Konten dari Pengguna

Menjadi Tua Harus Bahagia

Tubagus Naufal Ramadhan

Tubagus Naufal Ramadhan

Saya adalah seorang mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur'an danTafsir Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto. Mulai aktif menulis semenjak tahu bahwa dunia tidak baik-baik saja bagi orang bodoh

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tubagus Naufal Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Menjadi tua tetap bahagia (sumber:https://www.istockphoto.com/id/search/2/image-film?phrase=happy%20muslim%20family)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Menjadi tua tetap bahagia (sumber:https://www.istockphoto.com/id/search/2/image-film?phrase=happy%20muslim%20family)

Puisi dengan berjudul "Ulang Tahun" adalah salah satu karya dari Abdul Wachid B.S. yang telah terjun ke dalam dunia puisi dalam waktu yang lama. Abdul Wachid B.S. terlahir dari Ibu Siti Herawati dan Ayah Muhammad Abdul Basyir, seorang pedagang, guru dan ketua sebuah yayasan sebuah madrasah kecil, yaitu Madrasah Miftahul Amal. Abdul Wachid terlahir di sebuah dusun yang bernama Bluluk, Lamongan, Jawa Timur pada tanggal 7 Oktober 1966. Sebagai seorang yang telah memiliki pengalaman mendalam, maka tak luput dusun kelahirannya menjadi judul salah satu puisinya, puisi tersebut berjudul Masjid Jami’ Bluluk. Ayahnya (yakni Muhammad Abdul Basyir) banyak mengkoleksi buku-buku, dari sinilah Abdul Wachid mulai suka membaca.

Kakek Abdul Wachid dari pihak ibu bernama Muhammad Usmuni sedangkan Kakeknya dari pihak ayah bernama Masyhuri Wiryosumarto. Kedua Kakek Abdul Wachid sangat suka bercerita kepada Abdul Wachid kecil seperti cerita fabel, epos Mahabharata, kisah Rama dan Sinta, Damarwulan dan Anjasmara, Jaka Tarub dan bidadari, Panji dan Candrakirana, serta sejarah para wali dan sufi, juga kehidupan Nabi dan para pengikutnya. Abdul Wachid kerap membuat puisi yang bernuansa religi dan romance hal tersebut ternyata dipengaruhi oleh seringnya Abdul kecil menonton acara sholawatan, ludruk, wayang kulit, bahkan tayuban.

Wachid memulai pendidikannya di SDN Bluluk I dan lulus pada tahun ajaran 1978/1979, bertepatan dengan perubahan Tahun Ajaran Baru dari Januari ke Agustus. Namun, dia tidak menamatkan pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah dan hanya sampai kelas lima. Pendidikan SMP-nya diselesaikan di SMP Negeri I Babat (1979-1982), kota terdekat dari desanya. Dia melanjutkan ke SMA Negeri Argomulyo Yogyakarta (1982-1985), di mana Wachid mulai aktif dalam dunia sastra dan bersama teman-temannya mendirikan majalah sekolah Mekar (Media Karya). Dia pernah menempuh studi di Fakultas Hukum Universitas Cokroaminoto Yogyakarta (1985-1987) serta di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, di mana dia meraih gelar Sarjana Sastra (S.S.) pada tahun 1996. Di Pascasarjana UGM, dia memperoleh gelar Magister Humaniora (M.Hum.) dari Program Studi Sastra pada tahun 2007. Abdul Wachid B.S. menyelesaikan Program Doktor (Dr.) Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dengan disertasi berjudul “Dimensi Profetik Puisi A. Mustofa Bisri: Kajian Hermeneutika dan Pragmatik Sastra,” yang dia pertahankan pada Sidang Terbuka Promosi Doktor pada Selasa, 15 Januari 2019.

Setelah berkenalan dengan penulis puisi yang akan saya bahas dalam tulisan ini, yakni puisi yang berjudul Ulang Tahun. Berikut Puisi Abdul Wachid B.S. yang berjudul Ulang Tahun

ulang tahun bukanlah hanya

tahun yang berulang ia

adalah pejalan kaki yang

mengukur trotoar yang tak terhingga

sampailah di sebuah tikungan usia

ia berjumpa denganmu tibatiba

ia jatuh cinta kepada alis matamu yang

lebat seperti hutan dan hujan masakecilnya

ulang tahun bukanlah hanya

tahun yang berulang ia

adalah pejalan hatimu yang membaca

begitu telaten halaman dari hari ke hari

sampailah di sebuah alinea usia

ia menemukan jawaban yang selama

ia pandangi wajahmu kemana pun arah yang

dituju seperti matahari dan pelangi masakecilnya

yogyakarta, 10 Juni 2018

Puisi di atas sarat akan makna, seakan-akan menjelaskan bahwa menjadi tua belum tentu bahagia. Abdul seakan-akan ingin menyampaikan bahwa gunakanlah umurmu untuk hal-hal yang berguna, hal ini dapat dilihat dari penggalan puisi pada kalimat ulang tahun bukanlah hanya Tahun yang berulang yakni bukan sekedar menjalani hari-hari dengan penuh kemalasan namun ia adalah pejalan kaki yang mengukur trotoar yang tak terhingga, pejalan kaki yang terus melangkah sembari mengukur trotoar bermakna manusia yang selalu menjalani kehidupannya penuh dengan semangat dan membuat strategi untuk jalan kehidupannya di masa depan, sebagaimana kita pahami bersama-sama, bahwa orang yang mengukur sesuatu yang tak terhingga pasti akan sangat teliti dan cermat sehingga ia tak terbius dengan godaan yang datang silih berganti.

Diksi Sampailah di sebuah tikungan usia bermakna pengulangan tanggal yang sama dimana manusia merayakan hari kelahirannya, pejalan kaki yang mengukur trotoar dengan teliti dan hati-hati akhirnya bertemu denganmu sebagaimana kalimat ia berjumpa denganmu tibatiba. Kamu dalam puisi ini bisa jadi adalah penulis puisi yakni Abdul Wachid yang ingin mengingatkan diri sendirinya atau mungkin pembaca puisi Abdul Wachid agar merasakan apa yang ingin disampaikan. Diksi Ia jatuh cinta kepada alis matamu seakan-akan hanya kamu lah manusia yang engkau temui di sepanjang jalan trotoar yang tak terhingga, manusia yang memiliki kehidupan yang unik penuh semangat sebagaimana kalimat yang Lebat seperti hutan dan hujan masakecilnya. Ia menyukaimu seperti hujan masa kecilnya yang selalu dinanti-nanti anak-anak kecil pada umumnya.

Diksi ulang tahun bukanlah hanya tahun yang berulang berupa ritme (pengulangan kalimat/frasa) untuk menguatkan pesan yang telah disampaikan, yakni kamu (pembaca/penulis puisi) harus mengingat bahwa ulang tahun bukanlah hanya tahun yang kamu nantikan dan ditunggu-tunggu untuk dirayakan, tetapi ulang tahun adalah sebuah proses perjuangan dirimu dari tahun ke tahun dengan penuh kecermatan dan ketelatenan sebagaimana kalimat yang membaca begitu telaten halaman dari hari ke hari. Ia selalu menemani hari-harimu dengan memahami segala isi hatimu, ia yang menjadi saksi perilakumu terhadap keinginan hatimu yang mana belum tentu benar atau salah tanpa sebuah komentar ia adalah pejalan hatimu.

Diksi sampailah di sebuah alinea usia yakni penghujung kehidupanmu, ia akhirnya memahami kemana tujuan dan arah bimbangmu selama ini, ia mengetahui akhir hidupmu sebagaimana kalimat Ia menemukan jawaban. Ia selalu melihat gerak-gerik di sepanjang hidupmu yang selalu mengikuti arah hatimu, tentu saja kita mengetahui bahwa hati adalah hal yang mustahil dipahami karena sangat samar sekali keinginannya, manusia juga tidak mengerti apakah hatinya diselubungi cahaya atau amarah nafsu sebagaimana kalimat ia pandangi wajahmu kemana pun arah yang dituju. Akhir puisi ditutup dengan bahasa figuratif seperti matahari dan pelangi masakecilnya bermakna sebagai penguat dari arah gejolaknya hatimu dalam setiap langkah perjalananmu, sebagaimana pada umumnya benda-benda yang ada di langit khususnya matahari dan pelangi bagi anak-anak adalah hal yang menakjubkan, bahkan karena ketakjubannya mereka memikirkan hal-hal yang aneh dan tak masuk akal menuruti rasa keingintahuannya, seperti pertanyaan ada apa di ujung pelangi? Sehingga mereka mencoba mencari tahu dimana ujung dari pelangi.

Setelah mengenali makna yang tersirat dari puisi “Ulang Tahun”, selanjutnya mari kita bahas struktur fisik dari puisi diatas. Puisi Abdul di atas berbentuk bait dengan diksi berupa kalimat ulang tahun, pejalan kaki, trotoar yang tak terhingga dan lain-lain. Adapun kalimat imajinasinya berupa pejalan kaki yang mengukur trotoar yang tak terhingga. Adapun kata konkretnya adalah ia menemukan jawaban yang selama ia pandangi wajahmu kemana pun arah yang dituju. Berirama asonansi A sebagaimana kalimat sampailah di sebuah tikungan usia ia berjumpa denganmu tibatiba. Berbahasa figuratif ia jatuh cinta kepada alis matamu, dengan pengulangan kata (ritme) kata ulang tahun.

Adapun struktur batin dari puisi di atas sebagai berikut, bertemakan perjuangan manusia dalam kehidupan, puisi yang berperasaan semangat menjalani hidup, bernada untuk mengajari pembaca untuk menghargai waktu dan kehidupan. Suasana dalam puisi di atas adalah perasaan untuk selalu menghargai waktu dan tidak bertindak malas dalam kehidupan agar tidak ada penyesalan. Adapun amanat dalam puisi di atas yang dapat saya ambil kira-kira seperti ini “Hendaknya kita menghormati serta menggunakan waktu dan kehidupan yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita dengan sebaik-baiknya”.

Tubagus Naufal Ramadhan, mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri.