Konten Media Partner

Cara Warga Tumpang, Malang, Menyucikan Diri di Candi Kidal

Tugu Malangverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
SIMBOL PENGHORMATAN: Sajian drama tari Garudeya digelar di Candi Kidal. (Foto: Bayu Eka Novanta - Tugumalang.id)
zoom-in-whitePerbesar
SIMBOL PENGHORMATAN: Sajian drama tari Garudeya digelar di Candi Kidal. (Foto: Bayu Eka Novanta - Tugumalang.id)

TUGUMALANG.ID - Relief-relief burung garuda di Candi Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, seakan kembali hidup Minggu (14/7) pagi. Sosok burung legenda yang menjadi simbol Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) itu dengan gagahnya bergerak sembari mengepakkan sayap. Belasan penari latar pun turut mengiringinya.

Seperti itulah gambaran drama tari yang disajikan dalam acara Murwakala Candi Kidal. Sosok Garudeya (Garuda) menjadi tokoh utama dalam tarian musikal tersebut. Diiringi wangi dupa dan iringan suara gamelan, pertunjukan yang disaksikan tak kurang dari seribu pasang mata itu tampak meriah.

ATRAKTIF: Sajian Murwakala Candi Kidal disaksikan tak kurang dari seribu pasang mata. (Foto: Bayu Eka Novanta - Tugumalang.id)

Warga terlihat antusias menyaksikan kisah 'Garudeya' yang membebaskan ibunya dari tragedi perbudakan. Tak hanya mempertontonkan kisah 'Garudeya', gelaran Murwakala Candi Kidal tersebut juga diarahkan untuk menyucikan diri. Para warga dari Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, ikut berbondong-bondong dan mengantre untuk ikut diruwat (mandi) agar kembali disucikan.

Pelaksana acara Murwakala Candi Kidal, Bambang Supomo, menuturkan bila acara ini utamanya adalah untuk menyucikan diri melalui ruwatan. "Salah satunya adalah memotong rambut, itu adalah simbol untuk menghilangkan hal-hal buruk atau kala-kala (dibaca kolo-kolo) yang berada di dalam pikiran,” ujar Bambang sembari menunjukkan jarinya ke pelipis kepalanya.

SUCIKAN DIRI: Kepala Disparbud Kabupaten Malang, Made Arya Wedhantara, (kanan) mengikuti prosesi di Candi Kidal. (Foto: Bayu Eka Novanta - Tugumalang.id)

Dalam salah satu prosesi ruwatan itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang, Made Arya Wedanthara; dan juga Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), Andi M Said turut mengikutinya. Menurut Bambang, tujuan utama dari acara tersebut, yakni agar manusia kembali ke fitrahnya atau kembali ke hal-hal yang baik.

"Jadi itu dilakukan untuk menghilangkan sesuatu yang ada, mungkin hal-hal buruk atau hal yang kurang baik. Maka diawali dengan sesuatu yang baik, yaitu dengan cara diruwat agar dikeluarkan hal-hal yang kurang baik tersebut itu tadi,” bebernya.

Bambang bercerita, alasan panitia memilih toko Garudeya, tak lain untuk mengenang kisah Garuda yang membebaskan ibunya dari kesedihan dan kesengsaraan.

ANTUSIAS: Puluhan warga Desa Rejokidal Kecamatan Tumpang melakukan prosesi penyucian diri. (Foto: Bayu Eka Novanta - Tugumalang.id)

"Kalau tahun kemarin itu supaya hati lebih bagus dan mengenang kembali sejarah Garudaya, dan sekarang ini sejarah Garuda tetap kita munculkan kembali. Hanya saja tahun ini penekanannya lebih kepada murwakala itu tadi,” tuturnya.

SESERAHAN: Berbagai seserahan dilarung warga di sungai desa. (Foto: Bayu Eka Novanta - Tugumalang.id)

Untuk diketahui, Candi Kidal dengan tinggi 12,26 meter itu memang identik dengan cerita Garuda-nya. Candi ini dibangun untuk mengenang Raja Kerajaan Singhasari kedua, yaitu Anusapati.

Memang terdapat beberapa relief Garuda di berbagai sisi candi Kidal. Pertama ada di sisi utara, pada sudut itu, Garuda digambarkan dengan sikap jongkok, kaki kanan ditekuk dengan lutut menumpu pada landasan.

Sedangkan pada sisi timur, Garuda digambarkan dengan sikap yang sama dengan tangan kanan memegang seberkas ikatan. Sementara di sisi selatan, garuda masih digambarkan sama, hanya saja di atas kepalanya ada tiga ekor naga. Konon, di sanalah Presiden Soekarno mendapat inspirasi untuk menunjuk Garuda sebagai simbol Indonesia. (*)

Reporter: Gigih Mazda

Editor: Irham Thoriq

Foto: Bayu Eka Novanta