka. Jalan itu sangat sederhana: berhentilah jadi spesiesis. Mulailah melihat bumi bukan sebagai gudang sumber daya, tapi sebagai rumah bersama. Pilihlah produk yang tidak merusak hutan. Dukung kebijakan yang melindungi kawasan konservasi. Tanam pohon, meski hanya satu. Ajarkan anak-anak kita, bahwa semua binatang juga punya hak hidup, bahwa pohon jati tua di halaman sekolah lebih berharga daripada seribu kursi baru.
ADVERTISEMENT
Banjir Sumatera adalah cermin yang sangat jernih. Di genangan air keruh, yang menenggelamkan desa-desa itu, kita melihat wajah kita sendiri: wajah spesies yang terlalu lama menganggap dirinya tuhan. Jika kita masih menutup mata, banjir berikutnya akan lebih besar, lebih cepat, dan lebih mematikan.
Sembuhkan cara kita memandang kehidupan. Semua kehidupan. Maka bumi akan mulai menyembuhkan kita.
Itu satu-satunya jalan. Dan, waktu kita sudah amat sangat sedikit!

