kumparan
KONTEN PUBLISHER
17 Januari 2020 19:43

Marak Penangkapan Teroris, Masjid Didorong untuk Tangkal Radikalisme

IMG-20200117-WA0055.jpg
Pendiri Masjid Suciati Saliman, Sleman Yogyakarta Hj. Suciati Saliman Riyanto (tengah) bersama sejumlah tokoh ajak perangi radikalisme dan terorisme. Foto: atx.
Maraknya kasus penangkapan teroris di wilayah tanah air, termasuk Yogyakarta beberapa waktu terakhir membuat sejumlah kalangan merasa prihatin dan khawatir.
ADVERTISEMENT
Sejumlah tokoh dan pemuka agama pun mendorong agar tempat ibadah khususnya masjid-masjid kian berperan untuk memerangi tumbuhnya radikalisme di lingkungannya masing-masing.
“Sudah saatnya masjid-masjid yang ada menjadi tempat yang mampu memberikan dan menyebarkan kedamaian. Bukan sebaliknya, menjadi tempat mengajarkan paham sesat maupun radikal kepada jamaahnnya,” ujar pendiri Masjid Suciati Saliman, Sleman Yogyakarta Hj. Suciati Saliman Riyanto, Jumat (17/1/2020).
Suciati menuturkan, stigma masjid yang kadang dikaitkan sebagai tempat mendoktrin jamaah untuk menjadi ekslusif atau mengarah pemahaman radikal harus dihilangkan.
Menurut Suciati banyak cara yang bisa dilakukan untuk menjaga masjid sebagai tempat ibadah umat Islam agar senantiasa berperan menjaga perdamaian dan memupuk rasa kesatuan.
Misalnya dari pemilihan materi kotbah, ceramah maupun kajian yang diberikan di dalam masjid harus menyejukkan dan sifatnya menjalin kerukunan satu sama lain.
ADVERTISEMENT
“Pihak pengelola masjid juga harus selektif dalam memilih penceramah, bila perlu diberikan diberikan rambu-rambu tentang apa saja materi yang akan diberikan,” katanya.
Suciati mencontohkan, Masjid Suciati Saliman dalam mendatangkan para ustadz untuk mengisi kajian juga mengutamakan prinsip kehati hatian.
"Kalau kami mendatangkan ustadz yang banyak ditolak oleh masyarakat itu malah bikin kami repot sendiri, kami tidak mau seperti itu," ungkap Suciati.
Seperti pengajian yang digelar Masjid Suciati Saliman (17/1), pihaknya sengaja memilih tema "Jalin Ukhuwah Islamiyah Demi Tegaknya NKRI", Tolak Paham Radikalisme, Komunisme, dan Terorisme yang memang ditujukan untuk mengingatkan lagi pentingnya menjaga persatuan.
“Mari ikut berperan menjaga agar tidak muncul lagi bibit terorisme di Indonesia khususnya di wilayah Yogyakarta,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Kasibinturmas Dit Binmas Polda DIY Kompol Handiko Widiyanto menuturkan radikalisme, terorisme, dan terorisme seringkali dalam aksinya tidak menghargai keberagaman dan perbedaan.
"Paham radikal maupun gerakan terorisme tidak akan tumbuh dalam lingkungan aman. Aman tidak bisa tercipta dengan sendirinya tanpa ada peran serta bersama dan kesadaran untuk menciptakannya," katanya.
Ulama kondang Ustadz Hanan Yasir menuturkan bahwa dalam Islam tidak pernah mengajarkan radikalisme apalagi tindak terorisme. Jika ada yang melakukan hal tersebut dengan mengatasnamakan Islam, maka menurutnya itu bukanlah bagian dari Islam dan harus ditanyakan kembali ke Islamannya.
“Justru dalam Islam selalu mengajarkan kedamaian dan jauh dari kekerasan. Jika ada tindak kekerasanan dengan mengatasnamakan Islam, maka itu jelas sudah keluar dari konteks Islam,” katanya. (atx)
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan