Konten Media Partner

Galeri Foto: Tradisi Ojung Suku Tengger pada Puncak Yadnya Karo di Desa Ngadas

Tugu Malangverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tradisi Ojung yang digelar dalam puncak Yadnya Karo ke-248 tahun 2022 diminati Pemuda Tengger  di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Sabtu (20/8/2022). Tradisi Ojung merupakan ritual perkelahian antar dua pria dewasa suku Tengger dengan saling menyabetkan rotan untuk mempererat silahturahmi antar warga.foto/Rubianto
zoom-in-whitePerbesar
Tradisi Ojung yang digelar dalam puncak Yadnya Karo ke-248 tahun 2022 diminati Pemuda Tengger di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Sabtu (20/8/2022). Tradisi Ojung merupakan ritual perkelahian antar dua pria dewasa suku Tengger dengan saling menyabetkan rotan untuk mempererat silahturahmi antar warga.foto/Rubianto

MALANG - Warga Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, hari Sabtu (20/8/2022) memperingati Hari Raya Karo, atau Yadnya Karo, Saka Warsa 1944, menurut kalender Suku Tengger. Dari rangkaian acara hari raya, puncak acaranya mereka menggelar tarian Ojung.

Pukulan rotan pemuda Tengger mendarat telak pada punggung lawannya dalam tradisi Ojung yang digelar dalam puncak Yadnya Karo ke-248 tahun 2022 di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Sabtu (20/8/2022). foto/Rubianto
zoom-in-whitePerbesar
Pukulan rotan pemuda Tengger mendarat telak pada punggung lawannya dalam tradisi Ojung yang digelar dalam puncak Yadnya Karo ke-248 tahun 2022 di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Sabtu (20/8/2022). foto/Rubianto

Dalam tradisi Hari Raya Karo, penduduk saling mengundang tetangga untuk makan bersama secara bergantian. Sehabis ngroan (undangan makan), dilaksanakan acara ping pitu terakhir.

Seorang penari Ojung mencoba mengelak sambitan rotan dari penari pria lainnya. foto/Rubianto

Warga Desa Ngadas melakukan sadranan atau nyadran (ziarah) ke pemakaman leluhur mereka di tempat pemakaman umum di Desa Ngadas.

Sebelum melakukan sambitan bergantian, mereka menari dengan mengangkat rotan yang mereka pegang. foto/Rubianto

Rangkaian acara ditutup dengan atraksi tarian ojung-ojungan. Para penari pria yang bertelanjang dada secara bergantian menyambit lawan dengan menggunakan ujung rotan. Rotan itu berukuran sekitar 1 meter.

Dua pemuda Bersiap melakukan tarian Ojung. foto/Rubianto

Tarian ini bermakna ungkapan rasa syukur karena telah berhasil melaksanakan upacara Yadnya Karo.

Pemain musik gong mengiringi penari ojung. foto/Rubianto

Meskipun tarian Ojung mengandung unsur kekerasan dan hanya diikuti lelaki dewasa. Namun ritual tersebut dipercaya untuk mempererat hubungan kekeluargaan.

Dua warga Desa Ngadas saat memilih rotan yang akan dipakainya untuk ikut permainan Ojung. foto/Rubianto

Ojung justru menjauhkan hal-hal yang memicu pertengkaran antar sesama keturunan Tengger.

Menyambit dengan jarak dekat. foto/Rubianto

Diiringi musik gamelan yang terdiri dari gong dan jidor (seperti tambur,red) bertalu-talu. Secara bergantian, penari pria satu memukul dan yang lain menangkis serangan.

Salah seorang warga memilih rotan yang akan dipakainya untuk permainan Ojung. foto/Rubianto

Namun tetap sportif. Tidak boleh melanggar aturan yang ditetapkan. Salah satunya tidak boleh memukul wajah atau bagian membahayakan lainnya.

Warga Suku Tengger berkerumun menyaksikan tradisi Ojung yang digelar dalam puncak Yadnya Karo ke-248 tahun 2022 di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Sabtu (20/8/2022).
Bekas sabetan rotan di punggung pemuda Tengger usai mengikuti tradisi Ojung yang digelar dalam puncak Yadnya Karo ke-248 tahun 2022 di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Sabtu (20/8/2022).

Foto-foto: Rubianto/Tugumalang