Ikut Konsorsium PT Dunia, Ma Chung Bantu Pecahkan Masalah Limbah Makanan

Konten Media Partner
24 Maret 2021 19:40
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Ikut Konsorsium PT Dunia, Ma Chung Bantu Pecahkan Masalah Limbah Makanan (75553)
zoom-in-whitePerbesar
Universitas Ma Chung, Malang, terlibat dalam konsorsium Perguruan Tinggi Dunia, terkait penanganan masalah limbah makanan. (screenshoot/feni Yusnia).
ADVERTISEMENT
MALANG - Universitas Ma Chung, terus mengepakkan sayapnya di kancah internasional. Pasalnya, kampus ini didapuk untuk turut andil mensukseskan program pengurangan limbah makanan dunia dan mendapatkan dana hibah sebesar 835.400 € dari Uni Eropa.
ADVERTISEMENT
Rektor Ma Chung Assoc. Prof Dr Murpin Josua Sembiring S.E, M.Si,. menyatakan, dalam program ini pihaknya bersinergi dengan 7 kampus lainnya. Seperti Universitas Katolik Parahyangan Indonesia. Lalu, Universiteit Gent Belgia, Tampere University Finlandia, Universitas Bina Nusantara Indonesia, Universitas Prasetiya Mulya Indonesia, Universitas Pembangunan Jaya Indonesia dan Hotelschool The Hague Belanda.
Salah satu program yang akan dijalankan dalam tiga tahun ke depan, yakni Konferensi Internasional bertema "Resolving a Societal Challenge: Interdisciplinary Approach Towards Fostering Collaborative Innovation in Food Waste Management (IN2FOOD).
Program IN2FOOD sendiri, didesain untuk menyiapkan perguruan tinggi sebagai institusi agen perubahan. Sehingga berkontribusi memecahkan masalah limbah makanan.
Nantinya, kelima PT Indonesia itu akan mendapatkan pemutakhiran kurikulum dalam bidang pengelolaan limbah makanan. Sekaligus menerapkan kerja sama lintas disiplin ilmu dalam memupuk kerja sama yang menghasilkan inovasi dalam pemecahan masalah limbah makanan.
ADVERTISEMENT
Sedangkan, 3 institusi Eropa lainnya akan memberikan transfer ilmu, teknologi, dan pengembangan inovasi.
"Dengan menjadi bagian dari konsorsium ini, Universitas Ma Chung kembali memberikan bukti nyata komitmennya untuk menjadi perguruan tinggi yang berkontribusi dalam pemecahan masalah nasional dan dunia," tandasnya
Diketahui, pembentukan konsorsium perguruan tinggi dari dua benua ini termasuk hal yang langka.
Berangkat dari kepedulian akan masalah limbah makanan di dunia. Program ini dibuat untuk menguatkan kerjasama dalam membuat inovasi manajemen limbah.
Apalagi, Indonesia menjadi negara ke-4 paling padat penduduk dan negara terbesar kedua yang menghasilkan limbah makanan di dunia.
Untuk itu, konsorsium ini didukung penuh Uni Eropa, baik dalam hal pembiayaan maupun fasilitasi program.
Dengan harapan, dapat mengembangkan pengajaran, aktifitas kokurikuler dan riset inovatif dalam pemecahan masalah limbah makanan, serta program master yang berhubungan dengan isu pengolahan limbah makanan.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020