Konten Media Partner

Cara Membuat Sosial Media Jadi Indah dan Penuh Toleransi

Tugu Malangverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Direktur Komunikasi Perdana Syndicates, Pangeran Ahmad Nurdin. Foto: tangkapan layar
zoom-in-whitePerbesar
Direktur Komunikasi Perdana Syndicates, Pangeran Ahmad Nurdin. Foto: tangkapan layar

MALANG - Indonesia merupakan salah satu negara yang paling toleran dengan berbagai macam suku, ras, dan budaya menyatu di sini.

Pada zaman digital seperti saat ini, kita bisa berkomunikasi jarak jauh antar daerah satu dengan daerah lainnya sehingga semua bisa terkoneksi dengan baik. Namun, ada pihak-pihak yang menggunakan media sosial sebagai media untuk menyebarkan kebencian dan isu SARA sehingga kita tidak bisa bermedia sosial dengan baik, bahagia, dan indah.

Anggota Komisi I DPR RI, Kresna Dewanata Phrosakh mengatakan bahwa sebagai anak bangsa yang justru melalui keberagaman ini, kita terpilih untuk menjaga hal tersebut. Saat ini, banyak ancaman dari luar maupun dalam negeri untuk mendisintegrasikan negara Indonesia.

Anggota Komisi I DPR RI, Kresna Dewanata Phrosakh. Foto: tangkapan layar

“Media sosial dapat berperan untuk menunjukkan bahwa kekayaan Indonesia sangat luar biasa, baik itu budaya, suku, bahasa. Dengan adanya keberagaman ini kita masih bisa bersatu,” ujarnya dalam Webinar Series: Ngobrol bareng Legislator bertajuk "Sosial Media Indah dan Penuh Toleransi", pada Jumat (01/04/2022).

Dirjen Aptika Kemkominfo, Samuel A Pangerapan BSc menjelaskan bahwa penggunaan internet akan menimbulkan beberapa resiko, seperti penipuan online, hoaks, cyber bullying, dan konten-konten negatif lainnya.

Oleh karena itu, kata dia, penggunaan internet perlu dibantu dengan kapasitas literasi digital yang mumpuni agar masyarakat dapat memanfaatkan dengan produktif, bijak, dan tepat guna.

Dirjen Aptika Kemkominfo, Samuel A Pangerapan BSc. Foto: tangkapan layar

“Peningkatan literasi digital adalah pekerjaan terbesar. Oleh karena itu kami juga tidak bekerja sendiri, diperlukan kolaborasi yang baik agar tidak ada masyarakat yang tertinggal dalam proses percepatan transportasi digital,” tambahnya.

Mengenai media sosial yang indah dan penuh toleransi, Direktur Komunikasi Perdana Syndicates, Pangeran Ahmad Nurdin memaparkan bahwa landscape media sosial di Indonesia sangat masif. Bersasarkan data dari We Are Social pada Februari 2022, Indonesia merupakan salah satu negara yang terbesar untuk internet adoption di wilayah Asia Tenggara. Sedangkan untuk kepemilikan mobile device 96,1 persen orang Indonesia memilikinya. Pengguna media sosial di Indonesia mencapai 191,4 juta orang atau sebanyak 68,9 persen populasi di Indonesia menggunakan media sosial.

Menurut Pangeran, media sosial adalah tempat untuk bebas berpendapat (freedom of expression) tapi kadang kebebasan berpendapat ini menimbulkan masalah.

Kata dia, media sosial merupakan akselerator tanpa batas karena ketika digunakan dengan tepat dapat memajukan pengguna, tapi kalau penggunaannya berlebihan yang terjadi adalah sebaliknya.

“Pengguna media sosial perlu mendiskreditkan pandangan-pandangan yang intoleran. Apabila menemui orang-orang yang intoleran di media sosial, lebih baik untuk unfollow atau unsubscribe. Ikutilah orang-orang yang bertujuan untuk memberikan edukasi dan tidak menyebarkan hate speech. Proses support and balance diperlukan dalam menggunakan media sosial dan toleransi menjadi unsur penting di situ. Seperti slogan “put yourself on the other’s shoes”, mindset semacam itu penting agar kita dapat memahami alasan sesuatu dapat terjadi,” tegas Pangeran.(ads)