Cerita Petani Cengkeh di Malang, Tetap Untung Meski Harga Turun

TUGUMALANG.ID-Tidak semua daerah bisa menghasilkan cengkeh. Di Malang saja, hanya ada tiga desa yang terdeteksi memproduksi cengkeh, yakni Desa Pujiarjo, Tambak Asri, dan Sidodadi. Semuanya berada di Kabupaten Malang.
Akhir pekan lalu, tugumalang.id berkunjung ke salah satu penghasil cengkeh, yakni Desa Sidodadi, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang. Desa ini cukup jauh dari Kota Malang, dengan jalan yang berkelok dan jalan yang rusak, butuh waktu tiga jam perjalanan. Perjalanan ini terbilang cukup lama, apalagi jika dibandingkan dengan Malang-Surabaya yang sudah dapat diakses lewat jalan tol, hanya butuh waktu satu jam setengah.
Setibanya di Desa Sidodadi, sore sudah mulai larut. Warga desa terlihat meriung di depan rumah masing-masing. Mereka sedang memetik cengkeh yang habis dipanen dari kebun."Ini daun cengkehnya tidak dibuang, tetap bisa dijual. Cengkehnya bisa dijual, daunnya bisa,” kata Agung, salah seorang petani cengkeh saat ditemui di rumahnya.
Agung mengatakan harga cengkeh cenderung turun sejak tahun lalu. Saat ini 1 kilo cengkeh dibanderol Rp 68.000. Berbeda dengan tahun lalu yang bisa mencapai Rp 100.000-120.000 ribu sekilo.
"Tapi, tetap saja petani untung, karena cengkeh ini sifatnya biaya saat tanam pertama, tahun-tahun selanjutnya tidak perlu modal,” kata Agung yang juga aktivis lingkungan.
Dia melanjutkan, mayoritas warga Sidodadi, Kecamatan Tirtoyudo, cukup makmur karena cengkeh. Tanaman ini merupakan peninggalan nenek moyang mereka yang berada di bukit-bukit yang mengelilingi desa.”Kalau satu hektare, bisa dapat 100-120 juta, tapi itu tetap tergantung kualitas produksi setiap pohon,” ujar Agung.
Agung tidak tahu pasti kapan desa ini memproduksi cengkeh. Tapi yang jelas desa ini sudah ada sejak tahun 1948. Ceritanya, desa ini dijadikan pelarian dan tempat persembunyian para pejuang. "Sedangkan tempat berperangnya di daerah Dampit,” kata Agung. "Ya mungkin sejak itulah, para pejuang menanam cengkeh, karena dari dulu cengkeh ini selalu menghasilkan," jelas Agung.
Bahkan, cengkeh di desa ini sering disebut sebagai ’emas’ milik warga Sidodadi, Kecamatan Tirtoyudho.
Keuntungan menanam cengkeh juga dirasakan oleh Sulastri (46 tahun). Ketika itu, dia sedang memetik cengkeh di depan rumahnya bersama sekitar 5 orang pekerjanya. "Sekarang lumayan murah, yakni 65 ribu, tapi sudah untung," katanya.
Sulastri mempunyai 3 hektare lahan cengkeh. Saban tahun, Sulastri rata-rata mendapatkan untung bersih Rp 200 juta."Itu sudah dipotong biaya buruh dan makan mereka," katanya. Buruh cengkeh di desa ini mendapatkan upah Rp 70.000 perhari.
Cengkeh dari desa Sidodadi ini dijual kepada pengepul. Dari pengepul, lalu dijual ke pabrik rokok yang memproduksi rokok kretek. Menurut Agung, salah satu pabrik yang membeli adalah HM Sampoerna.
Berdasarkan buku Dampak Pengendalian Tembakau Dalam Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya karya Suryadi Radjab, cengkeh sebenarnya tidak hanya berfungsi untuk rokok. Cengkeh juga bermanfaat untuk bumbu masak, karena mengandung perasa pedas. Selain itu, cengkeh bisa meningkatkan produksi asam lambung, menggiatkan gerakan peristaltik saluran pencernaan, menyembuhkan gigi, perut kembung, masuk angin, dan sakit kepala.
Reporter: Irham Thoriq
