Konten dari Pengguna

Mute dan Unfollow: Cara Gen Z Menjauh dari Orang yang Disukai

Nadine Andara

Nadine Andara

Mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nadine Andara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seseorang yang memilih menjaga jarak melalui media sosial (Sumber: www.canva.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang yang memilih menjaga jarak melalui media sosial (Sumber: www.canva.com).

Apakah kamu pernah menyukai seseorang, tapi justru memilih mute story atau bahkan unfollow akunnya? Kenapa justru ada yang memilih menjauh dari orang yang disukainya? Mari kita kupas alasan di balik fenomena ini!

Belakangan ini, muncul tren menghapus kontak, mute story, hingga unfollow akun orang yang disukai. Hal ini terjadi karena media sosial membuat kita bisa terus terhubung dengan kehidupan seseorang dengan sangat mudah. Kita dapat melihat aktivitas yang dia lakukan, hingga dengan siapa dia berinteraksi.

Padahal, sering melihat postingan, story, atau aktivitas media sosial seseorang dapat membuat perasaan terhadapnya tetap “terpelihara”. Secara psikologis, hal ini bisa terjadi karena paparan berulang terhadap seseorang dapat mempertahankan perhatian kita terhadap dirinya (Zajonc, 1968). Akibatnya, seseorang menjadi lebih sering memikirkan sosok tersebut, meskipun sebenarnya interaksi yang terjadi tidak terlalu dekat.

Tanpa disadari, media sosial membuat seseorang sulit benar-benar “jauh” dari orang yang disukainya. Tidak jarang, seseorang mulai memikirkan arti interaksi kecil, menunggu balasan, atau membandingkan dirinya dengan orang lain yang tampak dekat dengan sosok tersebut. Dari sinilah overthinking perlahan muncul. Hal-hal kecil di media sosial akhirnya terasa lebih bermakna secara emosional. Seseorang bisa merasa senang hanya karena story-nya dilihat atau pesannya dibalas cepat, tetapi juga mulai memikirkan banyak hal ketika interaksi terasa berbeda dari biasanya.

Di satu sisi, seseorang ingin tetap mengetahui kehidupan orang yang disukainya. Ada rasa penasaran untuk tahu aktivitasnya atau sekadar memastikan kabarnya. Namun di sisi lain, terlalu sering melihat kehidupan orang tersebut justru membuat perasaan sulit tenang. Akibatnya, seseorang bisa merasa lelah secara emosional karena pikirannya terus tertuju pada sosok tersebut, meskipun sebenarnya ingin perlahan menjaga jarak.

Menariknya, media sosial juga dapat menciptakan ilusi kedekatan. Melihat kehidupan seseorang setiap hari membuat kita merasa mengenal dan dekat dengannya, meskipun hubungan yang terjalin sebenarnya sangat terbatas. Kedekatan digital inilah yang kadang membuat seseorang lebih sulit menjaga jarak secara emosional.

Karena itu, menjauh terkadang bukan berarti membenci, melainkan usaha untuk menjaga diri. Ketika seseorang merasa bahwa terus melihat kehidupan orang yang disukainya membuatnya sulit fokus dan mengganggu kestabilan emosinya, ia mungkin memilih untuk mengambil jarak. Mute atau unfollow menjadi cara untuk mengurangi paparan yang terus memicu perhatian dan pikiran terhadap orang tersebut.

Dalam psikologi, usaha untuk mengatur perilaku, perhatian, dan emosi agar tetap stabil dikenal dengan istilah self-regulation (Bandura, 1991). Salah satu bentuk self-regulation dapat dilakukan dengan membatasi paparan media sosial terhadap hal-hal yang membuat sulit fokus atau terus terikat secara emosional. Dengan begitu, perhatian perlahan tidak lagi terus-menerus tertuju pada satu sosok saja, sehingga seseorang dapat lebih fokus menjalani aktivitas sehari-hari.

Karena itu, mute atau unfollow sering kali bukan tindakan impulsif semata. Bagi sebagian orang, hal tersebut menjadi cara untuk mengambil kembali kendali atas perhatian dan emosinya sendiri.

Pada akhirnya, fenomena mute dan unfollow menunjukkan bahwa di era media sosial, menjaga jarak tidak selalu dilakukan secara fisik. Kadang, seseorang hanya perlu menekan tombol mute atau unfollow untuk perlahan menenangkan pikirannya sendiri.

________________________________________________

Oleh Nadine Andara dan Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog.