kumparan
23 November 2019 19:21

Trik Memulai Usaha di Era Disrupsi, Ubah Mindset

20191123_110626.jpg
Talkshow bertajuk Dare to Be Inspiring dalam rangka Gamapreneur Expo 2019, Sabtu (23/11/2019). Foto: Dion
Bagi sebagian orang, memulai berwirausaha adalah sesuatu yang menakutkan. Bingung memilih bidang usaha yang akan digeluti, takut gagal, dan takut bangkrut adalah beberapa ketakutan sebelum bertarung. Apalagi di era disrupsi seperti sekarang, kemampuan beradaptasi dengan teknologi menjadi tuntutan. Jika ketakutan-ketakutan itu tidak kunjung diatasi, mimpi untuk berwirausaha tidak akan pernah terwujud.
ADVERTISEMENT
"Saat ini adalah masanya ekonomi digital dan kreatif. Dia yang menguasai teknologi, dia pula yang akan menguasai pasar. Sekarang bukan lagi ikan besar memakan ikan kecil, tetapi ikan cepat yang akan memakan ikan lambat," tutur Arif Fuqihudin, CEO Medup.id, saat talkshow bertajuk Dare to Be Inspiring dalam rangka Gamapreneur Expo 2019, Sabtu (23/11/2019).
Dalam acara yang berlangsung di Gedung PKKH UGM tersebut, Arif mengajak siapa saja untuk tidak takut memulai usaha. Apalagi dengan masuknya era digitalisasi pada saat ini, dapat membantu untuk mengembangkan bisnis berbasis teknologi. Dari teknologi itu, menurutnya, setiap orang dapat menemukan beragam potensi.
"Sekarang kita gencar berbicara revolusi industri 4.0 yang menekankan pada digitalisasi. Di Jepang, mereka sudah mulai berbicara revolusi industri 5.0 yang menggabungkan digitalisasi dan integrasi. Poin terakhir ini bisa digarisbawahi, bahwa integrasi dapat membantu keefektifan pelayanan, juga dalam dunia usaha," papar Arif.
ADVERTISEMENT
Integrasi menjadi hal penting sebagai penunjang untuk menentukan arah kebijakan bisnis yang digeluti. Tentu, tidak mengesampingkan riset-riset secara konvensional, seperti selera pasar, arah pangsa pasar, customer behavior, dan terpenting mengenal secara mendalam produk yang dihasilkan lengkap dengan kelebihan serta kekurangannya.
"Dalam berbisnis di era digital seperti saat ini, data juga menjadi sesuatu yang sangat penting. Jangan mengambil keputusan tanpa data sebagai landasan dan latar belakangnya," ujar I Putu Endra Diputra, General Manager Sales and Digitalization Telkomsel, dalam kesempatan yang sama.
Data juga dapat sebagai sarana evaluasi terhadap kegiatan-kegiatan yang sudah terlaksana. Berbicara mengenai evaluasi, Endra membagikan satu metode yang di dalamnya juga memuat evaluasi sebagai tahapan penting. Metode itu bernama EEK (Eksekusi-Evaluasi-Eksekusi Lagi-Konsisten).
ADVERTISEMENT
"Ketiganya saling terkait. Jangan takut salah karena dari sana kita dapat belajar dan memetik sesuatu. Setelah itu, munculkanlah ide-ide baru, segar, kreatif, segera eksekusi, dan konsisten terhadapnya," kata pria yang kini berdomisili di Surabaya, Jawa Timur tersebut.
Jika membahas tentang konsisten, dosen FEB UGM, Rangga Almahendra, berujar jika seseorang memang sudah berniat diri untuk terjun dalam dunia usaha, maka harus segera bergerak agar terangsang mengeksplorasi hal-hal baru dan menarik yang ditemukannya.
"Langsung eksekusi saja dan temukan konsistensinya. Lihat ke masa depan, jangan terlalu banyak memandang masa lalu. Juga harus menghapus mindset lama," ucap penulis novel 99 Cahaya di Langit Eropa itu.
Mindset yang dimaksud di sini adalah anggapan lama bahwa uang merupakan kewajiban ketika merintis bisnis baru. Menurut Rangga, hal itu sedikit demi sedikit dapat dipatahkan. Adanya teknologi seharusnya dapat membantu penggunanya menemukan dan memulai hal-hal baru.
ADVERTISEMENT
"Sehingga jangan belum apa-apa sudah meminjam bank untuk membuka usaha. Sarana, dalam hal ini teknologi, sudah tersedia. Mulai dari situ. Kunci ada di manusianya, bukan uang. Human capital, bukan finance capital," tegas menantu Amin Rais itu.
"Dan yang penting juga dan jangan lupa, meningkatkan digital skill," imbuh Arif memungkasi. (Dionysius)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan