Konten dari Pengguna

Dari Scroll Menuju Makna: Gen Z dan Gen Alpha dalam "Sangkan Paraning Dumadi"

Rocky Prasetyo Jati

Rocky Prasetyo Jati

Rocky Prasetyo Jati adalah dosen dan peneliti di Universitas Budi Luhur yang aktif mengembangkan riset seputar media dan kreativitas. Minat akademiknya mencakup creative thinking, media hiperlokal, media komunitas, serta teknologi komunikasi.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rocky Prasetyo Jati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Gen Z. Foto: Fit Ztudio/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gen Z. Foto: Fit Ztudio/Shutterstock

Generasi muda saat ini berada dalam pusaran informasi yang melimpah. Namun, tanpa kerangka orientasi yang kokoh, mereka lebih rentan terseret arus daripada menemukan arah hidup yang bermakna. Posisi media sosial, algoritma, dan budaya instan membuat banyak anak muda merasa cemas, gamang, bahkan terjebak dalam definisi kesuksesan yang ditentukan orang lain. Hidup seakan hanya berlomba menjadi yang paling cepat, paling kaya, atau paling viral. Padahal, dalam tradisi Jawa, ada falsafah lama yang sesungguhnya bisa menjadi kompas, yaitu sangkan paraning dumadi.

Falsafah ini memandang hidup sebagai sebuah perjalanan utuh: dari asal-usul, melalui proses panjang, hingga menuju tujuan akhir. Sangkan berarti dari mana kita berasal, paran adalah perjalanan yang harus dijalani, sementara dumadi adalah ke mana akhirnya kita kembali.

Ilustrasi gen z. Foto: THICHA SATAPITANON/Shutterstock

Dalam bahasa sederhana, ia mengingatkan kita bahwa hidup bukan kebetulan, melainkan rangkaian yang harus disadari. Seperti ditulis Franz Magnis-Suseno (1997) dan Niels Mulder (1989), bahwa pandangan hidup Jawa menekankan kesadaran eksistensial bahwa manusia selalu terkait dengan asal-usul dan tujuan akhirnya.

Bagi Gen Z dan Gen Alpha, kesadaran akan sangkan berarti berani menoleh ke belakang, mengenali akar dan warisan yang membentuk kita. Gen Z (lahir pertengahan 1990-an—awal 2010-an) tumbuh bersama internet, sedangkan Gen Alpha (lahir setelah 2010) benar-benar lahir di era digital penuh (Prensky, 2001; McCrindle, 2015).

Memahami asal-usul menjadikan kita lebih rendah hati sekaligus percaya diri. Anak muda yang paham dari mana ia datang tidak akan mudah terombang-ambing oleh tren sesaat karena ia punya fondasi. Dalam konteks hari ini, kesadaran itu bisa menjadi tameng dari derasnya arus globalisasi yang sering kali mengikis jati diri.

Perjalanan hidup atau paran adalah ruang ketika nilai-nilai itu diuji. Falsafah Jawa mengajarkan bahwa setiap fase punya makna: masa kecil untuk belajar nilai dasar, remaja untuk menemukan jati diri, masa dewasa untuk berkarya, hingga usia senja untuk merefleksikan perjalanan. Namun di era digital, perjalanan ini sering digantikan dengan rutinitas kosong—bangun tidur lalu kemudian mengamati layar, siang hari menakar kebahagiaan dari jumlah likes, malam hari berupaya tidur dengan membawa kecemasan akan hari esok. Padahal, paran justru menuntut kesadaran penuh: Apakah yang kita lakukan hari ini benar-benar mendekatkan pada hidup yang bermakna?

Pertumbuhan-Konsep (foto: BlackSalmon/istockphoto)

Dalam kebijaksanaan Jawa, ada tiga prinsip yang bisa menjadi pegangan: eling lan waspada atau selalu ingat pada Tuhan dan sadar diri, nrima ing pandum yakni menerima dengan syukur tanpa berhenti berusaha, serta memayu hayuning bawana yang berarti berupaya menjadikan dunia lebih baik. Nilai-nilai ini terasa sederhana, tetapi justru itulah yang dibutuhkan Gen Z dan Gen Alpha. Di tengah tekanan untuk selalu menjadi “yang paling” dalam segalanya, prinsip hidup yang membumi memberi rasa tenang.

Pada akhirnya, perjalanan manusia akan sampai pada dumadi, yaitu tujuan akhir dari kehidupan. Kita semua akan kembali pada Maha Pencipta dan yang benar-benar tertinggal adalah jejak kebaikan yang kita sebarkan. Di sinilah makna hidup diuji. Hidup sementara bukan berarti tak berarti. Justru karena hidup singkat, setiap pilihan menjadi penting. Apakah kita ingin diingat sebagai generasi yang hanya sibuk dengan tren sesaat, atau generasi yang meninggalkan warisan berupa karya, amal, dan nilai yang berguna bagi orang lain?

Nilai ini sesungguhnya sangat relevan dengan kebutuhan anak muda saat ini. Banyak penelitian menunjukkan bahwa Gen Z mengalami tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Mereka hidup dalam banjir informasi, tetapi justru sering merasa kosong.

Falsafah sangkan paraning dumadi bisa menjadi perspektif alternatif. Ia mengajarkan bahwa kecemasan masa depan dapat diredakan dengan menyadari alur besar kehidupan: tahu dari mana kita berasal, menjalani proses dengan sabar, dan menyadari tujuan akhir.

perempuan, masa depan Foto: Shutterstock

Keterhubungan dengan falsafah budi luhur semakin menguatkan. Hidup berbudi luhur berarti ucapan, sikap, dan tindakan kita memberi manfaat; tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain (Djaetun HS, 2023). Inilah yang membuat perjalanan hidup tidak terasa hampa. Di tengah dunia yang mengagungkan individualisme, kebudiluhuran menawarkan keseimbangan: keberhasilan sejati adalah ketika kita juga membawa kebaikan bagi sesama.

Generasi muda mungkin tidak lagi hidup dalam suasana budaya tradisional yang kental dengan ritual, tetapi nilai yang diwariskan tetap hidup. Falsafah sangkan paraning dumadi ini bukan museum, melainkan panduan yang bisa dihidupkan kembali dalam keseharian. Saat bangun tidur, meluangkan lima menit untuk refleksi bisa menjadi cara sederhana mengingat sangkan.

Saat menggunakan media sosial, bertanya pada diri sendiri apakah yang kita unggah membawa manfaat bisa menjadi bentuk menjalani paran dengan sadar. Dan ketika malam tiba, menutup hari dengan evaluasi jujur pada diri sendiri adalah langkah kecil menuju dumadi yang lebih bijak.

Hidup memang hanya sementara, tapi bukan berarti tanpa arti. Dalam ungkapan Jawa disebut, “Urip iku urup”—hidup itu seharusnya memberi terang. Bagi Gen Z dan Gen Alpha, terang itu bisa diwujudkan dengan langkah kecil setiap hari: berani mengenali asal, menjalani perjalanan dengan sadar, dan mempersiapkan tujuan akhir dengan penuh makna. Di tengah dunia yang semakin cepat, falsafah lama ini justru memberi arah: pelan tidak masalah, asalkan tidak kehilangan tujuan.