Galeri Foto: Tradisi Ojung Suku Tengger pada Puncak Yadnya Karo di Desa Ngadas
ยทwaktu baca 2 menit

MALANG - Warga Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, hari Sabtu (20/8/2022) memperingati Hari Raya Karo, atau Yadnya Karo, Saka Warsa 1944, menurut kalender Suku Tengger. Dari rangkaian acara hari raya, puncak acaranya mereka menggelar tarian Ojung.

Dalam tradisi Hari Raya Karo, penduduk saling mengundang tetangga untuk makan bersama secara bergantian. Sehabis ngroan (undangan makan), dilaksanakan acara ping pitu terakhir.
Warga Desa Ngadas melakukan sadranan atau nyadran (ziarah) ke pemakaman leluhur mereka di tempat pemakaman umum di Desa Ngadas.
Rangkaian acara ditutup dengan atraksi tarian ojung-ojungan. Para penari pria yang bertelanjang dada secara bergantian menyambit lawan dengan menggunakan ujung rotan. Rotan itu berukuran sekitar 1 meter.
Tarian ini bermakna ungkapan rasa syukur karena telah berhasil melaksanakan upacara Yadnya Karo.
Meskipun tarian Ojung mengandung unsur kekerasan dan hanya diikuti lelaki dewasa. Namun ritual tersebut dipercaya untuk mempererat hubungan kekeluargaan.
Ojung justru menjauhkan hal-hal yang memicu pertengkaran antar sesama keturunan Tengger.
Diiringi musik gamelan yang terdiri dari gong dan jidor (seperti tambur,red) bertalu-talu. Secara bergantian, penari pria satu memukul dan yang lain menangkis serangan.
Namun tetap sportif. Tidak boleh melanggar aturan yang ditetapkan. Salah satunya tidak boleh memukul wajah atau bagian membahayakan lainnya.
Foto-foto: Rubianto/Tugumalang
