kumparan
KONTEN PUBLISHER
21 Mei 2018 21:14

Mahasiswa Yogyakarta: Kaji Ulang Gelar 'Bapak Reformasi' Amien Rais

Aliansi yang tergabung dalam lingkar aksi Mahasiswa Indonesia-Yogyakarta menuntut agar gelar kehormatan 'Bapak Reformasi' yang disematkan kepada Amien Rais dikaji ulang.
ADVERTISEMENT
Massa aksi menilai, gelar yang disematkan kepada Ketua Dewan Kehormatan PAN saat ini sudah tak layak lagi. Pasalnya, sepak terjang Amien Rais dinilai mampu memecah-belah bangsa.
"Karena bagi kita sejauh ini, dia (Amien Rais) yang dulu di agung-agungkan kemudian hari ini menjadi salah satu yang bisa dikatakan memprovokasi kegaduhan di bangsa ini," kata Koordinator Aksi, Dipa Nusantara saat menggelar aksi di titik nol kilometer, Senin (21/5/2018).
Menurutnya, dengan sepak terjang Amien Rais seperti saat ini, dari berbagai aktivis ingin mengkaji ulang gelar kehormatan yang tersemat pada dirinya sebagai 'Bapak Reformasi' di Indonesia.
"Sejauh ini yang bisa kita lihat bahwa pak Amien selalu memberikan pernyatan yang cukup kontroversial, baik yang ada di media massa. Dan kemudian men-justice ada beberapa partai dari partai Islam, partai Setan dan lainnya," kata Dipa saat awak media mempertanyakan sikap kegaduhan Amien Rais seperti apa yang dilakukan saat ini.
ADVERTISEMENT
Dipa menjelaskan, sebagai sosok yang menerima gelar kehormatan tersebut sejatinya untuk lebih banyak menjaga dan menyatukan stabilitas terhadap keutuhan NKRI, bukan malah membuat kegaduhan sana-sini.
"Bagi kita pak Amien secara pribadi kami melihatnya dia tidak layak dikategorikan sebagai bapak reformasi," ujarnya.
Ia mengungkapkan, masih banyak pelaku reformasi yang ada saat ini untuk diberikan gelar kehormatan tersebut yang dinilai masih layak dan cukup bijak dalam melihat persoalan bangsa saat ini, ketimbang Amien Rais.
"Termasuk yang tergabung dalam Pena 98, di Jogja juga banyak tokoh-tokoh reformasi yang bisa menjadi motivasi terhadap generasi masa depan," tutup Dipa. (Nadhir Attamimi)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan