Lapsus Desa TKI (1); Mayoritas Perempuan, Ada yang Pulang Tinggal Nama

Jernih dan Mendalam Mengabarkan Tentang Malang Raya, Partner Resmi kumparan Start Up 1001 Media Online, Email: redaksi@tugumalang.id
Tulisan dari TUGU MALANG ADMIN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kabupaten Malang, merupakan salah satu ‘lumbung’ penghasil Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Jawa Timur. Tim laporan khusus (lapsus ) tugumalang.id pada rabu (6/2) lalu berkunjung ke Desa Arjowilangun, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, yang terkenal sebagai desa TKI. Ada yang sukses, tapi tak jarang, para pejuang devisa itu pulang tinggal nama. Berikut laporannya. Di balik lipatan bukit serta kelok gunung yang indah, di situlah Desa Arjowilangun, Kabupaten Malang berada. Dari Kota Malang, butuh waktu sekitar satu jam setengah ke tempat ini. Dari total perjalanan tersebut, lima belas menit di antaranya melewati hutan karangkates. Melintasi hutan itu, jika siang hari tidak terlalu berbahaya. Tapi, saat malam hari, cukup mengkhawatirkan karena di hutan itu tidak ada penerangan lampu.
Ketika tiba di desa ini, tidak perlu heran jika banyak rumah yang cukup bagus, tapi tidak berpenghuni. Ya, rumah-rumah itulah, salah satu bukti kesuksesan para pejuang devisa. Kadang, para TKI mengambil cuti panjang, lalu pulang dan membangun rumah. Setelah rumah jadi, dia kembali lagi. Ada pula yang meminta keluarganya mengurus pembangunan rumah, dengan mengirim uang ratusan juta.
Sebelumnya, Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) Republik Indonesia sudah menetapkan dua desa di Kabupaten Malang sebagai desa TKI atau Desa Migran Produktif (Desmigratif) di Kabupaten Malang. Dua desa itu adalah Desa Arjowilangun, Kecamatan Kalipare serta Desa Brongkal, Kecamatan Gondanglegi.
Di Desa Arjowilangun, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, sedikitnya terdapat 600-700-an warga yang memilih untuk bekerja di luar negeri dari total sekitar 13.000 jiwa. Mayoritas adalah perempuan Tenaga Kerja Wanita (TKW).
Hal itu disampaikan oleh petugas Desmigratif Desa Arjowilangun Kecamatan Kalipare, Ririn Dwi Uswatun Hasanah.”Jadi di sini kadang-kadang hanya berjarak satu rumah mereka sama-sama ke luar negeri. Ada juga adiknya, kakaknya atau saudara iparnya yang sama-sama ke luar negeri,” ucap Ririn. ”Kalau data tahun 2018 akhir, jumlahnya berkisar di atas 600 jiwa,” imbuhnya. Ia juga menyebutkan bahwa sekitar 60 persen-nya adalah kaum hawa.
asuk
Perempuan berusia 36 tahun tersebut menyebutkan bahwa negara yang banyak menjadi tujuan para TKI asal Desanya tersebut adalah Hongkong.”Mungkin tujuan Hongkong bisa mencapai 75 persen-nya,” imbuhnya. Jika terdapat sedikitnya 600 TKI dari desa Arjowilangun, sedikitnya 450 jiwa memilih untuk berangkat ke Hongkong dibandingkan dengan negara-negara lainnya seperti Malaysia, Singapura dan Arab Saudi. ”Mungkin karena untuk ke Hongkong itu prosesnya lebih mudah dan cepat,” katanya menduga-duga. Menurutnya, tidak ada batasan usia sebagai syarat juga memudahkan TKI untuk mendaftarkan diri mereka.
Tak hanya itu, dia beralasan bahwa jika tes kesehatan lebih cepat diproses.”Kalau dicek sehat, biasanya tidak perlu ribet dan bisa langsung diproses. Hanya tinggal melengkapi dokumen-dokumen saja,” terangnya.
Selain Hongkong, menurutnya Taiwan juga memiliki hampir kesamaan terkait syarat yang tidak terlalu sukar untuk dipenuhi. Meski begitu, meski terbilang lebih sulit prosesnya, Korea Selatan menjadi negeri favorit kedua para TKI dari Desa Arjwilangun ini. “Karena mungkin gajinya besar. Perbulan mungkin Rp 15 juta,” bebernya.
Ia mengungkapkan bahwa jumlah tersebut bisa meningkat hingga Rp 20 juta perbulan. Jumlah gaji itu dua hingga tiga kali lebih banyak jika dibandingkan dengan Hongkong dan Taiwan yang berkisar Rp 7-8 juta.”Namun ke Korea Selatan sangat sulit, karena ada batasan usia dan harus kursus bahasa terlebih dahulu. Dan itu belum tentu lulus,” terang Ririn.
Ia menuturkan bahwa selain Hongkong, Korea Selatan, dan Taiwan, negara-negara seperti Singapura dan Malaysia tidak terlalu banyak diminati lantaran gaji yang jauh lebih sedikit dibandingkan negara-negara sebelumnya. Yakni di rentang Rp 4-5 juta per bulannya. Sedangkan pekerjaan yang banyak dibutuhkan adalah pembantu rumah tangga untuk negara Hongkong, dan buruh pabrik untuk Korea Selatan dan Taiwan.
Dengan gaji yang lumayan besar itu, terutama jika dibandingkan dengan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Kabupaten Malang yang sebesar Rp 2,7 juta. Ririn melanjutkan, banyak TKI yang sukses, salah satunya buktinya dengan rumah-rumah bagus yang terbangun.
Tapi, ada juga yang pulang tinggal nama. Ini seperti yang dialami oleh Supriatin,26, warga Desa Kalipare, Kecamatan Kalipare. Pertengahan Januari lalu, Supriatin ditemukan gantung diri di tempat dia bekerja di Hongkong.”Penyebab pastinya saya tidak tahu, tapi sebelum bunuh diri dia bertemu dengan pacarnya di Macau,” kata H Syahid SE, Kepala Desa Kalipare, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang.
Keterangan tersebut menurut Syahid, dia dapat dari Pelaksana Lapangan (PL) dari perusahaan yang menaungi Suprihatin. Hanya saja, dia tidak tahu pacarnya tersebut orang mana.”Ketika itu, Supriatin habis perpanjangan kontrak, lalu mengambil cuti untuk bertemu pacarnya di Macau,” pungkasnya. Reporter : Gigih Mazda Editor : Irham Thoriq
