Konten Media Partner

Cacat Bibir Separuh Hingga Buta, Begini Kondisi Piton Peliharaan Tarekot Malang

Tugu Malangverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kondisi terbaru ular piton terlantar peliharaan Taman Rekreasi Kota milik Pemkot Malang usai dirawat tim medis RSHP UB. Foto/RSHP UB.
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi terbaru ular piton terlantar peliharaan Taman Rekreasi Kota milik Pemkot Malang usai dirawat tim medis RSHP UB. Foto/RSHP UB.

MALANG - Kondisi ular piton peliharaan Taman Rekreasi Kota (Tarekot) Malang yang semula terlantar hingga mengalami cacat bibir, kini mulai berangsur membaik. Ini berkat penanganan medis tim medis Rumah Sakit Hewan Pendidikan (RSHP) Universitas Brawijaya.

''Lukanya sudah tidak busuk. Sekarang, ular sudah mulai ada ada tenaganya, sudah tidak mengalami dehidrasi. Tetapi yang disayangkan disini ular sudah buta dikarenakan matanya ikut mengalami infeksi,'' ungkap Garvasilus Privantio Tegar Virgiawan Huler, Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Rabu (9/9).

Pria yang akrab disapa Tio ini mengatakan ular dengan panjang empat meter dan berat 15 kilogram tersebut mengalami infeksi luka parah hingga fraktur pada bagian rahang bawah. Kondisi ini membuat ular yang ditaksir berusia 3 tahun tersebut kehilangan setengah rahang bawahnya.

Ular Piton Tarekot Malang.

Selain itu, kedua mata ular jenis reticulatus phyton ini juga mengalami abses (infeksi bernanah ) hingga mengakibatkan kebutaan pada ular. Hingga saat ini pihaknya terus memantau perkembangan kondisi ular ini sesuai arahan dokter hewan.

''Jadi ini masih awal penanganan. Masih kita lihat dulu perkembangan lukanya, baru jika nanti sudah makin membaik lukanya baru bisa dilakukan operasi,'' jelasnya.

Lebih lanjut, nanti ketika kondisi ular menunjukkan reaksi positif, ada dua opsi ular ini untuk kembali dilepasliarkan atau dirawat teman komunitas. ''Nanti kita lihat lagi kondisi ularnya. Soalnya dia jadi buta dan rahangnya hilang setengah,'' ujarnya miris.

Terpenting, ular dengan julukan Puspo Kacang ini nanti telah disepakati untuk tidak dikembalikan lagi ke Tarekot karena tidak ada jaminan perawatan dan kesehatan pada satwa. Kondisi kandang ular disana memang tidak terurus dengan baik.

''Status kepemilikan ular ini bukan dimiliki oleh RSHP UB, sekarang ular ini sudah diserahkan dan dialihkan ke kita tim penolong. Kita akan lakukan observasi perilakunya dulu, jika memungkinkan untuk dirilis,'' pungkasnya.

Sebelumnya, awal kasus ular terlantar di taman wisata milik Pemkot Malang ini viral di media sosial. Kondisinya sudah parah sejak sebulan silam. Ular langsung dievakuasi Komunitas Reptil Addict Malang.

Dari hasil keterangan petugas, luka itu akibat terlalu seringnya ular menabrak pagar (ram) kandang dari besi. Zikin yang berpengalaman dengan hewan reptil ini mengatakan ular sudah dalam kondisi stres saat dievakuasi. Kerap bersikap defensif kepada setiap apapun yang lewat di sekitar teritorinya. "Saat dievakuasi, ular ini sudah terlihat stress. Galak sekali. Begitu ada yang lewat, dia nyerang sehingga kepalanya terbentur pagar. Saking seringnya, jadi luka,'' paparnya, dihubungi pada Selasa (8/9).

Kondisi luka ini semakin parah karena tidak segera ditangani sehingga menimbulkan infeksi dan pembusukan. Lama pembusukan jika dilihat dari tingkat keparahannya ditaksir Zikin sudah terjadi sejak lama.

''Kasihan, mas. Kayake udah lama itu, sampe busuk. Infeksinya parah ditambah dengan kondisi kandang yang lembab dan kotor. Mulut bawahnya itu sampe hilang seperempat,'' ujarnya ngeri.

Ia bersama teman komunitas reptil yang berdiri sejak 2015 ini sangat menyayangkan atas kurangnya kepedulian petugas dalam menangani satwa di taman wisata milik Pemkot Malang ini. Kandang hewan disana sudah tak layak ditinggali. Bau dan kotor.

''Kalau memang gak mau ngerawat, mbok ya mending dikasih ke temen komunitas biar dirawat. Atau dikembalikan saja ke yang berwenang. Jangan ditelantarkan begitu,'' tegasnya.

Sebagai informasi, Tarekot yang beralamat di Jalan Mojopahit No 1, Kelurahan Kiduldalem, Kota Malang ini mulanya didirikan sebagai sarana rekreasi keluarga murah meriah tanpa harus ke luar kota. Selain kolam renang, juga ada kebun binatang mini. Namun, kini nasib kebun binatang mini ini semakin memprihatinkan. Dari 14 kandang yang ada, kini tersisa 3 ekor kera, 2 ekor landak, kelelawar dan ular. Mereka adalah satwa hasil hibah dari masyarakat. Masing-masingnya tak terurus di dalam kandang yang tidak layak. Bau dan kotor.