Lebaran ke Fullmetal Alchemist: Inti Kehidupan Ada di Momen Lebaran

Saya adalah seorang mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur'an danTafsir Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto. Mulai aktif menulis semenjak tahu bahwa dunia tidak baik-baik saja bagi orang bodoh
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Tubagus Naufal Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebelum membahas Lebaran, Kamu harus tahu dulu fullmetal alchemist
Dalam dunia perfilm-an, Fullmetal Alchemist atau dalam bahasa Indonesia jika diterjemahkan menjadi alkimia baja adalah anime yang menceritakan tentang perjuangan kakak-beradik yang memiliki tekad untuk mengembalikan tubuh dan jiwanya ke kondisi semula setelah gagal dalam transmuasi manusia. Perlu kamu ketahui, jadi alkimia yang dalam anime tersebut sebenernya semacam sihir namun dengan peraturan “Segala sesuatu yang diwujudkan dibayar dengan sesuatu yang sepadan”.
Contoh saja, saya memiliki keinginan untuk memperbaiki kursi yang rusak. Maka saya menggunakan energi dari bumi atau apapun itu untuk memperbaiki kursi yang rusak. Begitupula jika saya ingin mengadakan barang yang semulanya tidak ada menjadi ada. Kelihatannya enak dan cukup simpel ya? Sebenernya untuk mengatur keserakahan manusia dan dunia yang damai, ada beberapa hal yang dilarang dalam alkimia. Yaitu : 1. Transmutasi manusia – menghidupkan orang yang sudah mati, 2. Transmutasi emas – mewujudkan emas secara ril, 3. Transmutasi pengikatan jiwa – mengikat jiwa ke beberapa benda tertentu dan bahkan pembuatan batu bertuah (mustika merah) yang mengorbankan jutaan manusia.
Hukum Pertukaran setara
Ada satu hal yang unik dalam fullmetal ini, sebagaimana yang sudah saya sebutkan di atas. Terdapat peraturan setara, kalau kamu mau mewujudkan sesuatu kamu harus membayar dengan usaha/nilai yang setimpal. Edward Elric (MC anime tersebut) menukarkan tangan dan kaki untuk mencoba transmutasi manusia yang akhirnya gagal, bahkan adiknya sampai kehilangan tubuh dan jiwanya.
Realistis sekali hukum ini, menampar saya untuk belajar tidak serakah dan tidak bermalas ria. Contoh kecil saja, jika saya ingin makan indomie, maka saya harus menggerakkan badan, menyempatkan waktu untuk membuatnya – membuka kemasan, menyiapkan wadah, menyobek bumbu, dan merebus mie – saya harus memberikan nilai yang sepadan. Sama halnya dengan hukum Newton, ketika ada aksi maka akan ada reaksi. Ini bukan hukum biasa, hukum ini memberikan pengajaran kepada manusia inilah dunia, ada sebab dan akibat. Dunia tidak se-mudah membuat mie Instan. Walaupun kelihatan sepele, hukum ini memiliki posisi terpenting – menurut saya – dalam kehidupan. Hukum ini adalah inti kehidupan.
Peraturan dibuat pasti ada tujuannya
Tiga peraturan yang tidak boleh dilakukan pasti memiliki tujuan, izinkan saya menjabarkan dengan pemahaman yang cetek ini. Transmutasi manusia dilarang sebab hubungan antar negara akan kacau dengan pasukan manusia buatan yang dijadikan alat perang, transmutasi emas dilarang karena dapat menimbulkan masalah ekonomi level Internasional. Kemudian yang terakhir, pelarangan transmutasi pengikatan jiwa atau pembuatan baru mustika sebab dapat menyebabkan korban terlalu banyak dan mengurangi hak kehidupan manusia (dzalim terhadap manusia lain).
Sama halnya dengan 3 peraturan tersebut, Hukum pertukaran setara ini sebenernya dibuat untuk mencegah penggunaan alkimia secara masif dan bebas. Terdapat etika yang harus dijalankan di dalam penggunaannya. Ingat juga, ketika pertukaran setara dilakukan, hal ini dapat menjadi pengingat bahwa manusia bukan Tuhan yang dapat menciptakan apa pun dari ketiadaan, menjaga kecongkakan manusia yang dapat menimbulkan masalah besar, seperti menghidupkan orang yang sudah meninggal, membuat emas dan lain-lain.
Apa hubungannya dengan momen lebaran?
Dalam momen lebaran, biasanya terdapat aksi memberi dan menerima. Tanpa disadari atau tidak, tiap elemen masyarakat dalam struktur sosial terkecilnya melakukan aksi terima dan memberi ketika lebaran. Ketika pemberi melakukan aksinya di tahun ini, ia sebenarnya sedang memanen tabungannya di masa tua. Ia akan diberikan – menjadi penerima – dari yang awalnya penerima. Contoh, seorang om atau tante - sebagai pemberi - memberikan uang THR kepada ponakan – sebagai penerima – di tahun ini. Ketika 20 tahun mendatang, penerima akan berubah menjadi pemberi dan sebaliknya – jika dunia berjalan semestinya.
Memberi dan menerima sebenernya juga bukan dilihat dari untung-rugi. Di sana terdapat jiwa sejati yang harusnya manusia miliki. Ketika ada, jadilah pemberi. Ketika tidak mampu, maka usahakan menerima dengan tekad memberi jika sudah mampu. Kemudian hukum setara ini bukan soal kapitalis tapi juga sosialis. Ketika ingin hubungan terjaga antar saudara, maka di momen lebaran harus ada kegiatan berkunjung – dikunjungi, kurang lebih modelnya sama dengan memberi dan menerima.
Berkunjung memberi daya upaya proses perjalanan menuju rumah yang dikunjungi, yang dikunjungi pun berupaya untuk menerima dan juga memberi dengan permisalan kue-kue yang tersedia untuk tamu. Antara memberi dan menerima, atau ketika ingin sesuatu maka harus memberi dengan nilai yang sama sebenarnya masing-masing dari nilai tersebut tanpa disadari memiliki dua hal sebelum dampaknya dirasakan lawannya (memberi dan menerima). Contoh tadi, berkunjung artinya memberikan daya upaya dan juga menerima hubungan relasi yang baik (sebagai hasil pertukaran) atau hal-hal lain semisal uang THR dll. Begitupula dengan yang dikunjungi.
Pertukaran setara juga bukan hanya berbentuk uang saja, ia bisa berupa segala hal yang berkaitan dengan input dan output. Berkunjung ke rumah orang tua, berkendara dalam perjalanannya. menghabiskan bensin untuk berkendara, membeli bensin, mengorbankan waktu istirahat, mengorbankan waktu luang dan lain sebagainya merupakan input yang kita harapkan menghasilkan output "Kebersamaan dan ke
Pelajaran berharga datang dari mana saja
Jujur saja, konsep hukum setara yang saya lihat di momen lebaran ini merupakan perenungan yang dilakukan secara spontan. Sembari salam-salaman, saya coba juga menyelesaikan film tersebut, sembari saya berpikir. Kadang hal yang kelihatan sepele seperti tadi, seakan-akan sudah menjadi sunnatullah yang diabaikan karena terlalu sering terjadi di kehidupan manusia.
Menonton anime atau film bagi saya memang bukan sekadar hiburan, tapi juga cara untuk mengambil pelajaran. Menurut saya, pelajaran bisa di dapat di mana pun, tidak harus selalu di bangku sekolah. Segala hal yang ada di dunia ini adalah teks yang bisa kita baca dan pelajari. Kalau kamu kutu buku, jadikanlah dunia ini buku yang harus kamu baca. Dengan begini, kamu bisa belajar dengan apa pun dan di mana pun melalui buku kehidupan.
