News
·
26 Juli 2021 8:13
·
waktu baca 3 menit

Terpuruk Akibat PPKM Level 3, Pengelola Wisata Goa Pindul Menyerah

Konten ini diproduksi oleh Tugu Jogja
Terpuruk Akibat PPKM Level 3, Pengelola Wisata Goa Pindul Menyerah (602775)
searchPerbesar
Suasana objek wisata Goa Pindul di Gunungkidul sebelum pandemi corona. Foto: istimewa
Pengelola wisata Goa Pindul akhirnya menyerah mengikuti rekan mereka dari Kabupaten Pati Jawa Tengah yang lebih dahulu mengibarkan bendera putih tanda sudah tidak bisa bertahan usai PPKM berlevel.
ADVERTISEMENT
Melalui akun instagram resmi pengelola Goa Pindul, mereka mengungkapkan telah menyerah setelah pemberlakuan PPKM. Sebuah video pendek yang diunggah tanggal 23 Juli 2021 lalu berisi narasi protes dan sindirian akan kondisi yang terjadi.
"Pariwisata berduka, Kami menyerah kawan. Hampir dua tahun kami terpuruk, dan saat ini kami benar-benar menyerah. Ajakan bangkit pariwisata tapi tidak dibarengi solusi. Adakah angin segar untuk kami? Tolong tuan, Beri kami solusi. Jangan beri kami janji yang tidak pasti. Sehat-sehat kawan-kawan Dewabejo Goapindul," begitulah isi dari video tersebut.
Unggahan video dalam @goapindul itupun mendapat komentar dukungan dari warganet. Banyak warganet yang memberikan semangat kepada operator Gua Pindul untuk tetap semangat menghadapi pandemi COVID-19 ini.
Pengelola wisata Goa Pindul 'Dewa Bejo', Arif Sulistyo mengakui jika mereka memang benar-benar menyerah. Mereka tidak mengetahui bagaimana untuk bertahan di tengah kondisi ekonomi dan juga kondisi geografis Gunungkidul
ADVERTISEMENT
"Pelaku wisata Goa Pindul tengah terpuruk. Karena wisata di Goa Pindul Tengah sepi akibat efek PPKM level 3 dan 4. Pemberlakuan PPKM Darurat hingga level 3 dan 4 memiliki efek domino yang cukup banyak," ujarnya, Minggu (25/7/2021).
Sejak PPKM darurat diberlakukan awal Juli 2021 yang lalu dan dilanjutkan dengan PPKM level 3 mengakibatkan ketiadaan pengunjung di objek wisata Gunungkidul termasuk Goa Pindul. Merekapun secara otomatis kehilangan mata pencaharian.
Arif berharap kepada pemerintah untuk mengubah kebijakan setidaknya memberikan relaksasi pada sektor pariwisata. Pemerintah harus memberikan sedikit pelonggaran di industri ini meskipun tetap dengan pengetatan. Misalnya adanya kuota harian yang diberikan kepada sebuah objek wisata.
"Misalnya sehari 50 gitu. Kami mungkin bisa menyiasatinya. Meskipun kecil tetapi Kami tetap bisa menggeliat," tambahnya.
ADVERTISEMENT
Karena ketika mereka menutup semua akses masuk maka secara otomatis industri pariwisata akan mati. Karena sektor pariwisata kini ini menjadi sumber mata pencaharian sebagian besar warga Gunungkidul apalagi saat ini kondisi Gunung Kidul tengah menghadapi musim kemarau.
Menurut Arif pelonggaran tersebut bisa diberikan dengan ketentuan yang cukup ketat diantaranya melaksanakan prokes secara maksimal, menggunakan faceshield, cek suhu dan lain sebagainya. Sehingga industri ini tetap akan menggeliat meskipun hanya kecil.
Selama pandemi COVID-19 berlangsung yaitu sejak tahun 2020 pihaknys hanya satu kali menerima bantuan dari pemerintah yaitu kompensasi terhadap para pelaku wisata. Selain itu juga pernah ada bantuan sembako untuk para pelaku wisata namun hanya satu kali.
"Ada beberapa pemandu yang mengikuti program dengan insentif Rp 600.000 per bulan. Kami harap tidak ada perpanjangan lagi. Kalau diperpanjang, besok kami pasang kain Mori (putih) di pintu masuk," ujarnya.
ADVERTISEMENT
Unggahan video tersebut sengaja mereka buat juga sebagai bentuk dukungan terhadap para pelaku transportasi di Kabupaten Pati Jawa Tengah yang belum lama ini melakukan konvoi dengan mengibarkan bendera putih. Pengelola Gua Pindul merasa senasib dengan para pelaku transportasi di Kabupaten Pati tersebut.
"Salah satunya ada yang jadi mitra kami. Jadi nasibnya sama," tambahnya.