Konten dari Pengguna

Bahaya Self-Diagnosis Mental Health di Era Komunikasi Digital

Tsara Amalia

Tsara Amalia

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tsara Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber gambar: sora chatgpt
zoom-in-whitePerbesar
Sumber gambar: sora chatgpt

Pada era serba digital saat ini, kesadaran akan kesehatan mental meningkat drastis. Orang-orang mulai terbuka membicarakan anxiety, OCD, bipolar, bahkan trauma. Fenomena self-diagnosis gangguan mental mucul ketika seseorang mengklaim dirinya mengalami gangguan tertentu hanya berdasarkan informasi dari media sosial, artikel internet, atau pengalaman orang lainmtanpa proses diagnosis profesional. Fenomena ini makin meluas, khususnya di kalangan generasi muda. Bahkan banyak web yang menyediakan tes kesehatan mental secara gratis.

Media sosial dipenuhi oleh konten edukasi psikologi, namun tidak semuanya akurat atau sesuai konteks. Ketika seseorang merasa sedih atau lelah, lalu melihat video bertajuk “Ciri-ciri Depresi yang Tidak Kamu Sadari”, mereka bisa langsung merasa “ini gue banget” dan menyimpulkan sendiri bahwa mereka depresi. Padahal, gejala gangguan mental tidak sesimple itu, gangguan mental sangat kompleks bahkan harus ada penilaian dari tenaga profesional.

Baru-baru ini banyak orang yang merasa dirinya punya ADHD, anxiety, atau trauma berdasarkan konten di media sosial bahkan web yang menyediakan self diagnosis itu sendiri. Mereka yang terpengaruh akan media ini bisa terjebak dalam overidentifikasi. Mereka merasa “paham” tentang dirinya, padahal belum tentu tepat. Ini bisa membuat mereka berhenti mencari pertolongan profesional atau menolak penjelasan yang lebih akurat.

Fenomena ini menunjukkan literasi media sangat penting dalam memahami isu kesehatan mental apalagi pada era serba digital saat ini. Tanpa pendampingan profesional dan kemampuan untuk menyaring informasi, individu bisa salah mengartikan gejala yang dialami dan membentuk identitas berdasarkan asumsi yang keliru. Alih-alih membantu, self-diagnosis yang tidak tepat justru dapat mengaburkan masalah sebenarnya dan menghambat proses penyembuhan yang seharusnya dibangun secara tepat oleh profesional.