kumparan
30 Mei 2019 9:01

Tanda-tanda Ibu Menyusui Harus Stop Berpuasa

Ibu sedang menyusui. Foto: Kumparan.
Tetap berpuasa saat sedang menyusui boleh-boleh saja. Tetapi, para ibu yang menyusui juga harus peka dengan berbagai kondisi yang terkait dengan kesehatan diri sendiri dan bayi. Sayangnya, beberapa ibu menyusui tetap memaksakan diri untuk berpuasa saat kondisinya sedang drop.
ADVERTISEMENT
Berikut adalah kondisi pada ibu dan bayi yang perlu diperhatikan, dan ibu perlu berhenti untuk puasa.
Kondisi Ibu Menyusui
Menyusui di sini tidak selalu diartikan bayi langsung menyusu pada ibu. Tetapi juga bisa ibu memerah susu karena jauh dari anak. Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah perasaan haus sesudah menyusui atau memerah. Selanjutnya, ibu merasa pusing dan lemas walaupun sudah istirahat. Yang terakhir adalah warna urin pekat dan berbau tajam. Jika kondisi ini terjadi pada ibu menyusui yang berpuasa, lebih baik untuk stop puasa terlebih dahulu agar tidak membahayakan kondisi kesehatan.
Kondisi Bayi
Ketika Ibu berpuasa, maka produksi ASI juga akan menurun. Sehingga, bayi juga mendapatkan ASI yang kurang dari pada ketika ibu tidak berpuasa. Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah frekuensi bayi untuk buang air kecil. Jika dalam 24 jam, bayi tidak buang air kecil sebanyak 6 kali, maka ini perlu jadi perhatian bagi para ibu. Selanjutnya, urin bayi yang pekat. Bayi yang kekurangan cairan menunjukkan sejumlah tanda-tanda seperti mulut kering, terlihat lemas, gelisah, rewel, bahkan diare. Jika hal ini muncul, maka sebaiknya Ibu berhenti puasa agar produksi ASI lebih banyak dan tersalurkan pada bayi
ADVERTISEMENT
Lemas, lapar, dan haus adalah kondisi yang pasti dialami oleh orang yang berpuasa yang mungkin bisa menimbulkan perasaan tidak nyaman. Oleh karena itu, beristirahat dan rileks diperlukan oleh ibu menyusui agar hormon oksitosin yang berfungsi untuk mengeluarkan ASI bekerja optimal. Kondisi-kondisi di atas, yang membuat ibu kurang nyaman, membuat kerja hormon oksitosin tidak optimal, hal ini dapat menghambat produksi ASI. (smi/adn)
Foto: adv.
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan